Bisa kuliah di dua negara memberi pengalaman berhaga
sekali buat saya. Antara kampus saya yang di Belanda dan di Inggris
perbedaan cukup signifikan. Ini memang program double degree yang di dukung
oleh Eramus. Sempat ada keraguan apakah saya mengambil double degree ini atau
tidak. Salah satu pertimbangannya adalah living cost.
Selama di Belanda, Alhamdulillah saya mendapat
beasiswa penuh tuition dan living cost. Jika double degreenya dengan
negara yang masih dalam kawasan Uni Eropa, perbedaam mata uang tidak akan
menjadi masalah. Tetapi program studi saya ini kerjasamanya dengan Inggris yang
bermata uang Ponsterling dan nilai tukar yang jauh lebih tinggi. Tetapi
ada banyak manfaat yang bisa saya ambil dari program ini. Pertama, tidak semua
program studi di dukung oleh Erasmus. Di fakultas saya, hanya untuk program
MIBM dan MIC. Kedua, program ini gratis. Tidak ada biaya tambahan dari kampus
tempat kita mengambil double degree. Kita hanya cukup mempersiapakan biaya
living cost dan visa short study (kurang dari 6 bulan) sebesar 170 Euro (kalau
gk salah, bisa di cek www.gov.uk). Setelah saya hitung hitung, beasiswa saya
masih stabil untuk digunakan beberapa bulan disana. Ketiga, karna sifat nya
double degree jadi ketika lulus akan mendapat dua gelar yaitu MBA dan Msc.
Terakhir dan yang paling penting itu adalah pengalaman yang tidak bisa diganti
dengan uang.
Saya bisa saja nanti ke UK, jalan -jalan dua
minggu, tetapi pengalaman menetap disana, masuk ke kehidupan sosial orang orang
disana tidak akan saya dapat dalam waktu dua minggu. Akhirnya, saya putusakan
saya mengambil program ini. Saat ini saya merasa keputusan saya tepat.
Jangankan mau UK, mengunjungi negara di Eropa saja saya masih belum maximal.
Program studi yang saya ambil di Belanda adalah
Master of International Business and Management berbasis MBA atau apllied
science. Sedangkan program studi yang saya ambil di Inggris adalah Msc
International Business and Management.
Kembali ke judul, ada beberapa perbedaan suasana
kuliah yang saya rasakan di Inggris dan Belanda. Pertama, karna di Belanda
program studi saya berbasis applied science, sehingga tugas-tugas lebih banyak
di kerjakan berkelompok, membahas kasus bahkan kita juga melakukan company
visit. Hampir seluruh mata kuliah memiliki porsi terbesar adalah tugas kelompok. Hanya
beberapa tugas yang benar benar individu, salah satunya mata kuliah
International Supply Chain.
Kondisi memang agak menjadi berat buat saya,
terebih ada 3 mata kuliah yaitu International Business Project 1, 2, Business
Research dan International Strategic Management yang anggota kelompok nya sama.
Padahal dengan kelompok tersebut komunikasi kami kurang bagus. Tidak ada satu
pun tugas kelompok yang kami lulus di kesempatan pertama semuanya pasti resit.
Selain itu kontribusi tugas kelompok tersebut up to 80 % dari total
nilai, tugas untuk Business Research Methodology malah 100 %. Sedangkan
yang terendah adalah tugas kelompok untuk ISM (International Strategy
Management) sebesar 40 persen. Alhasil IPK saya di semester pertama
pas buat lulus aja selama di Belanda. Apalagi saat itu adalah tahun tahun
pertama. Saya tidak hanya beradaptasi dengan kelompok tapi juga dengan suasana
dan sistem perkuliahan
Nah, selama di UK program International Business
nya berbasis Sains. Kita lebih banyak membaca jurnal dari pada membahas kasus
kasus berkelompok. Kalaupun ada tugas kelompok maka tidak akan masuk penilaian.
Mata kulian Enteprenuership yang di kerjakan secara berkelompokpun, dimana kita
membuat sebuha proyek, penilaiannya pun tetap di lakukan individu.
Perbedaan berikutnya adalah suasana kelas. Di
Belanda, satu angkatan program studi saya terdiri dari dua kelas dan selama
satu priode itu temannya gk akan ganti ganti. Sedangkan di UK kelas nya di bagi
dua yaitu kelas seminar dan lecture. Kelas seminar adalah kelas besar, bisa
terdiri dari 150 orang. Dihadiri oleh student dari berbagai program studi yang
memiliki mata kuliah yang sama. Misalnya jurusan MBA, ada mata kuliah finance
dan jurusan International business ada mata kuliah finance maka student dari
dua program studi ini bisa bertemu dalam satu seminar. Sedangkan lecture
kelasnya lebih kecil, maximal 25 orang. Jadi satu mata kuliah kita akan
memiliki satu seminar dan satu kelas lecture.
Di Belanda, saya bertemu teman yang sama dalam
setiap mata kuliah dan block. Sehingga sehari hari kita akrab, dosen dosen pun
umumnya hafal nama-nama kita. Jumlah student di program studi saya kira kira 35
orang yang di bagi dua kela. Sedangkan di Inggris, teman saya lebih beragam.
Nationalitynya pun lebih beragam. Banyak saya temukan teman-teman dari China,
Afrika, Eu country, middle east, bahkan negara negara amerika latin. Dengar
dengar jumplah nationality nya bisa sampai 100 nationality. Sedangkan di
kelas saya di Belanda, dari 45an student satu angkatan Fakultas MIBM
terdiri dari 27 nationaity.
Suasana kampusnya juga berbeda. Kampus saya di
Inggris, aktivitas aktivitas kemahasiswaan langsung di koordinasi oleh kampus.
Kadang kadang dapat email dari staf kampus untuk berpatisipasi dalam acara
pizza party atau international days bazar atau pemilihan ketua himpunan
mahasiswa yang pengumumannya langsung di portal kampus. Sedangkan di Belanda,
sepertinya aktivitas kemahasiswaan lebih banyak di inisiasi oleh student
sendiri. Umumnya cara ngumpul-ngumpul informal. Dengan kata lain, student
student di ARU itu lebih organisatois. Majalah dinding kemahasiswaannya aktif
seperti memberikan info student yang mendapat award di bidang olah raga, jadwal
event kemahasiswaan. Kegiatannya tidak hanya sekedar ngumpul-ngumpul.
Bukti bounding mahasiswa dan pihak kampus juga
terlihat dari ketika ada deadline pengumpulan thesis di resepsionis untuk
mahasiswa tingkat akhir. Untuk memberi dukungan, pihak kampus akan berdiri
didepan resepsionis. Bagi yang sudah megumpulkan akan diberi hadiah, coklat
atau ucapan congratulation.
Gym adalah tempat yang paling pas buat student
melepas stress. Ini salah satu fasilitas kampus di Inggris yang saya pakai
dengan membayar biaya berlangganan yang cukup terjangkau. Kelebihannya adalah,
Gym ini lokasinya berdekatan dengan perpustakaan. Jadi kalau jenuh membaca,
tinggal lari ketempat Gym. Olah raga juga tidak hanya Gym, ada yoga, ada sport
dancing dan ada memanah dan masih banyak yang lainnya.
Oh iya, kampus di Inggris tutupnya sampai jam 12
malam. Sedangka di Belanda, komplek Zernike sendiri sudah tutup
maximal jam 8. Perpustakaan di kampus saya malah hanya sampai jam 7 malam. Jika
ingin sampai bermalam bisa datangi perpusatakaan yang di city center atau ke
Groningen Forum.
OK, Segitu dulu sharing saya tentang suasana kelas
dan kampus ketika saya mengambil double degree. Next, bakal di lanjut.
Groningen, 27 Feb 2018
*Cerah tapi minus 4