[ Thesis Story ] Hari Yang Menegangkan

Dari jam 11.30 hingga saat ini jam 16.00, tiap jeda sekian menit saya cek email kampus. Berdebar debar sekali menunggu kabar apakah saya layak untuk defence atau tidak.

Sebenarnya perasaan ini sudah dari minggu lalu, seminggu setelah saya hand in Thesis. Saya minta doa ayah ibu, bapak dan ibu mertua, mba ana, siapa saja yang saya ceitakan thesis saya minta di doakan. Entahlah menegangkan sekali. Sama menegangkannya dengan menghitung hari inseminasi saya berhasil atau tidak. Tidak hanya menunggu kepastian thesis ini, saya juga harus memastikan jadwal kepulangan, paking barang, jadwal kedatangan Oce yang belum jelas dan rencana konference beliau di Seol yang bikin kepala saya makin sakit karena menyusun jadwal. Belum lagi urusan kantor tentang penempatan pasca sekolah bikin hati semakin berdebar debar.

Semuanya jadi tidak jelas rencananya. Biar waktu saja menjawab satu persatu, mana yang selesai lebih dulu. 

Tadi pagi ada adegan agak lebai sedikit ketika mencuci piring haha. Tiba tiba saya ingat kejadian di tolak beberapa kali responden, pengalaman pertama kali wawancara jam 10 pagi di Enschede. Karna mengejar kereta jam 6 pagi, saya bersepeda jam 5 pagi dari kost. Mana waktu itu winter, bulan Desember dan suhu yang dinginnya luar biasa. Belum lagi kejadian HP yang hilang dan sepeda yang bocor saat membeli merchandise buat responden. Gara-gara sepeda bocor sayapun terpaksa jalan 6 km sambil narik sepeda dari centrum ke kost an. Karena kejadiannya hari minggu, tidak satupun bengkel sepeda yang buka. Mau titip sepeda di rumah teman yang dekat centrum, HP tidak punya.

Nangis nya disitu, kalau juga masih fail. Apa boleh buat. Saya yakin Allah melihat proses. Saya juga berusaha tidak sembarangan mengumpulkan data, validitasnya sangat saya perhatikan. Tapi itulah batas kemampuan. Kalau lulus alhamdulillah, satu beban terselesaikan. Kalapun belum saya benar benar berharap assessornya memberi feedback dan hand in ulang dalam waktu dekat ini, sehingga saya tidak merepotkan pemberi beasiswa, ISD, kantor, keluarga yang semuanya terhalang karna saya.





Daily Notes-15 Maret 2018

Masih dengan suasana deg deg kan menunggu hasil review thesis oleh assessor.

Hari ini suhu udara drop lagi, bahkan besok di prediksi salju. Padahal kuncup kuncup bunga mulai muncul di rumput rumput pertanda semi.

Hari ini saya berpuasa, masih dua hari lagi puasa yang belum saya bayar. In syaa allah akan saya tuntaskan bulan ini. Belakangan saya merasa puasa berat banget. Padahal tahun kemaren, bulan bulan ini saya rajin banget berpuasa di Inggris. Mungkin salah satu motivasinya, persiapan berpuasa 19 jam saat summer. Sedangkan tahun ini saya in syaa allah saya akan berpuasa di Indonesia.

Sangat berkesan puasa 19 jam tahun lalu. Rasanya lebih khusuk. Seringnya, setelah sholat tarawih hingga subuh saya malah tidak tidur, karna jaraknya hanya 3 jam. Dengan 3 jam jeda  Isya dan Subuh, malah menjadikan waktu malam kita lebih optimal.

Anyway, hari ini saya di rumah saja. Angin mulai kencang lagi. Saya juga berencana membereskan kerjaan rumah setelah 3 minggu off. Akhirnya saya cuci baju juga. Mulai mengulang-ngulang hafalan. Ya, saya emang masih niewbie dalam hal hafal menghafalan, fokusnya juga langsung buyar kalau ada kesibukan sedikit. Hari ini baru sampai q.s Albaqarah aya 61. Sebelum balik ke Indonesia, saya berharap manajemenya saya lebih bangus sehingga bisa tamat 1 juz (Tipsnya, perminggu hafal 2 halaman). Wahh,  kalau tercapai, bahagianya beda, akan menjadi hal yang paling berkesan saya bawa dari Belanda

Oh ya, hari ini saya dapat email dari Accelerator Kinara. Bahwa profil usaha saya masuk ke seleksi tahap akhir. Tapi ketika mengisis formulir untuk seleksi tahap akhir ini, saya jadi pesimis. Karna sudah ditanya revenue, jumlah karyawan. Padahal kan revenue saya belum stabil. Apalagi satu tahun ini, produknya malah saya titip di hotel hotel karan sekolah. Tapi saya isi sejujurnya. Toh, saya gk berharap mendapat investor. Yang saya harapkan lolos program ini adalah mendapat teman dan membuka wawasan. Terkadang saya orangnya suka gk percaya diri. Saya membayangkan jika satu mentor dengan orang orang di bidang yang sama, sepertinya bisa menaikan kepercayaan diri berkali kai lipat.

Hari ini saya mulai menghitung waktu sebelum balik ke Indo. Tidak terasa sudah hampir  lebih 1,5 tahun disini. Sebentar lagi pulang. Walaupun hanya tinggal beberapa bulan, saya ingin memanfaatkan waktu sebaik baiknya. Bayangkan jika ada orang yang di berikan waktu singkat ke Belanda misalnya sebulan. Pasti dia senang banget dan dalam 1 bulan itu akan berusaha menjelajah Belanda. Dan saya ingin semangatnya harus demikian, tak masalah waktu yang singkat tapi bermakna.

Besok, in syaa allah saya mau hunting foto foto lagi ahh.


Groningen, 15 Maret 2018


*Dengan angin berkecepatan 25 km/jam

[ Usaha Mungil ] Warung pinggir jalan


Pertanyaan ini pernah mengusik rasa ingin tahu saya sejak pertama kali melihat negara maju, sebut saja yang ingin saya bandingkan kali ini adalah Belanda, negara tempat saya menetap sejak hampir satu tahun ini dalam rangka melanjutkan sekolah. Negara ini tata kotanya rapi dan hampir tidak ditemukan pelaku usaha kreatif di pinggir jalan.

 Di Indonesia hampir disetiap jalan raya di temukan toko toko kecil. Bahkan, garasi dan halaman kosongpun bisa di sulap menjadi tempat usaha. Saya memang belum melakukan penelusuran secara jauh, apakah hal ini disebabkan karna di Belanda lapangan usaha sudah cukup sehingga orang-orang tidak berfikir untuk membuat usaha tambahan, atau karna izin usaha yang sulit atau karna menjadi self-employee bukan pilihan karir yang prestisius di Belanda. Tapi ketika saya tanya ke salah satu teman Dutch, dia hanya bilang ‘’ saya takut beli makanan atau apa saja di pinggir jalan, kebersihannya kurang terjaga’’

Yang menarik ketika belanda beku banget sekitar tanggal 3,4,5 Maret kemaren. Orang-orang pada main ice skating. Ini memang moment langka di Belanda. Salju sih in syaa allah ada setiap tahun. Tapi sungai sungai yang membeku dan bisa di gunakan untuk area ice skating tidak terjadi setiap tahun.  Saya membayangkan, kalau di Indonesia, di dekat area dadakan ice skating itu mungkin sudah pada buka lapak dadakan..hahaha..indomie rebus lah, gorengan lah, dll. Tapi ini saya gk menemukannya yang demikian.

Di Indonesia, ada banyak factor mengapa orang-orang membuka usaha sampingan. Ada karna factor kebutuhan hidup , melihat peluang usaha, menyalurkan kreatifitas dan trend yang muncul belakangan di sebagian besar anak muda bahwa menjadi enteprenuer itu keren.  Hal ini bermula dari banyaknya anak-anak muda Indonesia yang memilih terjun ke usaha kreatif atau start up dan berhasil memberikan inspirasi.

Usaha ini dipercepat dengan pertumbuhan pemakain social media yang semakin tinggi di Indoensia. Sehingga bagi anak muda yang memiliki usaha. Media social ini menekan biaya untuk mempromosikan produk atau jasa menjadi lebih murah dan mudah. Bahkan bekerja sama dengan beberapa Selebgram menjadi pilihan yang menarik.

Kalau pertanyaannya, negara mana yang anak mudanya punya jiwa enteprenuership yang tinggi? Ini memang sulit di jawab. Karna indikatornya bukan hanya berani buka ‘’lapak’’. Tapi setidaknya, untuk kebebasan membuka usaha kecil, saya merasa bersyukur di Indonesia. Kita maklum di Belanda jika jarang ditemukan usaha mikro, usaha belum mulai tapi harus pertimbangkan Tax, regulasi lainnya. Di Indonesia, bisa mulai dulu aja, dari kecil kecilan, dari garasi, medsos, dll. Kalau sudah establish baru di fikirkan untuk membetuk badan usaha agar mudahan mendapat akses yang lain.

Segini dulu ya, akan ada lanjutannya.

Groningen, 15 Maret 2018




[ Thesis Story] Thesis Submit !!


Alhamdulillah, hari ini rasanya benar benar lebih lega. Thesis yang mulai saya garap dari September 2017, akhirnya submit. Dua minggu belakangan adalah hari hari yang waktunya nya ingin saya perlambat, karna deadline yang semakin mendekat. Dan selama dua minggu itu saya nyairis tidak pernah masak masakan yang berat. Menu andalan saya adalah: Potong satu kentang + salmon +jamur+ tabur garam merica+ satu sendok minyak kelapa, lalu masuk oven! Sambil menunggu si ikan matang, saya kembali lagi ke laptop. Karna makan Salmon tiap hari juga bosan, akhirnya saya ganti ayam bakar oven. Itupun beli ayam yang sudah di marinade Nazar hehe.

 Oh iya harga Salmon disini cukup affordable. Saya si beli Frozen salmon yang udah di fillet. Disini karna pasar sayur-sayuran gk buka tiap hari jadi semua supermarket pasti jual sejenis ikan yang frozen atau di lemari pendingin, dengan kualitas tidak perlu diragukan. Tapi kalau sejenis ayam atau daging, saya belinya khusus di halal butcher, lalu nyetok di freezer. Kembali ke Salmon, karna cuma ikan dan udang yang bisa di beli dari rumah saya untuk lauk utama karna dekat tokonya, jadi makanan ini jadi sabahat saya hehe. Kalau beli daging harus nyentrum (maksudnya ke centrum atau pusat kota) dulu. Oh iya, disini harga salmon frozennya terjangkau banget. Beli 4 Slices besar besar sekitar 5 Euro. Makan satu slice + 1 buah kentang udah kenyang banget.

Selain makanan yang gk keurus, yang lain juga ikut-ikutan gk keurus. Kamar gk saya vacum, baju gk saya cuci mungkin udah tiga minggu. Untung saja musim dingin, pakai baju gk ribet ribet. Keluar pakai jaket dan syall aja beres, juga gk ada yang lihat bagian baju lapisa dalam di setrika atau enggak. Berikutnya adalah mandi, ahh kalau ini bilang gk ya? Haha, normalnya saya kalau di Indo mandi 2 kali sehari. Sejak di Belanda sekali sehari saja. Kalau musim dingin sekali tiga hari saja. Hehe..bukan saya aja loh. Boleh tanya ke semua student #pembelaan haha. Gk percaya? Waktu pertama kali datang ke Belanda, saya tanya ke landrold (ibu kos) ‘’kalau pagi, kamar mandi akan sering dipakai mulai dari jam berapa”? Lalu beliau bilang dari jam 7 sampai 8.30.  Disini rata rata aktivitas kantor, sekolah, pertokoan mulai jam 9.00.

‘’Oh oke, berarti nanti saya akan mandi jam 6 pagi. Kalau malam, kamar mandi kira kira bakal penuh jam berapa”? saya akan jadwalkan untuk mandi malam.

Dan dia kaget. ‘’Kamu mandi dua kali sehari?’’ “Kamu nanti akan kedinginan”’

Eh benar aja, jangankan musim dingin. Summer aja mandi dua kali sehari tetap aja rasanya dingin, kecuali habis aktivitas berat seperti olah raga. Karena disini summernya juga 18 derajat celcius, belum lagi kalau ada angin yang kecepatan 30 km/jam. Summer yang HQQ disini jarang hehe.

Berikutnya yang kurang dapat perhatian adalah adalah muka. Alhamdulillah, selama disini muka gk bermasalah. Mataharinya gk sekuat di Indonesia. Hanya saja pas musim dingin vaselline dan sejenisnya adalah harus!! Kalau tidak, muka, punggung tangan akan buruntusan dan perih.  Bahkan dulu awal awal tangan saya sampai luka.

Hayuklah kembali ke cerita Thesis lagi..

Setelah kurang tidur, Alhamdulillah bisa submit tepat waktu itu sesuatu banget. Walaupun ini bukan tahap akhir. Masih di periksa oleh Assessor dan inilah tahap yang bikin deg deg kan, tahap berserah sama Allah setelah ikhtiar. Karna kalau tidak lulus, maka harus di ulang tahun ajaran berikutnya.

Hari Ini adalah hari ke-3  sejak thesis di submit dan seharusnya hari maximal Assessor mengambil hard copy thesis yang di Hand-in di front office IBS. Setelah itu mereka akan baca lalu memutuskan apakah layak untuk defence atau tidak. Dengar dengar yang paling deg deng kan itu adalah tahap ini. Defence juga deg deg kan, tapi tingkat kelulusannya lebih tinggi.

Kemaren saat hand in thesis saya ketemu Louisa, staf IBS yang menerima thesis. Lama juga tidak bertemu beliau. Dan seperti biasa, beliau selalu ramah dan senang mengajak saya ngobrol. Selain itu saya juga bertemu teman teman yang juga hand in thesis dengan saya. Wahhh, sudah lama sekali tidak bertemu. Sejak thesis sepertinya pada sibuk di perpus atau di meja belajar masing masing.

Untuk mengisi hari yang deg deg kan ini, saya isi dengan baca buku, meningkatkan bacaan alquran dan mengulang hafalan yang masih sedikit ini. Kemaren sempat terabaikan, sholat yang rasanya terburu buru, bacaan quran yang gk stabil tiap hari serta hafalan alquran yang jalan di tempat di tiap minggu. Ternyata saya harus belajar lebih professional mengolah waktu. Dan terkadang kita memang butuh rehat sejenak dari hetic, rusuh,rempong aktivitas harian untuk intropeksi diri.

Groningen, 15 Maret 2018

*Sunny