[Daily Notes] 8 January 2017 : Teman Satu Kost

Hi..
Alhamdulillah, hari ini banyak sekali kebahagian yang di dapat ketika bertemu banyak orang..
Mulai dari pagi, saya hadir kajian tafsir dan tahsin di rumah ibu Rochmah dan Pak tatang. Suaminya si Ibu lagi Phd disini, saya ketemu Sofa, Nadia, Zaki, Didin, Hegar, Wahono. Kita baca Alquran, kemudian ngaji tafsir tentang Ilmu Waris, yang di isi pak Tatang. Pak Tatang kerja di Bappenas, jadi anak anak semangat sekali diskusi tentang proyek proyek pemerintah hehe. Untuk kajian tafsir, diisi dengan Q.S Albaqarah ayat 225 dan 226. Banyak membahas tentang keluarga, tentang talak, ilak dan diskusi tentang keluarga dengan pak Tatang yang lebih Senior..hehehe..beliau banyak memberi nasehat ke laki laki hehe.

Nyampai dirumah, saya ketemu Cristine, teman satu kost saya. Selama liburan dia pergi ke Swiss, Paris, Germany dan Belgia. Pulang pulang saya dibuatkan Kopi hihihi dan dilihatin foto foto selama perjalanan. Cristine ini anak nya memang manis sekali. Karena dia tahu saya penyuka Teh, setiap mampir di negara manapun, saya pasti dibawakan aneka teh dari negara tersebut. Cristine juga penyuka kopi dan membeli coffe maker sendiri dan alat yang bisa bikin foam latte. Terkadang dia sweet banget. Cukup sering cristine menawarkan diri untuk membuat saya kopi dengan mesin kopinya. Dan sambil meminum kopi, kita akan saling bertukar cerita.  Yang buat terharu itu adalah, ketika waktu itu itu saya pulang dari kampus jam 7 malam, diluar dingin banget. Baru aja 5 menit nyampai dikamar-sepertinya dia mendengar pintu kamar saya dibuka, beliau langsung mengetuk kamar ''Diani, diluar dingin sekali, apa kamu mau saya buatkan kopi?'' huuh lumerr haha.

Dia juga yang pertama kali ngetuk kamar saya pagi-pagi, sehari saya sampai di Groningen sambil bisik-bisik.

''Hei, apa kamu sudah makan? Kamu bisa makan ini untuk ganjal perut. Tenang ini Vegan''. Dia menyodorkan saya makan Bayi dalam sebuah Jar..hihi. Dia memang menyimpan beberapa makan bayi didalam Jar aneka rasa, buat cemilan. 

Hari itu, sambil minum kopi kita cerita banyak tentang negara masing masing, tentang karir kedepan, tentang keluarga. Setelah 5 bulan disini, baru kali itu kita diskusi selama itu dengan Cristine karna kesibukan tugas-tugas kuliah. Kita hanya bicara terbatas saat saling tukeran makanan, saat dia bikinkan saya cafe latte, saat kita pinjam-meminjam barang. Tapi hari ini kita hampir dua jam bercerita hehehe..she is nice roomate. Penyuka kopi dan teh, juga penyuka shopping hihihi. Oh ya, Cristine tadi juga ngasih saya fish spaghetti hihihi. Cristine kalau masak, cara penyajiannya gk kalah dengan chef professional. Dan umumnya makanannya sehat, banyak sayur, gk overcook, dan pasti gk pakai daging. Dia hanya makan seafood. She is Vegan.

Hari itu saya ngobrol-ngobrol santai dengan Sahide. Yaa..sejak pembicaraan kita yang dari hati kehati itu, komunikasi jadi lebih cair. Saya membantunya membungkuskan kado untuk ponakannya yang berulang tahun. Sahide juga minjamin saya alat buat mengangkat debu untuk pakaian hitam ketika saya bertanya kenapa coat hitam, sudah dicuci berkali-kali debunya tetap tidak hilang. Beliau juga diskusi tentang tumbuh kembang anaknya, dan nyobain saya aneka parfum yang dia koleksi. Enak sekali aromanya. Dan itu juga pembicaraan santai saya yang terlama dengan Sahide.

Tetakhir, saya ketemu Georgia hehehe. Mahasiswa Yunani yang nginap di Studio lantai 1. Biasanya dia kalau cuci kain di ruang washing machine dekat kamar saya dan sambil nunggu mesin cuci selesai berputar kita isi dengan ngobrol-ngobrol santai.

Semakin kesini saya semakin menyadari, membangun komunikasi dengan orang berbeda kebudayaan dengan kita  harus dilatih. Ada orang yang sulit bisa karna personality, stereotype, bahasa dll. Tapi saya ingat betul dengan perkataan seorang pembicara dalam sebuah pelatihan.  Beliau bilang, salah satu tips untuk mudah berteman dengan orang lain itu adalah rendah hati..misal tidak gengsi menyapa duluan, tidak hitung-hitungan memberi bantuan. Ada benarnya, dan semakin kesini semakin saya merasakan kalau kita gengsi menyapa orang, biasanya agak sulit berteman.

Nah itu cerita hari ini, besok mulai masuk kuliah. Akan disibukan banyak tugas. Persiapan Visa dan Packing.



Ditulis di kamar, Saturnuslaan



[ Daily Notes]- 7 January 2017: Salju Pertama

7 Januari 2019, Saturnuslaan

Karna suhu minus tiga hari berturut saya tidak bisa keluar rumah. Paling tahan gowes sepeda hanya 15 menit ke Albeirt Heijn. Dikamarpun terasa pengap, usah bernafas. Karena suhu yang dingin jendela loteng tidak bisa saya buka. 

Seusai sholat subuh, saya langsung buka pintu kamar. Huuh lega banget, sambil menoleh ke Jendala balcon dekat kamar Cristine. Saya tertagget, karena balcon  putih semuaaa...wah ini Saju??? haha. Wahh ternyata salju turun gk ada suara ya..haha. Bukannya malah balik ke kamar karna dingin, saya malah pakai sepatu booth. iseng-iseng ukur kedalaman salju. Ternyata tinggi salju 20 cm. Saya tolehkan muka ke jalanan yang masih gelap, putiiiihh sejauh mata memandang. membeku dan ditutpi salju. Jujur sekali, saya overwhelming hahaha. Baru pertama kali saya melihat salju sebanyak itu.

Akhirnya saya putuskan untuk keluar pagi itu, beli roti. Sekalian lihat lihat jalan yag ditutupi salju. Saat keluar lewat pintu belakang, makin tertaget ternyata salju masuk ke teras yang padahal ada lotengnya. Saya yakin semalam gk hanya salju tapi juga angin.

Bagi orang Belanda mungkin salju begini sudah biasa. Mungkin saya agak sedikit norak kalau foto-foto. Pasti mereka hanya dirumah saja sambil selimutan. Ternyata, what I saw? Banyak anak anak yang main ski, bikin boneka salju dan saling lempar lemparan salju.. Hehehe. Beberapa orang tua juga menemani anak anak bermain dan berfoto foto. Waaaaah, tidak seperti yang saya bayangkan hehe, ternyata justru pas salju anak anak banyak yang kejar-kejaran di pinggir jalan, bikin boneka salju dan main kereta-keretaan salju. Padahal hari biasa jarang melihat mereka keluar rumah. Anak landlord saya yang kecil kecil: Egehan dan Emirhan, juga main di taman bikin boneka salju. Ibunya sudah menyiapkan topi, syall dan hidung untuk si Boneka.

Pagi itu saya beruntung sekali keluar. Saya gk bisa berhenti ngambil foto landscape. Cantiiik sekali.  Sorenya saya lihat saljunya udah mencair, jalanan udah gk totally white lagi. Jadi kalau menikmati salju, bagusnya pagi sebelum matahari. Semoga masih ada moment seperti ini dan tidak pas jam sibuk. Sehingga saya masih bisa foto foto di spot lain. Tidak di taman Saturnuslaan terus hehehe..
Sekarang saya bisa mengerti kenapa salju itu romantis..hehehe. Kesannya putih, tenang dan baper hehehe




Ditulis dikamar, Saturnuslaa, saat suhu minus 2 derajat.

[ Daily Note ] 5 Januari 2016 -Landlord aka Bapak/Ibu Kost



Saturnuslaan
Hari ini saya ingin menulis tentang landlord saya. Dia memiliki tiga orang anak laki laki dan keturunan Belanda Turki. Nah, saya te tiba pengen nulis karna dengar Sahide main dengan dua anak anaknya yang kecil, Egehan dan Emirham terdengar lucuu sekali. Apalagi dengar ketawa Emirham yang masih cadel dengan suara cempreng.

Saya tinggal dirumah ini dari 31 Agustus 16. Dapat informasi rumah ini dari kamernet. Alhamdulillah harganya terjangkau untuk rumah yang berjarak 2 km saja dari kampus. Rumahnya nyaman, bersih banget, toilet bersih, dapur bersih tapi aturannya yang banyak hahaha. Misal ni, gk boleh masak lebih dari 1 jam,  jam 7 malam keatas adalah jam tenang kalau akhir pekan jam tenang di extend sd jam 10 pagi karna si landlord masih tidur, nyuci disarankan weeken atau diatas jam 7 malam karena tarif listrik lebih murah, gk boleh masak nasi dikamar harus di dapur karena uap rice cooker akan merusak plafon. Lalu kalau ada tamu, kami tidak boleh menggunakan dapur. Salah satu teman saya geleng-geleng pas saya ceritakan seabrek peraturan itu. Tapi housing adalah masalah besar digroningen setiap tahun ajaran baru. Seingat saya beberapa sekelas teman ada yang udah sampai di Groningen tapi belum dapat housing juga. Lalu di bantu oleh pihak kampus dengan mencari info kamar yang bisa disewa sementara di rumah-rumah mahasiswa dan dosen. Teman Vietnam saya, Dana, akhirnya di tempatkan di salah satu rumah dosen yang mengajar program S1.

Beberapa hari yang lalu, Sahide kekamar saya untuk memberi sebuah kontainer plastik. Saya kira kotak itu digunakan sebagai penambah space penyimpanan barang ternyata itu digunakan menarok sepatu. Bagi saya si kotak ini kebesaran kalau cuma buat naro sepatu saya yang cuma 2 buah wkwwk. Jadi bersamaan dengan kontainer tersebut, ada sebuah peraturan baru. Bahwa kami anak kost tidak boleh menaro sepatu langsung di lantai. Karena lantai kamarnya akan ada noda. Secara akal sehat, saya juga gk akan naro sepatu kotor dikamar begitu aja. Pasti akan saya alas dengan koran. Dan pasti saya taro di salah satu sudut dekat pintu, gk mungkin di tengah kamar diatas karpet wkww. Saya gk kebayang respon Cristine ketika menerima aturan baru itu :D. Secara Kristine sepatunya di kamar berjejer wwkw.

Seabrek perturan ini dan susahnya buat cari rumah baru yang buat saya "pendiam" dan berbicara secukupnya, menahan diri. Disabar-sabarin karena nanti semester 2, saya kan ke UK.  Disabar-sabarin dengan mengingat-ngingat kapan lagi saya belajar beda karakter, beda budaya, beda bahasa dan langsung bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari saya.

Kemaren malam, Sahide datang lagi ke kamar saya. Auto dong saya curiga peraturan baru apalagi ini hahaha. Tapi hari ini wajahnya beda..wajah simpati

''Diani kenapa saya gk pernah lihat kamu memasak? Kenapa di kamar terus? Kamu bisa makan roti?'' Tanya beliau. Saya surprise beliau bertanya begini. Batin saya ini kesempatan saya untuk berdiskusi langsung haha. Karena beliau Dutch typical, saya coba diskusi juga to the point juga

''Saya tidak bisa memasak sahide, karena setiap hari saya pulang dari kampus jam 6. Jam 7 sudah berlaku jam tenang. Sementara di rumah peraturannya tidak boleh memasak diatas jam 7 dan tidak boleh lebih dari satu jam. Saya pikir, hanya untuk menurunkan bahan dan perlatan masak saya ke  lt.1 udah habis setengah jam sendiri''. ''Jadi saya berusaha berdamai dengan roti, Yoghurt, Kebab, makanan Instan yang bisa saya beli di luar dan katering 3 x seminggu dengan salah satu orang Indonesia'' Ucap saya lugas sambil senyum khas orang Indonesia.

''Kalau begitu kamu bisa informasikan jadwal kuliah kamu ke saya, sehingga saya paham jika kamu terpaksa memasak malam hari'' Ujar Sahide

Lalu saya sebutkan jadwal kuliah saya ini, ini. Saya juga banyak tugas kelompk yang bisa memungkinkan menelpon teman saya untuk berdiskusi. Tapi kemudian saya ucapkan.

''Saya juga mungkin tidak akan akan sempat memasak Sahide, tugas-tugas kuliah saya terlalu banyak'' Lanjut saya

Yang bikin saya suprise ketika beliau mengatakan.

''Saya senang dengan anak kost saya tahun ini. Orangnya  chilly sekali. Bisa diajak kerjasama. Saya pernah terima anak kost yang suka membawa teman-teman nya kemamar dan bikin rumah saya kotor'' Cuma saya, jadi tidak lega menerima bayaran sewa dari kamu, jika tidak nyaman tinggal dirumah ini. Saya tahu, kontrak sewa nya 6 Bulan. Namun jika kamu mau pindah, kamu tidak perlu membayar sisa sewa''

Saya gk menyangka, dibalik sikapnya yang banyak aturan ini-itu ternyata ternyata dia memikirkan juga.

''It OK Sahide, not a big issue"' (Basa basi kita banget kan wkwkw)

''Mungkin karena kita berbeda budaya saja baru saling mengenal. Saya tahu di Belanda, orang berbicara apa adanya. Sedangan kebanyakan orang Indonesia akan berhati-hati berbicara. Dua bulan lagi saya juga akan pindak ke UK. Musim Exam ini, saya akan menghabiskan banyak energi jika memikirkan Housing. Jika kamu tidak  keberatan, saya minta ijin masak nasi di lantai 3 "

Kalau bicara dengan orang Indonesia, saya gk akan mungkin se direct itu :D. Disini buang-buang waktu jika berbicara berputar2 hanya demi menjaga perasaan. Tapi yang saya rasakan, orang-orang di Belanda ini bicara langsung namun tidak kasar ko. Dia berusaha jujur dan jarang PHP wkwkw.

Setelah diskusi itu beliau mulai melunak. Saya diijinkan masak nasi di lt,3 namun di kamar tapi diruang pengering pakain karena atap ruangan ini lebih tinggi, saya dikasih tempat menyimpan bumbu, peralatan masak dan makanan di kulkas. Tapi sayakan tahu diri juga si, saya gk mungkin masak  heboh disini.  Karena belum tentu mereka cocok dengan aroma masakan saya..wkwk. Jadi solusinya, jika saya pengen banget masak masakan Indonesia, maka saya akan saya akan numpang masak tempat Sari dan Indah.

Momen masak bareng adalah momen yang paling menyenangkan buat saya. Karena kesempatan berbagi cerita tentang drama di perkuliahan masing-masing wkwkw.

Gk terasa ternyata saya udah bulan terakhir aja disini. Akhir bulan ini Insyaallah saya ke UK. Ikut exchange, ngambil konsentrasi khusus Digital Marketing and Entrepreneurship. Rencana mau nyewa rumah salah seorang diaspora Indonesia disana. Semoga cocok.

Saturnusalaan

Groningen,Netherland

Minus7


[Daily Note] 4 January 2017: Suhu Minus & Tugas Kelompok

Suhu udara rasanya semakin dingin. Hari ini minus 1 derajat, mungkin realnya 5 derajat. Dikamar aja udah kayak pakai baju keluar, syal, sweater, penutup telinga, selengkap2 nya. Kemaren Cristine ngasih saya kaus kaki tebal dan hangat yang digunakan untuk dirumah. Angin juga semakin kencang. Kira2 35 km/jam kalo cek di aplikasi.

Tapi ini belum separah dibanding saat kita balik dari Delfzil dari rumah Uwak Aisah, tanggal 26 Desember. Anginnya bikin takuut, cek aplikasi waktu itu kec. angin 50 km/jam dan teman teman juga udah mengingatkan red warning. Kalo musim dingin banget otak pun serasa ikut membeku. Mau duduk di meja belajar dingin banget, maunya duduk dikasur sambil kelumunan dengan selimut tebal tapi bukan posisi yang bagus buat belajar.

Target hari kemaren mau selesaikan SCM, gagal total. Mudah2an hari ini SCM dan PDL ada kemajuan, hingga nanti berangkat ke Cambridge gk ada beban. Oh ya,selama semester pertama ini saya merasa kurang dalam membaca. Masih disibukan dengan tugas tugas. Semester depan saya harus lebih getol membaca. Mudah-mudahan juga selama di Inggris tidak banyak tugas kelompok dan tidak disibukan dengan debat debat,sehingga kekurangan waktu untuk membaca. Di satu sisi bagus si banyak berdiskusi, tapi kadang jadi kurang berisi jika kurang membaca. Saya pikir percuma kalo lulus S2 masih sibuk dengan nilai nilai, seharusnya punya banyak waktu lagi buat membaca dan membaca, kemudian di tuliskan.

Saya juga punya ketakutan dengan tugas INB, STM dan BRM karena anggota kelompoknya sama. Entah kenapa kali ini, saya dapat anggota kelompok yang semuanya Asia: Turki, China, Thailand dan Indonesia. Kadang butuh orang India atau Arab biar kelompok ini bukan jadi kelompok yang kalem alias pemalu. Karena tipe kita tipe-tipe jaga perasaan kalau mengungkapkan atau menyanggah sebuah ide. Kalau kalem oke lah ya, tapi kalau sensian...nah ini yang susah. 

Hubungan saya dengan anggota kelompok bisa dibilang kurang tulus haha. Sebenarnya dalam basa-basi informal si asik kita asik aja. Tapi kalo udah menyelesaikan tugas, kita seperti gk pernah sejalan diperparah dengan sifat diem. Sampai tiap hari curhatan saya ke teman, seringnya tentang kelompok saya ini. Apalagi teman saya yang '''teeeet'' yang itung-itungan dalam kontribusi. Masa, tugas 2000 kata di bagi rata masing-masing 500 kata. Ini kan gaya pembagian tugas anak SD. Kalau buat saya kontribusi per kata itu tidak necessarry tapi lebih ke kualitas Ide. Dalam jumlah kata aja saya berdebat terus. Apa iya ya, di negaranya standar kontribusi seseorang dalam kelompok belajar di nilai dari jumlah kata? Dan yang bikin sebel bin sebel lagi, kalau dia udah kontribusi lebih dari jatah kata-kata dia, dia seenaknya koar-koar di kelompok kalau yang paling berkontribusi. Tambah lagi tipikal yang sensian kalau tulisannya kita komen. Menurut saya  most of his idea perlu di roasting lagi. Masih suka ngambil source dari web gk jelas, malah dari Pretzi. Tetapi tetap merasa berkontribusi paling banyak, dari jumlah kata.

Gk terhitung berapa kali kita berdebat. Kesimpulannya selalu saja berbeda dari kesimpulan kita bertiga. Padahal dia laki lo haha. Kalau di Indo mah, laki-laki sama perempuan agak jaim kalau berdebat. Padahal awalnya dia dan Elena adalah teman teman diawal perkuliahan saya. Beli roti dan kopi aja kita bareng. Tapi komunikasi agak sedikit sengit sejak satu kelompok😁. Jujur ni, saat punya kelompok ini baru terasa banget kalau lagi sekolah di luar haha. Disini mainnya langsung. Gk ada istilah setuju2 aja, gk berpastisipasi langsung di kick out. Usulin pendapat? Gk semudah itu di acc haha. Banyak drama perdebatan.

Groningen, 4 Januari 2017
*Habis sahur dan sholat subuh. Kelumunan dalam selimut. Suhu minus 1

Saturnuslaan 19,

Groningen,Netherlan

[ Daily Notes] 1 Jan 17- Kajian Tafsir &Tahsin di Leewenborg

Hari ini udara semakin dingin, rumput-rumput mulai terlihat putih karna freezing, walaupun salju belum turun. Pagi ini saya berniat menghandiri Kajian Tafsir di Lewenborg, tepatnya di Kajuit bersama Indah. Saya kenal karna satu kost an sama Sari dan sedang menyelsaikan S3.

Sebelum pindah ke Planetelaan, kostannya sari Indah ketika baru sampai di Groningen tinggal di Lewenborg. Namun karena alasan jarak ke kampus, beberapa bulan setelah di Lewenborg beliau pindah agar lebih dekat jaraknya dengan kampus.

Dari kostan saya di Jln Saturnuslaah menuju Lewenborg, kira kira berjarak 6 km. Namun sepanjang perjalan menjadi tidak membosankan karena Inda banyak menunjukan sudut tempat yang menarik. Ada danau kardinge, kebun arbey, pohon berbaris, kincir angin, kami orang Indonesia menjadikan Icon nya Kardinge. Belum syah lewat Kardinge jika belum mengambil foto ditempat ini😁. Tempatnya benar benar cantik.


Alhamdulillah bisa tambah saudara baru selama ikut pengajian.Ada Ica yang baru pulang Umroh, ada Sofa dan suaminya Yudhi sebagai tuan rumah, ada Zaki dan Nadia istri nya yang baru nyampai Belanda 3 hari. Trus ada Monik dan Fajar, dengan anaknya 4 tahun yang lucu banget namanya Runa.

Oh ya, Sofa punya kamar kosong yang bisa di sewakan untuk suami istri. Harganya 380/bulan. Insyallah akan saya pertimbangkan, tapi saya baru bisa tempati dan mulai sewanya bulan Mei setelah balik dari Cambridge. Istikharah dulu ahh, kendalanya cuma satu aja, kalo ngampus tiap hari genjot sepeda 7 km lumayan juga hehe. Tapi kalo sekiranya bulan Mei gk ada kelas lagi..cuma fokus skripsi, jarak saya kira bukan issue. Jika jauh ke kampus saya bisa belajar di Groningen Forum.

Mudahan ibu kost saya ini di Kajuit baik hati😁. Bisa bisa agak leluasa memasak, karna di kostan yang sekarang cukup banyak "aturan" seperti masak hanya boleh 1 jam. Jika beliau ada tamu, saya gk bisa masak. Karna dapur nya berdekatan dengan living room.


Goningen, 1 Januari 2017
Dikamar, bergulung selimut


Daily Note -1 Januari 2017 : New Day, New Year!

Desember adalah bulan dimana kota Groningen terlihat romantis. Setiap sudut kota dihiasi dengan lampu hias. Ini adalah musim dingin pertama saya. Ferat dan Sahide, bapak/ibu kost sudah menghidupkan heater dirumah sesuai jadwal.

Siangpun semakin singkat. Setiap kelas pagi saya merasa seolah olah berangkat subuh, pulang kuliah jam 16.00 sudah magrib. Bulan ini saya mulai disibukan mencari perlengkapan musim dingin. Ternyata memakai booth dan kaus kaki khusus itu wajib untuk bisa survive di musim dingin, bukan buat gaya gayaan😁. Memakai sneaker biasa, apalagi jika tidak berbahan kulit maka udara dingin menusuk kekaki.

Di ruangan 3x2,5 ini, saya tiba tiba terbangun mendengar suara petasan, sahut menyahut. Gk berhenti berhenti hingga satu jam. Saya baru ingat New Year, maklum baru mau masuk alam mimpi. Saya si tidak begitu mau bergadang hanya nunggu jam 12 malam untuk menunggu pergantian tahun. Hanya kalau lihat kembang api warna warni saya suka, gk mesti karna perayaan tahun baru. Tapi karna tetap gk bisa tidur,  sayapun kemudian membuka jendela rooftop kamar saya, menjulurkan kepala melawan dingin dan woww memang pancaran cahayanya bagus banget😁.Ternyata perayaan  tahun baru di Belanda, walaupun musim dingin sangat "MAXIMAL😁. 

Hari itu, anak kost yang tidak liburan winter hanya saya. Christine, teman sebelah kamar saya yang berasal dari Chengdu, China sedang menghabiskan waktu ke Jerman-Paris. Sedangkan Gorgia sudah beberapa hari saya tidak berpapasan, mungkin kembali ke Greece, kampung halamannya.

Saya, Sari dan Era baru aja kembali dari Amsterdam mengunjungi beberapa museum beberapa jam yang lalu. Kami berlangganan kartu MuseumKaart, yang free 400 museum setahun dengan biaya berlanggan 59,9 Euro pertahun. Saya rekomendendasikan banget, yang akan menetap di Belanda lebih setahun ini untuk beli kartu ini. Apalagi kalau ditambah langganan OV Chipkaart (kartu transportasi) dengan paket Weekenvrij (gratis weekend) dengan biaya berlanggan 34 euro se bulan. 

Kalau punya dua kartu itu, maka, sekalipun tinggal di ujung Belanda, Groningen, gk akan bosan😁.  Tipnya agar weekend vrij murah, berlanggan beberapa orang, krn untuk subscriber ke dua bayarnya hanya 15 Euro.

Jadi selama punya kartu itu, museum yang saya kunjungi: Rijk Museum, Maurit Huis, Historical Museum, Museum buku, Museum Tas, beberapa musium di Groningen. PR nya adalah menghabiskan jatah 400 itu😁. 

Hari ini, kami juga berniat mengunjungi museum Anna Frank. Namun kali itu museumnya tutup lebih awal krn malamnya ada perayaan tahun baru. Oh ya, tepat malam tahu kereta antar kota hanga beroperasi sampai jam 8 malam, lalu beroperasi lagi jam 01.00 dini hari.

Selamat datang hari baru, ternyata122 hari saya disini,😊.

Groningen, 1 Januari 2017 



[Daily Note] 9 September 2016 : Hari-hari Pertama di Groningen


Seminggu pertama di Groningen, saya disibukan membeli perlengkapan kost. Ada sedikit drama si, koper saya yang besar tinggal waktu connecting pesawat di Kuala Lumpur😁. Modal datang ke Belanda cuma dengan koper kecil yang isinya satu baju ganti dan beberapa makanan. Untuk saja bawa euro sekitar 300 an dari Indo, digunakan untuk bertahan di minggu-minggu pertama.


Karna memang saya rada rada susah baca peta, entah sudah berapa kali saya nyasar di koa ini. Nyasar yang terparah adalah, saya naik bus dengan nomor yang sama saya naiki ketempat tujuan namun ternyata jalur pulangnya tidak mesti lewat jalur yang itu juga. Padahal waktu itu niat saya mau cari sepeda, seharga 5 Euroan, namun akhirnya saya pulang naik taxi dan harus bayar 52-Euroan hehe.

Hari ini saya nyasar lagi. Mau ke Bak ING untuk buka akun Bank. Padahal sebelumnya sudah di tunjukin teman naik bus apa aja, tapi lupa lagi. Sekalipun pakai google map namun disetiap dipersimpangan yang rumit pasti aja membingungkan buat saya.

Hari ini dari jam setengah delapa saya sudah rapi. Padahal bank ING baru buka jam 9. Tapi karna takut nyasar ketempat tujuan, saya beranglat lebih awal. Sampai di bank jam 09.18 dan jam 10.00 saya ke stasiun untuk bertanya cara pembuatan OV Chipkaart personal.

Sekitar jam 10.30, saya menuju arah pulang. Namun keingat buat nyambi ke toko sepeda tempat saya beli pertama kali buat memperbaiki dudukannya. Tetapi guys ke toko sepedanya nyasar lagi😁. Nyasar ini sangat amat parah dan bikin kepala pusing karna saya jadi bolak balik dan kembalinya ke titik sama lagi 😭. Akhirnya saya putuskan menunda untuk memperbaiki sepeda dan bertolak ke Zernike karena ada Welcoming Session dari kampus untuk mahasiswa baru. Alhamdulillah tepat sampai jam 12.00. Dan saya peserta ke dua terakhir yang datang sebelum pintu di tutup hehehe.

Oh ya, hari ini juga hari pertama pekernalan kelas International Business. Hari ini saya berkenalan dengan Ekaterina, bagian akademis yang helpful dan fast responses banget dan selama ini kita komunikasi hanha lewat email aja. Ternyata Ekaterina berdarah rusia.

Waktu saya sampai dipintu, beliau langsung menyapa saya "kamu Diani kan". Ucapnya dengan muka ceria. Cukup mudah mengenal saya, karna seangkatan cuma 1 orang yang pakai hijab😁.

Selama welcoming session saya juga berkenalan dengan Ellena dari Russia, Ailen dari Rumani, Katarina dari Jerman, Dana dari Vietnam, Cesilia dari Cameroon dan Sasya dari China. Ada lagi satu teman dari Vietnam (lupa namanya, hehe,) dan seorang teman dari Brasil.

Oh ya pas makan siang tadi, ada sedikit pengalaman menarik. Saya mengambil cream soup, kelihatan lezat dan creamh. Sempat ragu krim soupnya halal atau tidak tapi sungkan bertanya karna kwatir yang lain merasa saya bebeda. Mungkin karna awal awal, jadi baca situasi😁. Karena lama mengamani cream soup tersebut, tiba tiba seoran dosen berwajah India berkata kepada saya  " Hi, sepertinya kamu tidak bisa makan yang ini, kamu muslim kan?krn ada baconnnya" Sepertinya dia membaca wajah saya😁.

"Makan cream soup ini aja, ini vegan, soup tomat" Ucapnya sambil senyum.
Kemudian saya baru tahu nama dosen itu Anu Manikam, beliau bukan muslim tapi pernah menetap di Malaysia. Beliau dosen yang enak diajak bicara walaupun cuma cit cat saat papasan, walaupun tidak pernah mengajar saya.

Selesai acara, saya nyatai dulu ditaman meluruska kaki dan menikmati segelas kopi. "Wahh kampus ini rapi banget"

Sebelum pulang kerumah, saya mampir dulu ke AH di dekat rumah. E ternyata ketemu si Noor. Student exchange dari Tuki.

*Ditulis tanggal 9 Sep 16
* Ditulis ulang saat nengsi 2WW










Pengalaman Puasa Musim Panas, 19 Jam

Oke Guyss, kembali lagi ke Netherlands Story yaa..hehe. Saya akan tulis segala sesuatu yang masih saya ingat. Harus di buru ni nulis nya guys..wkwkw. Baru setahun ninggalin Belanda saya hampir lupa nama merek Yoghurt kesukaan saya hehe.

Jadi Alhamdulillah, saya bisa sempat merasakan puasa 19 Jam dua kali Ramadhan di Belanda. Tahun terkahir masih sempat puasa disana tapi hanya separoh, sisanya saya sudah For Good ke Indonesia. Yang paling berkesan itu memang puasa summer tahun 2017-puasa musim panas saya pertama kali, newbie dan full hingga lebaran 2017.

Jujur ya se jujurnya ni ya, saya sempat dulu saat masa sok-soknya jadi wanita karier, puasa itu serasa menghambat. Naúzubillah..duhh jangan lagi kembali ke keadaan demikain. 

Sebenarnya alasannya sederhana, saya penyuka sarapan. Sarapan pagi dengan sepoting Roti dan Teh adalah pagi yang membahagiakan buat saya. Tentu dong kalau puasa gk bisa. Habis gitu kebiasaan saya tidur sehabis subuh di bulan puasa membuat berangkat kantor grasa-grasuk jadi tidak menyenangkan. Alasannya waktu tidur saya kurang, seharian udah capek dikantor, kalau gk tidur pagi sekarang, nanti siang saya ngantuk berat. Dan rentetan alasan lainnya, yang sebenarnya itu rayuan syaiton. 

Pokoknya saya waktu itu duniawi banget. Beberapa kali ramadhan, baca quran saya hanya beberapa lembar, setengah Juz pun gk cukup.  Mengakui kalau diri ini banyak lalainya, tapi kok ya kayak sulit kembali. Hubungan saya si sama teman-teman baik, tapi hubungan sama Allah yang gk baik. Padahal Allah udah ngasih rezki bertubi-tubi waktu itu..huhu.

Disadari atau tidak, kesibukan membuat kita tidak mengenal diri sendiri. Kadang butuh waktu istirahat jangan nge-Gas terus. Butuh jujur menilai kekurangan diri sendiri. Jangan biarkan kesalahan kecil menunpuk hinga gk bisa dikendalikan. Dan buat saya pribadi, waktu terbaik untuk "berhenti sejenak'' itu adalah saat Ramadhan.

Sejak setahun sebelum berangkat sekolah, saya menjadikan Ramadhan waktu yang teramat spesial buat saya. Saya gk mau lelah-lelah lagi. Berusaha hemat energi dikantor. Jika pilihannya antara memasak dan baca Alquran saya akan pilih baca alquran dan untuk makanan delivery online aja!😁

Saya gk fokus lagi dengan kelezatan makanan saat berbuka. Yang penting ada teh hangat dan Kurma. Lalu suami gimana? Ternyata suami saya itu lebih suka saya gk grasa-grusuk di dapur haha. Dia lebih hepi kalau menjelang buka itu saya santai, rapi, udah mandi dan rumah gk bau makanan lagi. Ramadhan itupun kami sudah belajar bagi tugas. Kalau saya gk sempat masak air, beliau yang bantuin. Kalau saya gk sempat masak, saya akan beli lauk RM Sederhana lalu ditata sedemikian di meja seolah itu masakan rumahan haha.

Suami saya si senang-senang aja karena restoran padang di bawa kerumah😁. Saat pulang kantor pun, saya gk mau lagi mampir-mampir. Pokoknya sebelum jam pulang kantor segala jenis lauk, ta'jil udah selesai saya order online. Memang si belanja dapur jadi membengkak😁 tapi Alahmdulillahnya pas tarawih badan saya masih segar dan udah gk ngantuk lagi karena kelelahan.

Kembali lagi ya ke pengalaman puasa selama di Belanda. Satu hal yang saya petik dari puasa sebelumnya, ramadhan itu harus dipersiapakan. At least, hati udah dilatih berdecak "wahh puasa bentar lagi ni" istilah lainnya punya awareness. Awareness nya di bangun beberapa bulan menjelang puasa. 

Karna kali ini puasanya 19, saya udah bikin persiapan. Mulai latihan puasa 9 jam, 12 jam, 16 jam..haha. Gk hanya ngelatih durasi waktu si, ngelatih nahan godaan terutama aroma kopi dan roti😁. Selain itu juga latihan managemen belanja dan masak. Gimana caranya supaya gk terlalu sering bolak balik centrum. Mulailah dicicil bahan-bahan yang bisa di freez. Terutama cabe :D.

Kalau ditanya gimana rasanya puasa 19 jam? Jawabnannya nikmat banget😁. Alhamdulillah berjalan lancar dan yang "emejing" itu ya, kok ya saya kuat gk tidur semalam sampai subuh, padal besok nya ada kuliah😁.  Dulunya ni, puasa selalu dijadiin alasan yang bikin badan kurang fresh karena kurang tidur.

Tapi gimana ceritanya gk tidur? Jadi gini, karna malamnya singkat cuma 3 jam saya memilih gk tidur. Saya pilih tidur menjelang buka. Jika berbuka jam 21.30 maka saya akan bangun untuk jam 19 .30. Masih terang si, jadi kayak tidur siang aja haha.

Habis itu baru nyiapkan buka-buka. Setelah sholat magrib,  dulanjutkan ngaji2, dengar ceramah sampai Jam 00:00 untuk selanjutnya sholat Isya + Tarawih. Biasanya baru kelar taraweh itu jam 1an. 

Nah dari jam 1 sd 2 malam, ngaji, baca buku, nyicil thesis, baca terjemahan quran dengar ceramah trus jam 2.30 siap2 sahur lagi. Habis sahur sholat subuh sekitar jam 3 an, baru deh habis itu tidur lagi sampai jam 8 an pagi😁.

Memang si jadwal tidur jadi berubah. Tapi capek gk? Alhamdulillah, enggak sama sekali. Energinya jadi kayak berlipat2. Mungkin sebagian ada yang beranggapan, islam itu gk nyulitin kok. Kalau yang mau ngambil keringanan dengan mengikuti jadwal mekah, silahkan krn ada juga kesepakatan para ulama. Namun setelah beberapa hari menjalankan puasa 19, saya alhamdulillah gk apa2 guys. Apalagi musim panas waktu itu angin cukup kencang, suhu masih 29 derajat cuma siangnya aja agak lama.
Namun selalu ada hikmahnya. Puasa saat summer jadi punya waktu lebih panjang untuk berdoa dalam keadaan berpuasa. Malam hari gk tidurnya juga ada hikmahnya. Dulu iktikaf susah banget, namun ini jadi auto bangun di sepanjang malam Ramadhan😁. Puasa 19 jam benar benar melatih ikhlass. Semakin ikhlas, lillahita'ala semakin ringan.

Saya masih kerasaaaa banget, betapa tenangnya susana dari setelah sholat taraweh menjelang sahur. Muhasabah, baca quran rasanya nancep banget dihati di waktu menjelang subuh apalagi jika dibaca dengan terjemahannya.

Jadi guys, kadang sulit itu karena cuma ngebayangi kalau dilakukan In syaa allah akan terasa lebih mudah. Kayak memcahkan soal cerita matematika atau fisika, yang uraiannya bisa sampai dua paragraf tapi ternyata rumus the King nya singkat aja😁.

Jujur ya, saya kangen banget bisa ngerasain puasa se khusuk itu😁. Katanya si, butuh jeda 10 tahun hingga puasa akan jatuh dimusim yang sama. Jika puasa kali itu bulan akhir Mei-juni 2017, makan durasi puasa selama itu akan terjadi di 2027. Tahun ini In sya allah, akan jatuh di musim semi (April), In syaa allah udaranya lebih sejuk lagi😊

Jakarta, 27 November 2019
*Mengisi 2WW

Berhaji dari Belanda


Well, dari banyak nya hal baik yang terjadi di Belanda, Top of the Topnya adalah dikasih kemudahan oleh Allah berhaji dari Belanda.

Btw, sebenarnya ini cerita dari 3 tahun yang lalu. Karena ditunda-tunda, saya agak lupa beberapa hal  terkait administrasinya. Jika mau mengetahui lebih dalam tentang berangkat haji dari Belanda bisa kulik-kulik dua blog teman saya Monika dan Yossay :D Dijelasin lengkap banget bagaimana persiapan haji dari Belanda.

Bicara tentang Haji bukan hal yang ujuk-ujuk terfikirkan oleh saya setelah sampai di Belanda. Tepat beberapa bulan sebelum berangkat sekolah, saya menyisihkan sebagian tabungan untuk mendaftar haji reguler. Pengennya berangkat segera tapi uang tidak cukup untuk Haji Plus hehe. Galau, uang untuk mendapatkan porsi haji tersebut juga bisa di gunakan buat Umroh. Umroh bisa berangkat langsung namun haji nunggu tahun 2031.

Saya masih ingat ketika memastikan petugas Bank nya berkali-kali ''Benaran kan mba ini bisa di batalkan?'' Kenapa saya tanya begitu? Bukan karna saya tidak yakin, karena saya masih punya harapan gk mesti nunggu tahun 2031, kalau uang cukup untuk berangkat haji plus, saya akan berangkat :D. Bermimpi gk apa-apa kan ya guysss..wkwk.

Gk lama setelah itu saya mendapat pengumuman bahwa lulus seleksi beasiswa. Dan masih sempat lo, saya ngitung-ngitung berapa beasiswa yang bisa saya tabung kalau-kalau ada kesempatan Haji sepulang dari Belanda. Tetiba saya teringat, salah satu Direktur HCM di kantor saya mengatakan bahwa dia berangkat haji dari Australia, saat sekolah S3. Loh, berarti bisa ya kita orang Indonesia berangkat haji dari negeri lain?

Sekitar 4 bulan sampai di Belanda, saya mulai mencari-cari informasi. Saya kemudian menemukan kontak dari Bapak Said Bajubair- salah satu pengurus EuroMuslim di Amsterdam bahwa pendaftaran sudah dibuka dan kuotanya sangat terbatas. Salah satu syaratnya adalah minimal memiliki masa berlaku Resident Permit (Verblijf) 6 bulan saat keberangkatan haji. Alhamdulillah karena masa studi saya 1,5 tahun, terhitung prediksi tanggal keberangkatan haji Verblijf saya masih ada 9 bulan lagi. Nah saya paham jika banyak  teman-teman S2 yang sulit berangkat haji karena Verblijf mereka hanya berlaku 1 tahun. Jika saat itu berangkat hajinya Agutus 2017, maka mahaiswa S2 dengan masa studi 1 tahun masa berlaku Verblijf nya adalah sampai Des 2017. Namun Masa berlalu Verblijf saya adalah sampai Juni 2018.

Syarat berikutnya, jika wanita harus berangkat bersama suami. Ketentuan ini sangat tegas dari pengelola haji EuroMuslim. Saat itu suami saya baru saja menyelesaikan Risetnya di Leiden. Saya baru akan mengurus ijin tinggal suami agar bisa menginduk ke Residen Permit saya. Namun untuk mengurusnya pun tidak sederhana. Formulirnya banyak. Jawaban dari imigrasi Belandanya juga cukup lama. Seingat saya, formulirnya saya masukan Feb 2017, kartu Residen Permit tersebut jadi Juli 2017, tepat beberapa minggu sebelum berangkat haji. Itupun kartunya harus dijemput di kantor Imigrasi di Zwolle.

Karena disibukan dengan tugas kuliah dan persiapan thesis, akhirnya keinginan Haji tersebut tenggelam. Saya semakin pesimis bisa ikut, karena saat itu salah satu kakak ipar saya sedang di rawat di rumah sakit di Bandung. Perawatanya cukup lama. Sampai saat saya menuliskan tulisan ini, kakak ipar saya Alhamdulillah sudah sembuh dari penyakit TBC tulang :) dan sudah kembali melanjutkan studinya yang sempat tertunda.

Saya sempat mengira mungkin saya akan lebaran sendiri di Belanda. Ahh, gk apa-apa. Banyak teman yang gk pulang juga. Dan lebaran di Belanda pasti akan jadi kesan yang sangat mendalam bagi saya. Suasana sederhana tapi mengharukan setelah berjuang puasa di musim panas.

Saya juga gk tega, berlebaran hepi2 di Belanda bersama suami tapi keluarga suami lagi kesulitan. Tapi tidak disangka, seminggu sebelum lebaran suami ngasih kabar bahwa akan lebaran di Belanda. Saya tanya waktu itu, ''Uda Ilek gimana'' lalu si suami menjawab  pengobatannya akan di lanjutkan di Padang. Wahh, saya langsung buka info-info haji lagi. Saya berdoa semoga masih ada Kuota. Saya berdoa semoga tabungan kami cukup. Saya berdoa, semoga bisa berangkat haji lebih cepat dari tahun 2031

Beberapa hari setelah lebaran, saya nanya ke suami, mau berangkat haji gk? Suami dengan kilat jawab ''Hayuuk''. Saya kagetnya luar biasa. Karena suami saya ini kesibukan banyak banget, jadi banyak  ini itunya kalau diajak Umroh. Beliau yang dulu kurang antusias kalau bahasa-bahas Umroh dan Haji langsung menghubungi pak Said Bajuber. Dan qodararullah ada satu pasangan yang udah bayar DP tapi mundur berangkat haji.

Langsung saat itu kami Gercep, bayar DP. Pak Said justru menekankan kami untuk urus administrasi dulu. Seperti Residen Permit dan surat keterangan menikah dari Gementee Belanda. Untuk mengurus surat ini yang agak rumit dan butuh waktu lama, bisa berminggu-minggu. Namun Alhamdulillah ada alternatif kedua yaitu dengan menggunakan passport yang di halaman depannya, ada deklarasi yang di tanda tangani oleh Dubes RI di Belanda bahwa yang bersangkutan adalah istri dari si fulan sebagai bukti kita mahram. Kebetulan banget passport kami waktu memang sudah jatuh tempo :D, kurang dari 6 bulan. Sekalianlah waktu itu bikin passport baru.

Dalam waktu yang singkat itu, suami langsung mengurus Verblijf ke Zwolle. Kami langsung menghitung tabungan. Menukar rupiah ke Euro dengan teman-teman yang kebetulan lagi membutuhkan Euro. Dihitung-hitung mulai bayar DP sampai menyiapkan surat-surat efektif hanya 1 bulan.

Kadang-kadang saat itu saya rasa gk percaya aja hehehe. Padahal baru kemaren saya ngebatin gimana cara ngumpulin uang buat berangkat haji plus. Rasanya, secepat-cepatnya baru bisa 5 tahun. Tapi masyaallah, ini Allah kasih jalan bisa berangkat dengan persiapan kurang dua dari 2 bulan dengan biaya sepertiga Haji Plus. Sebagian teman juga agak sedikit kaget saya dadakan berangkat haji, namun masyaallah mereka membantu saya menyiapkan segala sesuatu mulai obat-obatan, kaus kaki, jilbab, hingga baju. Benar-benar terharu.

Again, jika banyak hal baik yang terjadi saat saya di Belanda maka yang paling manis itu adalah bisa berhaji dari Belanda. Masyaallah..tabarakallah.


25 November 2019
Mengisi 2WW

Catatan Refleksi Galau :D

Dulu awal awal memutuskan sekolah, manusiawi banget jika kadang hati kecil saya berperang. Pengen meng upgrade ilmu karena udah cukup lama terbenam rutinitas namun tersandung dengan pertanyaan yang sering banget mengusik ''apa sih yang mau dikejar?''. Belanda lo? Pesawat kalau direct aja16 jam. Dari keraguan yang tarik ulur itu kemudian saya pahami, jika segala sesuatu terlihat abu-abu maka evaluasi lagi niat. In syaa allah kalau niatnya baik pasti Allah tuntun. Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa esensi dari sebuah aktivitas itu adalah niat.

Si A dan si B bisa aja sama-sama pergi mancing, di hari yang sama, di jam yang sama dan lokasi sungai  yang sama namun siapa diantara keduanya yang lebih diberkahi. Tentu saja yang niat paling baik diantara yang baik. Bisa jadi jadi si A niat nya melakukan hobi, referesing sambil ngobrol ngalor ngidul sama teman. Bisa jadi si B, niatnya mancing agar keluarga bisa dapat makanan yang bergizi dan halal meski dengan uang belanja yang pas pas an. Tentu beda dong yang niatnya mancing sekedar hobi dengan yang niatnya mancing memberi nafkah keluarga. Ilustrasi yang sederhana kan?

Seiring berjalannya waktu, berganti hari dan musim saya meyakini mengambil sekolah keluar negeri adalah keputusan yang tepat. Terkadang kita dibatasi oleh pikiran dan pandangan sebagian orang. Padahal selama disana banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Ada pengalaman indah ketika berpuasa 19 jam, pengalaman bertemu komunitas Indonesia yang sangat semangat untuk belajar agama dengan Uztaz yang terbatas bahkan berjarak 3 jam pun kita kunjungi, pengalaman lebih-hati hati dengan apa yang kita makan, pengalaman sembunyi-sembunyi untuk sholat bahkan gelisah kalau waktu nya udah mepet banget karena cari tempat sholat susah :D. 

Percaya atau enggak, ketika  melihat orang-orang yang berbeda kulit, rambut dan bahasa, hatipun semakin yakin bahwa Allah memang menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Atau ketika melihat salju turun dari langit. Saya yang gk pernah lihat salju jadi terpukau melihat kebesaran-NYA, turun begitu cantik seperti kapas putih dari balik jendela kamar.

Jujur Saya lebih banyak waktu bertafakur justru saat di Belanda. Banyak berserahnya justru saat di Belanda. Kalau ada apa-apa bergantungnya ya cuma sama Allah. Istilahnya saya hanya orang asing yang datang dari tempat beribu ribu km jauhnya dari sini. Padahal selama di Indonesia, karna tahu kampung sendiri jadi banyak ngeyelnya.

Bahkan salah satu pengalaman yang manis sekali buat saya adalah ketika bisa haji dari Belanda.  Sebelumnya saya sudah daftar haji reguler dan dapat kuota untuk tahu 2031. Namun ketika saya tahu pelajar bisa berangkat haji (dengan beberapa ketentuan administrasi), saya jadi semangat menabung Euro demi Euro beasiswa saya. Berhematnya lebih ada tujuan. Alhamdulillah, bisa berangkat haji 14 tahun lebih cepat justru saat di Belanda.

Jadi jangan semudah itu hanyut dengan alasan-alasan yang dibuat-buat diri sendiri atau dibuat-buat orang lain. Selama dapat ijin orang tua, keluarga, go a head! Saya sedih jika ada yang menggunakan alasan negeri kafir. You know why?karena sahabat yang saya kenal baik yang dulu hidupnya HIP-HOP justru dapat hidayah saat di Belanda. Mohon maaf ya, ilmu saya ini sangat cetek kalau di ajak untuk berdebat. Saya juga tidak mau menghakimi pendapat tersebut salah. Kalau ada yang niatnya itu tidak mau menuntut ilmu karena bukan negeri muslim dan niatnya lillahitaála, tidak ada yang salah. Karena hanya kita dan Allah yang tahu isi dalam hati. Apakah kita takut karena Allah atau takut karena anggapan manusia atau suatu kelompok. Namun yang saya sadari, semakin saya jauh berjalan, semakin saya merasa kecil. I am nothing!


Jakarta, 25 November 2019
Mengisi 2WW

Makanan Favorit Ketika Menjelajah :D

Anyway,  disadari atau tidak makanan adalah satu alasan kita kembali kesebuah tempat. Bahkan salah satu tempat yang cukup anti mainstream yang saya kunjungi bagi kebanyakan orang yaitu Timor Leste punya kenangan tersendiri. Jika kembali kesana saya sudah tahu salah satunya yang akan saya tuju yaitu Nasi Biryani di Timor Plaza yang dimasak oleh chef Pakistan dan Sup ikan Bayuwangi. Percaya atau tidak, saya justru menemukan nasi Biryani yang enak itu bukan di negara arab 😁 yaitu di Dili, Timor Leste dan di Nagoya, Jepang. Pernah juga mencoba nasi biryani dari salah satu restoran pakistan di Jalan Jabal Omar dekat Masjidil Haram, namun tetap lebih enak nasi Biryani di Dili dan di Nagoya.

Lucunya lagi, jika Turki identik dengan kebab, saya justru lebih menyukai Kebab Hasret di Groningen😁.  Mungkin karna waktu itu jangkauan jelajah saya hanya sekitar Istanbul dan seputar daerah destinasi turis jadi tidak menemukan warung kebab yang sesuai ekspektasi saya. Bisa saja kebab di warung-warung kecil lebih enak, lebih original. Namanya baru sekali datang kesana, tentu saja andalan nya cuma googling :D.

Lalu kenapa saya suka Kebab di Groningen? karena dagingnya royal haha. Kebab wrap atau yang biasa disebut Durum di Groningen itu terlihat ginuk-ginuk saking padatnya isi sayuran dan dagingnya. Soal rasa, persis kayak Kebab Turki. Hasil baca-baca, ternyata daging kebab yang ada di Belanda kebanyakan import dari Jerman which is di Jerman banyak banget diaspora Turki. Gk hanya di Groningen, di banyak tempat di Belanda kebabnya enak-enak. Saya juga punya tempat langganan beli kebab waktu di Leiden.

Berikut ini makanan apa saja yang pengen bangeeet saya beli jika kembali ketempat tersebut:


1. Belanda:

Makanan favorit saya adalah Kebab, Milsani Greek Yoghurt, Speculaas, Frozen Croissant mini yang di ALDI, steak Babilonia (Halal), ketang goreng Smuller, frozen salmonnya Aldi lalu Alpukat di wingkle centrum Kajuit. Penting banget ya alpukat :D? ya iyalah karena harganya cuma 1 Euro perkilo dan isinya jarang gagal, mirip alpukat menetega😁. Saya gk tahu import dari mana secara kan gk ada pohon alpukat di Belanda :D. 

2. Cambridge

Makanan Favorit saya di Cambride adalah Pepe. Waktu balik ke Belanda sempat-sempatnya saya mikir gimana bawa Pepe ini sampai Groningen padahal koper saya hanya sisa 0,1 Kg :D. Pepe itu sebenarnya sejenis nasi biryani di box tapi enaaaak banget. Perpaduan kari dan daun jeruknya gk ada tandingan. Saya paling senang pesan Pepe yang nasinya agak wet (agak basah), karena rasa karinya makin nendang. Rasa karinya gk yang eneg tapi fresh dan bikin nagih. Ada pedasnya dikit, ada asemnya, ada daun kari/daun jeruk. Nah berhubung ini harganya mahal untuk kantong mahasiwa, saya beli Pepe hanya setelah ujian atau habis tugas-tugas selesai. Hitung-hitung sebagai reward hihi.

3. Mekah

Favorit saya di Mekah adalah Chay Tea yang di jual di tower hotel milenium lantai bawah. Bisa masuk dari pintu yang dekat KFC. Kalau gk salah nama tokonya Sultan. Chay Tea ini favorit karna harganya murah banget dan rasanya enak banget. Kalau gk salah hanya 3 Riyal. Jauh lebih murah dan lebih enak dari pada Chai Tea di Zamzam Tower yang rata2 harganya 6 sd 8 Riyal. 

Beberapa kali terserang Gejala Flu dan radang tenggorokan, alhamdulillah sembuh setelah minum Chay Tea ini. Karena teh ini kaya rempah. Waktu Umroh akhir ramadhan 2019, lepas taraweh dan sambil menunggu qiyamullail adalah waktu favorit saya mimum Chai Tea bersama suami sambil melihat jamaah yang lalu lalang di plataran masjidil haram. What a beautiful view !!

4. Bergen, Norwegia

Anw, selama di Norwey saya gk banyak explore kuliner. Karna udah terpesona dulu sama alamnya. Tapi saya menukan cinammon buns yang enak dekat Bryggen. Usut punya usut ternyata Cinnamon Buns itu makanan khas kota Bergen atau istilahnya disebut Skillingbolle. Wish list awal waktu sampai di Bergen adalah pengen makan Salmon banyak-banyak. Namun selama disana cukup sering hujan sehingga kurang nyaman untuk mengunjungi Fish Marketnya.

5. Munich

Perjalanan Munich-Austria adalah perjalanan dengan pemandangan yang ter wow menurut saya. Melihat pemandangan di buku cerita anak-anak seperti nyata di depan mata. Landscape yang hilly, rumput hijau sepanjang mata memandang dan deretan rumah yang damai banget dengan pekarangan terbuka. Sempat berkata dalam hati, jika dapat rejeki balik ke Munich lagi mungkin akan prefer pakai mobil menyusuri pemandangan yang sangat indah tersebut. 

Tentang kuliner, di stasiun Munich ada tempat jual aneka kue yang pilihannya banyak banget. Sejenis kue-kue fresh oven. Namun beli ini agak tricky karena inikan makanan fresh, tidak ada kemasan yang ada tulisan ingredientnya. Biasanya kalau makanan kemasan kita bisa cek kehalalan melalui kode Emulgator (E) nya. Nah kalau mau beli kue ini, jangan malu malu bertanya  sebelum beli.

Semakin lama tinggal disebuah tempat pasti juga akan banyak menemukan makanan yang enak. Gk mesti warung-warung besar. Kadang makanan yang rasanya masih original justru di warung-warung kecil. Di antara tempat tersebut, waktu yang paling banyak saya habiskan memang di Belanda. Yang saya sebut diatas baru sebagian aja. Apalagi kalau bicara grocery nya, gk akan cukup waktu menulisnya. Kadang lucu aja si, pas awal nyampai di Belanda segala macam makanan Indonesia saya bawa. Namun ketika udah for good di Indonesia, saya rasanya pengen Jastip makanan Belanda :D. Selera bisa beruba.


Jakarta, 24 Nov 19
Mèngisi 2WW