Tampilkan postingan dengan label Though. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Though. Tampilkan semua postingan

S3, Do I need it?

Beberapa bulan yang lalu, saya mulai hunting kembali berbagai informasi terkait pendidikan S3. Sungguh pertanyaan yang menari nari di kepala saya adalah Apakah S3 benar-benar saya butuhkan? Ada suami, ada anak, ada pekerjaan dan keluarga besar yang akan terdampak ketika saya mengambil keputusan ini.

Kadang terfikir, sudah lah..sudah enak begini. Kenapa harus cari cari beban hidup.  Sampai saat inipun saya masih bergulat dengan pemikiran ini. Hari demi hari saya kumpulkan informasi, nasehat nasehat yang relate apakah tepat keputusan saya untuk melanjutkan S3.

Terkadang ada kewatiran saya terjebak dengan perasaan nyaman, sehingga membuat saya tidak mau mengambil tantangan dan lama lama bisa jadi saya menjadi seseorang yang tidak punya endurance lagi.

Lalu saya teringat bahasan Kajian di Riyadusolihin tentang Bab Keikhlasan dan Menghadirkan niat serta Bab keutamaan ilmu yang dulu pernah dibahas dalam acara Kajian saat di Belanda. Sepertinya saya harus kembali membaca buku buku seperti ini. Butuh tambahan ilmu supaya kita tidak berkutat dengan pikiran sendiri. Butuh merenung, butuh menghadirkan niat. Dan terkadang perlu balik ke ilmu dasar setelah menglalang buana membaca ilmu komtemporer, tentang satu pertanyaan apa keutamaan ilmu dan kenapa harus memiliki ilmu?


Semarang, 2 Oktober 2023

Jam 16.00 after closing Q3








Dream Planner


Ngomong-ngomong tentang buku catatan harian..saya pertama kali punya catatan harian itu alias diari alias agenda itu saat kelas dua SMA. Buku tersebut saya beli di Toko buku Sari Anggrek di kota kelahiran saya, Padang. Buku agendanya warna coklat, dibeliin sama kakak saya, uni Deri :D. Sekarang namanya lebih keren ikh..''Dream Planner''. Sampai sekarang buku harian pertama saya itu masih saya simpan. 

Sejujurnya saya pertama kali senang menuliskan note-note harian itu sejak kelas 6 SD. Waktu itu wali kelas saya, meminta muridnya harus membawa buku catatan kecil untuk menuliskan informasi-informasi yang kami dapat dari TV, Majalah, koran. Misalnya nama PM singapore, ibu kota negara ini. kegiatan ASEAN. Tujuannya untuk persiapan ujian akhir kelulusan SD. Tahun 1996, buku sakti kita cuma ada RPUL dan RPAL, belum ada internet apalagi google atau wikipedia. Ahh jangan itu, komputer saja gk tahu bentuknya kayak apa :D.  Jadi dengan menuliskan informasi tersebut di buku catatan kecil, dapat memperkaya pengetahuan kita. Di buku catatan kecil tersebut, wali murid juga meminta kita menuliskan daftar tugas-tugas sekolah kita. 

Buku kecil yang saya bawa kemana-mana itu jangan dibayangkan buku agenda yang lucu-lucu model sekarang. Cuma buku isi 40 yang dibagi dua. Kemudian kita kasih sampul yang 0. Setiap harinya wali kelas akan mengecek buku catatan kecil kita, apa saja tugas yang sudah kita selesaikan dan apa saja informasi umum yang sudah kita catat. Informasi umum yang sudah kita tuliskan akan dijadikan kuis siapa yang bisa pulang duluan :D. Jadi dulu sering banget, wali kelas memberi pertanyaan, lalu siapa yang bisa jawab boleh pulang duluan..hihihi.

Dulu saya hanya menamainya buku kecil. Lama-lama buku kecil itu benar-benar membantu dan membuat saya semangat membaca majalah,koran atau menonton berita di televisi. Tidak hanya sekedar mencatat informasi baru, buku kecil ini juga saya gunakan untuk membuat agenda hari ini, membuat target-target.,mencatat mimpi-mimpi anak kecil waktu itu. Ternyata..buku kecil bagi anak seusia saat itu bisa menjadi tempat refleksi diri, media untuk mempertajam tujuan hidup. Berikut menurut versi saya kenapa sangat direkomendasikan untuk memiliki buku harian/agenda/dream planner:

1. Menyeimbangkan emosi.

Percaya atau tidak, menulis dapat membantu kita menyeimbangkan emosi..Jika hari ini rasa hidup tidak teratur, entah itu bentuknya mageran, sensitif, insecure marah dan sebagainya, coba deh menulis. Buat saya saat menulis membantu kita menemukan diri sendiri yang sebelumnya seolah hilang karna di balut dengan emosi-emosi negatif. Di balut dengan pikiran-pikiran yang tidak penting.

2. Media refleksi dan evaluasi diri

2. Menbantu berfikir lebih terstruktur

3. Membantu melatih konsentrasi

4. Membantu kita menemukan tujuan hidup

5. Membantu artikulasi yang baik, karna saat menulis kita akan terlatih membuat susunan kalimat dengan kata-kata pilihan.

Walaupun sekarang disetiap HP yang dimiliki orang-orang saat ini memiliki Aplikasi untuk note. Buat saya menulis dengan menggunakan buku, tetap saja feel yang diberikan beda. Walaupun Saya beberapa media untuk menuliskan  ""what ís on my mind", entah itu pakai buku, pakai blog atau media sosial seperti IG. Tapi menulis yang the best itu buat saya adalah dibuku, kedua blog hehehe. Sedangkan IG buat saya hanya untuk menyimpan foto denga quote yang terbatas dan terkadang setiap menulisnya mempertimbangkan banyak hal yang bisa membuat curahan pikirin tidak benar-benar orisinil.

Jika Nadhira dan Rania sudah bisa Calistung, hal pertama yang insyaallah yang saya anjurkan untuk mereka miliki adalah dream planner/agenda/buku kecil atau sejenisnya yang  membantu kepribadiannya menjadi lebih baik.

Semarang, 10 Okt 2022


Catatan Refleksi Galau :D

Dulu awal awal memutuskan sekolah, manusiawi banget jika kadang hati kecil saya berperang. Pengen meng upgrade ilmu karena udah cukup lama terbenam rutinitas namun tersandung dengan pertanyaan yang sering banget mengusik ''apa sih yang mau dikejar?''. Belanda lo? Pesawat kalau direct aja16 jam. Dari keraguan yang tarik ulur itu kemudian saya pahami, jika segala sesuatu terlihat abu-abu maka evaluasi lagi niat. In syaa allah kalau niatnya baik pasti Allah tuntun. Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa esensi dari sebuah aktivitas itu adalah niat.

Si A dan si B bisa aja sama-sama pergi mancing, di hari yang sama, di jam yang sama dan lokasi sungai  yang sama namun siapa diantara keduanya yang lebih diberkahi. Tentu saja yang niat paling baik diantara yang baik. Bisa jadi jadi si A niat nya melakukan hobi, referesing sambil ngobrol ngalor ngidul sama teman. Bisa jadi si B, niatnya mancing agar keluarga bisa dapat makanan yang bergizi dan halal meski dengan uang belanja yang pas pas an. Tentu beda dong yang niatnya mancing sekedar hobi dengan yang niatnya mancing memberi nafkah keluarga. Ilustrasi yang sederhana kan?

Seiring berjalannya waktu, berganti hari dan musim saya meyakini mengambil sekolah keluar negeri adalah keputusan yang tepat. Terkadang kita dibatasi oleh pikiran dan pandangan sebagian orang. Padahal selama disana banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Ada pengalaman indah ketika berpuasa 19 jam, pengalaman bertemu komunitas Indonesia yang sangat semangat untuk belajar agama dengan Uztaz yang terbatas bahkan berjarak 3 jam pun kita kunjungi, pengalaman lebih-hati hati dengan apa yang kita makan, pengalaman sembunyi-sembunyi untuk sholat bahkan gelisah kalau waktu nya udah mepet banget karena cari tempat sholat susah :D. 

Percaya atau enggak, ketika  melihat orang-orang yang berbeda kulit, rambut dan bahasa, hatipun semakin yakin bahwa Allah memang menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Atau ketika melihat salju turun dari langit. Saya yang gk pernah lihat salju jadi terpukau melihat kebesaran-NYA, turun begitu cantik seperti kapas putih dari balik jendela kamar.

Jujur Saya lebih banyak waktu bertafakur justru saat di Belanda. Banyak berserahnya justru saat di Belanda. Kalau ada apa-apa bergantungnya ya cuma sama Allah. Istilahnya saya hanya orang asing yang datang dari tempat beribu ribu km jauhnya dari sini. Padahal selama di Indonesia, karna tahu kampung sendiri jadi banyak ngeyelnya.

Bahkan salah satu pengalaman yang manis sekali buat saya adalah ketika bisa haji dari Belanda.  Sebelumnya saya sudah daftar haji reguler dan dapat kuota untuk tahu 2031. Namun ketika saya tahu pelajar bisa berangkat haji (dengan beberapa ketentuan administrasi), saya jadi semangat menabung Euro demi Euro beasiswa saya. Berhematnya lebih ada tujuan. Alhamdulillah, bisa berangkat haji 14 tahun lebih cepat justru saat di Belanda.

Jadi jangan semudah itu hanyut dengan alasan-alasan yang dibuat-buat diri sendiri atau dibuat-buat orang lain. Selama dapat ijin orang tua, keluarga, go a head! Saya sedih jika ada yang menggunakan alasan negeri kafir. You know why?karena sahabat yang saya kenal baik yang dulu hidupnya HIP-HOP justru dapat hidayah saat di Belanda. Mohon maaf ya, ilmu saya ini sangat cetek kalau di ajak untuk berdebat. Saya juga tidak mau menghakimi pendapat tersebut salah. Kalau ada yang niatnya itu tidak mau menuntut ilmu karena bukan negeri muslim dan niatnya lillahitaála, tidak ada yang salah. Karena hanya kita dan Allah yang tahu isi dalam hati. Apakah kita takut karena Allah atau takut karena anggapan manusia atau suatu kelompok. Namun yang saya sadari, semakin saya jauh berjalan, semakin saya merasa kecil. I am nothing!


Jakarta, 25 November 2019
Mengisi 2WW