[ Thesis Story ] Penuh Drama- Malah Curcol


Setelah dibuat agak senang ketika bertemu Patricia tanggal 9 Mei kemaren, kamis tanggal 17 Mei kemaren saya dibuat bingung oleh beliau. Kenapa ucapannya suka berganti ganti?

Minggu yang lalu beliau mengatakan, saya tidak perlu kirim email ke Exam Board. Seminggu setelahnya, saya dapat email dari assisten beliau bahwa keputusannya saya harus mengirim email ke Exam Board.

Yang saya kecewakan, beliau orang yang tidak pernah membalas email dengan alasan kesibukan. Bahkan untuk appointment saja paling cepat dapat waktu dua hari (kata asistennya). Tapi ketika bertemu langsung, beliau malah tidak ingat ucapannya sendiri.

Menurut saya beliau kurang layak menjadi Thesis Koordinator atau Ketua Program. Ketua program sebelumnya, saya malah pernah salah adrress mengirim email, tetapi beliau tetap  balas dan menginformasikan

 '' Untuk urusan ini, kamu bisa diskusikan dengan..Mevrow ini karna saya bla bla..'' Ucap ketua program studi sebelumnya, Marjoleine.

Yang makin bikin mendidih,  kalau hanya ingin memberi tahu '' Sebaiknya saya kirim email ke Exam Board'' kenapa harus tunggu seminggu. Beliau ini lupa kalau sebagian student di Fakultas MIBM rata rata mahasiswa asing yang sangat concern dengan visa study. Lupa kalau mahasiswa disini punya harapan yang tinggi berkualiah disini, biaya kuliah juga tidak main main. Saya yang dapat beasiswa juga harus mempertanggung jawabkan kepada pemberi beasiswa.

Ini menurut pendapat saya pribadi, Patricia ini kurang berorientasi international culture. Kurang solutif. Berbeda sekali dengan ketua program sebelumnya, Marjoleine. Padahal intercultural competence nilai nilai yang paling digadang gadang di program studi saya ini.

Ketika Double Degree, di Anglia Ruskin University (ARU) saya mendapat suatu pembelajaran bagaimana kampus saya harus meningkatkan layanannya kepada mahasiswa. Di ARU saya merasakan, mahasiswa benar benar dianggap sebagai ''Customer''. Padahal saya tidak bayar sama sekali ke ARU, tidak ada biaya tambahan. Murni ikut program double degree Erasmus Plus. Tapi pelayanan yang diberikan ARU tidak ada bedanya dengan mahasiswa yang membayar tuition fee full. Contohnya, mereka memberikan kursus bahasa inggris gratis untuk mahasiswa asing.

Mereka juga punya support system untuk mahasiswa asing yang kesulitan dalam academic writing. Tinggal booking jadwal online, bawa tugas dan akan ada yang membantu membenarkan tulisan kita.
Dosen juga akan membimbing secara detail, setiap tugas kuliah.  Rapi banget sistemnya. Dari awal kita sudah tahu, list assignment apa saja. Bagi mahasiswa yang rajin, tugas tugas dicicil tiap minggu lalu di lihatkan progressnya ke dosen, dosennya welcome sekali dan tidak akan keberatan memberikan masukan. Bahkan kalau ingin waktu diskusi lebih panjang, bisa booking jadwal online. Praktis.

Disini untuk booking jadwal dosen, kadang kadang harus lewat info desk. Apalagi yang status ketua program harus lewat asisten.

Bismillah, menunggu kelanjutannya.


Best Regard


Diani Mardisar




[ Thesis Story ] Pingpong

Ditengah ketidak tahuan apa yang bisa saya lakukan selain menunggu, saya mengayuh sepeda ke kampus. Minimal nanti di kampus saya bisa baca-baca, minum kopi DE atau menyampaikan progress terkini kepada Etelka.

Tiba-tiba saat memarkir sepeda, saya mendengar sebuah sapaan:

''Hi, Diani..'' Ujar nya, dan langsung menoleh ke asal suara tersebut. Ternyata suara Paul, salah satu assessor saya. Saya lihat beliau terburu buru, padahal saya ingin sekali menanyakan proses assessment thesis saya. Tapi cara menyapanya yang sangat santai, saya berharap mudah-mudahan ada kabar baik dari beliau.

Sayapun bergegas memarkir sepeda, segera keruangan dosen. Minimal ada percakapan singkat dengan beliau.

Saat bergegas menuju ruangan dosen, tidak disangka saya malah berpapasan dengan Edin.

''Hi Edin'' Sapa saya, Edin pun membalas dengan jawaban '' HI, Diani''

Lalu Edin bertanya, ''kamu sudah bertemu Patricia?'' Tanya beliau.

Saya sudah bertemu beliau, rabu kemaren secara tidak sengaja. Setelah membaca emailmu saya langsung keruangan dosen dan berpapasan dengan Patricia. Hari itu bukan jam kerjanya. Hanya saja beliau ke kampus untuk mengambil beberapa berkas.

''Lalu bagaimana kata Patricia untuk prosedur ujiannya''?Tanya Edin lagi.

''Patricia berjanji akan membalas email saya. Padahal hari minggu itu saya berencana untuk mengirim email ke Exam Board. Namun kata beliau tidak perlu, saya akan segera mengirim email kepada mu'' Begitu ucapan beliau. Namun sampai hari selasa, saya masih belum mendapat email balasan"'

'' Mudah-mudahan bisa bertemu beliau segera, saya rasa dia sibuk sekali. Saya tidak ada masalah dengan thesis assessment kamu. Hanya prosedurnya saja''

''OK, I will ask her again'' Ucap saya meyakinkan.

Saat berjalan menuju ruang dosen, untuk bertemu Trea asisten Patricia saya kembali bertemu Paul.

Saya lalu bertanya,

''Paul, apakah Patricia mengatakan sesuatu tentang prosedur ujian saya?''

''Tidak, dia tidak bilang apa-apa. Kenapa menjadi begitu rumit?''

''Ya, saya menunggu keputusan Patricia kapan bisa ujian''

dan Paul hanya memasang muka Heran.

'' Saya lihat kamu tidak akan fail lagi untuk yang ini''

Mendengar ucapannya saya senang sekali.

''Hanya masalah administrasi, kapan siap langsung defence'' Lanjutnya.

Besok sepertinya saya harus bertemu Patricia. Memastikan segala sesuatunya. Mudah-mudahan lancar.

Benar-benar merasa di Pingpong.

Pulang dulu ah, hari sudah angin angin. Mengayuh sepeda 7 km ke rumah wkwkwk. Bismillah, besok puasa hari pertama. Walaupun belum bisa berpuasa karena masih dapat, mudah-mudahan waktu yang berkah ini saya tetap bisa berdoa dan berzikir sebanyak-banyaknya.

* 2 Minggu sebelum balik Indo :)





[Thesis Story] Prosedur Yang Tidak Jelas


Akhirnya tanggal 26 Maret sore, saya mendapat email yang saya tunggu-tunggu. Email yang cukup menyedihkan dan langsung terbayangkan rencana-rencana yang harus saya ubah.

Karena mendapat info bahwa menunggu jadwal untuk feedback session bisa jadi lama kalau tidak mengejar si dosen, detik itu juga saya langsung ke Info Desk untuk booking jadwal feedback session. Tepat 5 menit sebelum tutup. Setelah dapat jadwal, kemudian saya mendapat email dari seorang assessor kalau dia tidak bisa hadir jadwal tersebut. Mmm..proses yang membuat saya greget. Untuk mendapatkan jadwal buat feedback saja saya harus mencocokan jadwal dua orang ini. Sementara assessor yang satu lagi tidak mengkonfirmasi apakah  beliau bisa atau tidak.

Karena waktu itu menjelang libur Easter, yang saya khawatirkan dosen dosen saya ini libur., keesokan harinya saya mencoba random ke kampus datang ke ruangan dosen. Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu salah satu diantara mereka dan siangnya saya bertemu seorang lagi. Feedback session pun langsung saat itu juga. Hasil feedback session pun saya cukup puas, karena cukup mengerti apa yang dimaksud si assessor.

Namun ada satu pertanyaan kejelasan prosedur hand in. Yang jelas, assessor saya yang satu lagi sepertinya lebih flexible. ''Kalau kamu selesai revisinya, saat itu juga kita defence''. Sementara assessor yang satu lagi, mengatakan ''saya akan tanya dulu ke Patricia''.

Inilah missing link yang membuat saya hingga saat ini pingpong kesana kemari. Dan ini juga yang menjadi kendala, ''Duhh, coba kalau prosedurnya jelas saya akan fokus ke prosedur ini''. Tapi karena semua masih tidak jelas, akhirnya saya lebih banyak fokus dengan revisi thesis. Menurut saya, bagaimanapun ini part yang paling penting. Akhirnya selama 3 minggu, saya berusaha memperbaiki thesis.

Tepat minggu ke-3, perbaikan thesis tersebut rampung ketika saya di Budapest. Saya memang merencanakan untuk Eurotrip sebelum pulang ke Indo. Namun karena jadwal thesis yang tidak jelas, banyak waktu menunggu dan menunggu email akhirnya saya beranikan untuk menyusun jadwal perjalanan di tengah waktu tunggu tersebut. Done, revisi thesis selesai dan saya menunggu konfirmasi kembali.

Karena tidak ada balasan email hingga 10 hari berikutnya, saya kemudian memberanikan diri ke kampus. Akhirnya saya bertemu dengan seorang assessor saya yang baru pagi itu mengambil thesis di Info Desk. Sayapun kemudian menyampaikan pertimbangan pribadi saya karena Visa Belajar yang hampir berakhir. Dari reaksinya, saya menyimpulkan kalau dia mengerti. Dan berjanji akan mengirim email kepada saya esok hari nya. Saat itu saya berharap akan dapat kabar baik, minimal tentang prosedur ujian ini.

Karena tidak mau mendesak karena takut dianggap tidak sabar, saya hanya menunggu di rumah. Email hingga jam 5 sore tidak datang datang. Baru jam 7 malam saya mendapat email dari beliau. Dan isinya bukan solusi, tapi hanya mengatakan '' Silahkan diskusikan dengan Patricia''. Sementara assessor yang satu lagi tidak ditempat, beliau sedang cuti hingga minggu depan.

Ada perpaduan emosi saya disini. Kenapa beliau baru email sore? apakah sesulit itu beliau berdiskusi dengan Patricia yang jarak ruangan hanya beberapa meter. dari ruangan beliau Dan emailnya pun mengecewakan tanpa solusi. Kalau saya dapat email agak siangan, saya akan meluncur ke kampus bertemu Patricia. Karena tiap hari Rabu, Patricia tidak ke kampus. Dan akhirnya tertunda lagi.

Ketidakjelasan ini bagi sebagian orang hal yang wajar wajar saja dalam menyusun thesis. Namun lambat membalas email hingga lewat satu minggu, bukan hal wajar dalam ''Budaya Belanda''. Karena disini kita tidak wajar menelpon dosen atau petugas kampus lainnya, sehingga mereka sangat peduli dengan email. Ini bukan kejadian pertama. Dan seharusnya saya dari awal harus mawas. Bermula dari email saya setelah hand in thesis pertama untuk menanyakan kejelasan thesis yang baru di balas dua minggu berikutnya. Dan berlanjut hingga sekarang.

Berharap thesis ini akan selesai menjelang Ramadhan. Apalagi membayangkan Ramadhan di Indonesia sepertinya tidak jadi..hehehe. Tapi apapun saya syukuri. Salah satunya mensyukuri nikmat waktu luang. Mensyukuri masih bisa menikmati Belanda. Kalau lagi geje karena menunggu, saya fash back aja perjuangan bisa kesini dulu. Alhamdulillah bersyukur diberi waktu lebih. Menikmati kesempatan. Apalagi kesempatan puasa musim panas untuk kedua kalinya. Dengar dengar, dapat berpuasa dimusim yang sama hanya sekali 30 tahun. Begitu yang saya dengar dari pemateri di Kajian Musim Semi Utrecht kemaren.


Groningen, 17 Degree


*Siapsiap ke kampus,