Akhirnya tanggal 26 Maret sore, saya mendapat email yang saya tunggu-tunggu. Email yang cukup menyedihkan dan langsung terbayangkan rencana-rencana yang harus saya ubah.
Karena mendapat info bahwa menunggu jadwal untuk feedback session bisa jadi lama kalau tidak mengejar si dosen, detik itu juga saya langsung ke Info Desk untuk booking jadwal feedback session. Tepat 5 menit sebelum tutup. Setelah dapat jadwal, kemudian saya mendapat email dari seorang assessor kalau dia tidak bisa hadir jadwal tersebut. Mmm..proses yang membuat saya greget. Untuk mendapatkan jadwal buat feedback saja saya harus mencocokan jadwal dua orang ini. Sementara assessor yang satu lagi tidak mengkonfirmasi apakah beliau bisa atau tidak.
Karena waktu itu menjelang libur Easter, yang saya khawatirkan dosen dosen saya ini libur., keesokan harinya saya mencoba random ke kampus datang ke ruangan dosen. Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu salah satu diantara mereka dan siangnya saya bertemu seorang lagi. Feedback session pun langsung saat itu juga. Hasil feedback session pun saya cukup puas, karena cukup mengerti apa yang dimaksud si assessor.
Namun ada satu pertanyaan kejelasan prosedur hand in. Yang jelas, assessor saya yang satu lagi sepertinya lebih flexible. ''Kalau kamu selesai revisinya, saat itu juga kita defence''. Sementara assessor yang satu lagi, mengatakan ''saya akan tanya dulu ke Patricia''.
Inilah missing link yang membuat saya hingga saat ini pingpong kesana kemari. Dan ini juga yang menjadi kendala, ''Duhh, coba kalau prosedurnya jelas saya akan fokus ke prosedur ini''. Tapi karena semua masih tidak jelas, akhirnya saya lebih banyak fokus dengan revisi thesis. Menurut saya, bagaimanapun ini part yang paling penting. Akhirnya selama 3 minggu, saya berusaha memperbaiki thesis.
Tepat minggu ke-3, perbaikan thesis tersebut rampung ketika saya di Budapest. Saya memang merencanakan untuk Eurotrip sebelum pulang ke Indo. Namun karena jadwal thesis yang tidak jelas, banyak waktu menunggu dan menunggu email akhirnya saya beranikan untuk menyusun jadwal perjalanan di tengah waktu tunggu tersebut. Done, revisi thesis selesai dan saya menunggu konfirmasi kembali.
Karena tidak ada balasan email hingga 10 hari berikutnya, saya kemudian memberanikan diri ke kampus. Akhirnya saya bertemu dengan seorang assessor saya yang baru pagi itu mengambil thesis di Info Desk. Sayapun kemudian menyampaikan pertimbangan pribadi saya karena Visa Belajar yang hampir berakhir. Dari reaksinya, saya menyimpulkan kalau dia mengerti. Dan berjanji akan mengirim email kepada saya esok hari nya. Saat itu saya berharap akan dapat kabar baik, minimal tentang prosedur ujian ini.
Karena tidak mau mendesak karena takut dianggap tidak sabar, saya hanya menunggu di rumah. Email hingga jam 5 sore tidak datang datang. Baru jam 7 malam saya mendapat email dari beliau. Dan isinya bukan solusi, tapi hanya mengatakan '' Silahkan diskusikan dengan Patricia''. Sementara assessor yang satu lagi tidak ditempat, beliau sedang cuti hingga minggu depan.
Ada perpaduan emosi saya disini. Kenapa beliau baru email sore? apakah sesulit itu beliau berdiskusi dengan Patricia yang jarak ruangan hanya beberapa meter. dari ruangan beliau Dan emailnya pun mengecewakan tanpa solusi. Kalau saya dapat email agak siangan, saya akan meluncur ke kampus bertemu Patricia. Karena tiap hari Rabu, Patricia tidak ke kampus. Dan akhirnya tertunda lagi.
Ketidakjelasan ini bagi sebagian orang hal yang wajar wajar saja dalam menyusun thesis. Namun lambat membalas email hingga lewat satu minggu, bukan hal wajar dalam ''Budaya Belanda''. Karena disini kita tidak wajar menelpon dosen atau petugas kampus lainnya, sehingga mereka sangat peduli dengan email. Ini bukan kejadian pertama. Dan seharusnya saya dari awal harus mawas. Bermula dari email saya setelah hand in thesis pertama untuk menanyakan kejelasan thesis yang baru di balas dua minggu berikutnya. Dan berlanjut hingga sekarang.
Berharap thesis ini akan selesai menjelang Ramadhan. Apalagi membayangkan Ramadhan di Indonesia sepertinya tidak jadi..hehehe. Tapi apapun saya syukuri. Salah satunya mensyukuri nikmat waktu luang. Mensyukuri masih bisa menikmati Belanda. Kalau lagi geje karena menunggu, saya fash back aja perjuangan bisa kesini dulu. Alhamdulillah bersyukur diberi waktu lebih. Menikmati kesempatan. Apalagi kesempatan puasa musim panas untuk kedua kalinya. Dengar dengar, dapat berpuasa dimusim yang sama hanya sekali 30 tahun. Begitu yang saya dengar dari pemateri di Kajian Musim Semi Utrecht kemaren.
Groningen, 17 Degree
*Siapsiap ke kampus,
Ketidakjelasan ini bagi sebagian orang hal yang wajar wajar saja dalam menyusun thesis. Namun lambat membalas email hingga lewat satu minggu, bukan hal wajar dalam ''Budaya Belanda''. Karena disini kita tidak wajar menelpon dosen atau petugas kampus lainnya, sehingga mereka sangat peduli dengan email. Ini bukan kejadian pertama. Dan seharusnya saya dari awal harus mawas. Bermula dari email saya setelah hand in thesis pertama untuk menanyakan kejelasan thesis yang baru di balas dua minggu berikutnya. Dan berlanjut hingga sekarang.
Berharap thesis ini akan selesai menjelang Ramadhan. Apalagi membayangkan Ramadhan di Indonesia sepertinya tidak jadi..hehehe. Tapi apapun saya syukuri. Salah satunya mensyukuri nikmat waktu luang. Mensyukuri masih bisa menikmati Belanda. Kalau lagi geje karena menunggu, saya fash back aja perjuangan bisa kesini dulu. Alhamdulillah bersyukur diberi waktu lebih. Menikmati kesempatan. Apalagi kesempatan puasa musim panas untuk kedua kalinya. Dengar dengar, dapat berpuasa dimusim yang sama hanya sekali 30 tahun. Begitu yang saya dengar dari pemateri di Kajian Musim Semi Utrecht kemaren.
Groningen, 17 Degree
*Siapsiap ke kampus,