Tampilkan postingan dengan label MBA Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MBA Note. Tampilkan semua postingan

Beradaptasi dengan Perbedaan

Dua hari yang lalu saya menonton tayangan TED tentang kenapa kita perlu mendengar seseorang yang berbeda pendapat dengan kita? Tayangan lengkapnya dapat di cek di youtube berikut TED-Why it's worth listening to people you disagree with | Zachary R. Wood

Cerita bermula ketika Zachary mengalami masa anak-anak yang kurang menyenangkan. Mulai dari hubungan dengan ibunya yang menderita schizophrenia dan stereotip teman-temannya bahwa sebagai orang kulit hitam dia lebih cocok sebagai pemain  basket padahal kecintaannya adalah membaca, menulis dan berbicara. Namun kejadian masa kecil hingga remaja tersebut merupakan titik kali pertama beliau belajar untuk mendengar seseorang yang berbeda pendapat dengannya sekalipun dari seorang ibu yang menderita mental illness atau orang yang punya stereotip terhadap dirinya.

Berbicara tentang perbedaan ini, saya jadi teringat salah satu mata kuliah yang paling berkesan saat kuliah S2 yaitu Intercultural Competence. Mata kuliah ini secara umum mengajarkan bagaimana kita tidak iritasi dengan perbedaan. Selama mata kuliah ini, kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 warganegara. Kelompok tersebut diberi case tentang skandal Volks Wagen dan masing-masing anggota kelompok memiliki peran masing-masing. Ada yang sebagai CEO, CFO, PR dan lain-lain. Kelompok tersebut tidak hanya terdiri dari satu jurusan. Namun ada jurusan International Komunikasi, International Busines, MBA dan masing-masing mengajukan diri untuk posisi yang diinginkan sesuai background pendidikan atau keahlian masing-masing.

Saat itu saya memilih sebagai CFO. Saya kemudian membuat analasis laporan keuangan VW dan beberapa skenario untuk merecovery perfomansi keuangan setelah skandal tersebut.  Setelah diskusi kelompok tuntas, beberapa hari kemudian tim kita di challange oleh 2 orang profesor tentang pendekatan yang kita gunakan untuk menyelesaikan masalah VW. Diskusi tersebut adalah salah satu diskusi kelompok ter ''alot'' yang pernah  saya hadapi. Dikelompok saya ada orang Arab, Libia, Mexico, Canada, Belanda, Bangladesh, Vietnam, Sudan, China dan saya sendiri Indonesia.

Awalnya, saya berencana untuk memilih posisi aman saja. Namun ide teman saya yang Mexico dan Belanda, membuat saya memutuskan untuk bicara. Saya gk mau kelompok ini fail, karena mengumpulkan 10 orang susah sekali untuk repair. Namun dibalik itu, saya bersyukur satu kelompok dengan teman saya yang berasal dari Mexico tersebut karena ke vokal-anya semua anggota jadi bicara haha. Saya gk kebayang kalau ada teman yang dari Amerika yang sekelompok dengan kami, which is dunia mengenal dua negara ini jarang akur. Mungkin diskusinya bisa heboh lagi :D.

Btw, kelompok diskusi yang beragam ini adalah kondisi sehari-hari yang saya hadapi selama masa perkuliahan. Bahkan dikampus saya komposisi penilaian tugas adalah 80% dari tugas kelompok, 20% dari tugas Individu. Untuk beberapa kelompok, I was very lucky'' seperti kelompok saat membahas kasus VW dan kelompok saat membahas kasus Shell pada mata kuliah Board Invitation. Namun untuk beberapa kelompok, our group was very damn..hihihi. Bahkan ada satu mata kuliah yang kita baru lulus setelah repair yang ke-3 kali. Padahal maximal repair itu hanya 2 kali, untuk yang ketiga kali kamipun harus mengajukan permohonan ke exam board.

Lalu apa yang membuat kita sulit beradaptasi dan mendengar pendapat orang yang berbeda dengan kita? Sebuah jurnal yang di tulis oleh LaRay M Barna (1994) Stumbling Block in Intercutural Competence, disebutkan beberapa hal yang menghambat seorang berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda:
  1. Mengasumsikan bahwa semua orang itu sama (Assumtion of similarity). Sederhananya, karena menganggap seseorang itu sama dengan kita membuat kita cendrung memperlakukan seseorang sesuai style kita. Sedangkan orang yang bersangkutan belum tentu bisa menerima.
  2. Perbedaan bahasa (Languange differences). Ini pastinya dong yaa. Orang yang bahasa ibunya bahasa inggris, dengan kita yang belajar bahasa inggris setelah dewasa tidak akan mendapatkan '''feel'' seperti orang yang bahasa ibunya bahasa inggris tersebut walaupun saat itu kita sama-sama ngomong pakai bahasa inggris. Apalagi ketika bahasanya benar-benar beda. Kita aja kadang sulit nyambung dan mengerti bahasa melayu walaupun satu rumpun. Beberapa pilihan kata yang seolah sedikit kasar untuk kita, sama orang Malaysia biasa aja dan sebaliknya. Itulah kenapa ketika menulis thesis/jurnal/tugas yang berbahasa inggris, kita membutuhkan native sebagai proof reader.
  3. Salah inteprestasi bahasa non verbal (Nonverbal Misintepretation). Saya ingat ketika teman saya yang Iran bercerita tentang pengalamannya saat berada di kuala lumpur. Dia salah menggunakan bahasa non verbal yang bagi orang melayu itu  maknanya genit dan kurang sopan hahaha.
  4. Stereotype. Nah ini salah satu hal-hal yang harus hati-hati menempatkannya. Jika salah dapat menyebakan perpecahan antar kelompok/suku/negara. Misal kita melabeli orang dari negara X, cendrung kasar. Lalu saat bertemu dengan orang dari negara tersebut, langsung ilfeel. Atau bisa jadi saat komunikasi awal biasa saja, namun ketika yang bersangkutan melakukan kesalah kita langsung menyangkut pautkan dengan stereotip yang melekat kepada kelompok/negaranya.
  5. Tedency to evaluate. Bahasa lainnya suka nge Judge sebelum melihat segala sesuatunya secara menyeluruh.
  6. High Axienty. Kecemasan secara berlebihan dapat menghambat seseorang bias dalam mengkomunikasikan pendapatnya ataupun memahami orang lain.
Hal diatas dapat menyebabkan kita berbeda pandangan dengan orang lain. Lalu bagaimana caranya bersedia mendengar pendapat orang berbeda dengan kita? Salah satunya, hindari ke-6 hal diatas, buang ego dan  yakini bahwa bisa jadi penyebab kita berbeda dengan mereka bukan karena mereka tidak suka namun karena ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Ada ucapan yang sangat menarik disampaikan Zachary dalam video tersebut:" We get stronger, not weaker by enganging the ideas and people we diasgree with''

Saya akui saat sekolah S2 di Belanda cukup babak belur. Namun selama kuliah saya belajar menerima perbedaan dan mendengar perbedaan. Menekan ego untuk tidak merasa pendapat saya paling benar atau saya paling penting. Juga belajar untuk tidak melabeli diri sendiri sebagai orang asia yang cendrung menerima dan malas berdebat. Kalau memang pendapat tersebut harus disampaikan, silahkan sampaikan.

Oh ya salah satu penyebab kenapa saya pernah punya kelompok parah banget sampai repair hingga 3 kali, menurut saya karena anggota kelompok saya itu homogen secara karakter. Kami semua tipikal ngomongnya irit dan takut menyinggung perasaan orang lain. Saya pikir, untuk menggerakan kelompok ini butuh teman saya yang orang India, senang ngomong tapi malas nulis hahaha atau teman saya yang Jerman/Belanda yang ngomong celometan tanpa tendeng aling-aling.  Perbedaan itu justru yang akan membuat kelompok hidup.

Btw,  saya akan buat judul khusus tentang pengalaman saya menghadapi teman-teman kelompok saat kuliah. Ada yang menyenangkan ada juga anggota kelompok yang nyebalin sampai adu mulut..haha. Memang kultur belajar kita yang cenderung adem ayem dan sungkan mengungkapkan pendapat beda banget dengan kultur belajar di negara Eropa yang orang-orangnya berani mengeluarkan pendapat sekalipun apa yang ditanyakan terdengar konyol :D

Jakarta, 18 Juli 2019

[ Usaha Mungil ] Warung pinggir jalan


Pertanyaan ini pernah mengusik rasa ingin tahu saya sejak pertama kali melihat negara maju, sebut saja yang ingin saya bandingkan kali ini adalah Belanda, negara tempat saya menetap sejak hampir satu tahun ini dalam rangka melanjutkan sekolah. Negara ini tata kotanya rapi dan hampir tidak ditemukan pelaku usaha kreatif di pinggir jalan.

 Di Indonesia hampir disetiap jalan raya di temukan toko toko kecil. Bahkan, garasi dan halaman kosongpun bisa di sulap menjadi tempat usaha. Saya memang belum melakukan penelusuran secara jauh, apakah hal ini disebabkan karna di Belanda lapangan usaha sudah cukup sehingga orang-orang tidak berfikir untuk membuat usaha tambahan, atau karna izin usaha yang sulit atau karna menjadi self-employee bukan pilihan karir yang prestisius di Belanda. Tapi ketika saya tanya ke salah satu teman Dutch, dia hanya bilang ‘’ saya takut beli makanan atau apa saja di pinggir jalan, kebersihannya kurang terjaga’’

Yang menarik ketika belanda beku banget sekitar tanggal 3,4,5 Maret kemaren. Orang-orang pada main ice skating. Ini memang moment langka di Belanda. Salju sih in syaa allah ada setiap tahun. Tapi sungai sungai yang membeku dan bisa di gunakan untuk area ice skating tidak terjadi setiap tahun.  Saya membayangkan, kalau di Indonesia, di dekat area dadakan ice skating itu mungkin sudah pada buka lapak dadakan..hahaha..indomie rebus lah, gorengan lah, dll. Tapi ini saya gk menemukannya yang demikian.

Di Indonesia, ada banyak factor mengapa orang-orang membuka usaha sampingan. Ada karna factor kebutuhan hidup , melihat peluang usaha, menyalurkan kreatifitas dan trend yang muncul belakangan di sebagian besar anak muda bahwa menjadi enteprenuer itu keren.  Hal ini bermula dari banyaknya anak-anak muda Indonesia yang memilih terjun ke usaha kreatif atau start up dan berhasil memberikan inspirasi.

Usaha ini dipercepat dengan pertumbuhan pemakain social media yang semakin tinggi di Indoensia. Sehingga bagi anak muda yang memiliki usaha. Media social ini menekan biaya untuk mempromosikan produk atau jasa menjadi lebih murah dan mudah. Bahkan bekerja sama dengan beberapa Selebgram menjadi pilihan yang menarik.

Kalau pertanyaannya, negara mana yang anak mudanya punya jiwa enteprenuership yang tinggi? Ini memang sulit di jawab. Karna indikatornya bukan hanya berani buka ‘’lapak’’. Tapi setidaknya, untuk kebebasan membuka usaha kecil, saya merasa bersyukur di Indonesia. Kita maklum di Belanda jika jarang ditemukan usaha mikro, usaha belum mulai tapi harus pertimbangkan Tax, regulasi lainnya. Di Indonesia, bisa mulai dulu aja, dari kecil kecilan, dari garasi, medsos, dll. Kalau sudah establish baru di fikirkan untuk membetuk badan usaha agar mudahan mendapat akses yang lain.

Segini dulu ya, akan ada lanjutannya.

Groningen, 15 Maret 2018




Bagaimana Memulai Sebuah Usaha Bagi Pekerja?

Ada beberapa alasan kenapa orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap, masih ingin mendirikan usaha. Kemungkinan kemungkinan alasan tersebut adalah:
1. Mendapat penghasil tambahan
2. Persiapan masa pensiun atau ketika kontrak habis
3. Hobby
4. Memperluas networking
5. Refreshing dan kekakuan dan kejenuhan dikantor
6. Membuka pekerjaan untuk orang lain.

Diantara poin 1 sd 6, no 2 sd 6 itu saya banget..hehe. No1? Ehm...siapa yang tidak mau dapat side income. Tapi kalau saya pribadi, belum berpikir untuk penghasilan tambahan.Eh maksudnya kepikiran si...hahaha ( iya enggak iya enggak labil). 

Menurut saya orang orang yang mengatakan profesi sebagai wirausaha itu bisa mengatur waktu semau gue, itu SALAH BESAR. Waktu yang dicurahkan seorang enteprenuer bisa jadi lebih banyak dari pegawai tetap. Kalau menjadi pekerja tetap, kita hanya mengambil secuil bagian dari seluruh bisnis proses yang ada di kantor atau diperusahaan kita misal hanya bagian keuangan saja, bagian HR saja, bagian sale saja. Tetapi kalau enteprenuer, dia menjalan proses bisnis dari ujung ke ujung-end to end. Apalagi kalau periode awal, masa masa riset, masa masa cari produk yang pas, masa masa mencari pasar. Kalau semisalnya usahanya kuliner online, bisa jadi mulai dari beli bahan di pasar pagi, masaknya, jawab-jawab pertanyaan calon pelanggan di medsos, sampai delivery nya ke pelanggan di lakuin sendiri. Kabayangkan capeknya.

Ketika bisnis udah jalan, udah dapat polanya, udah bisa cari asisten baru terasa enteng. Gk perlu lagi kepasar pagi, cukup telpon si penjual buat delivery bahan bakunya langsung ketempat produksi. Gk perlu juga ikutan masak, cukup ngasih komando yang jelas kepada tim dan menetapkan takaran bumbu. Gk perlu perlu juga jawab jawab pertanyaan pelanggan yang lagi labil lehe (ganti ganti order mulu), cukup serahkan ke si Mimin (atau mba Admin) dan training si mimin melayani pelanggan dengan hati.  Tentunya juga gk perlu delivery sendiri untuk order rutin, bisa bisa win win dengan pelanggan, bisa manfaat ojek online atau bisa jadi pelanggan yang bakal datang. Usahapun bisa berjalan sendiri ketika tim sudah solid dan bisa meneterjemahkan keinginan kita. Ini kalau di contohkan usahanya kuliner.

Bagi seorang pekerja, menjadi seorang pengusaha itu artinya bekerja minimal 1,5 kali lipat. Gk bisa dong, misalnya jualan sepatu tapi stok nya gk stabil. Baru hunting produk lagi kalau ada waktu luang. Waktu luangnya kapan? ''kapan -kapan'' hehe. Kalau buka tokonya gk konsisten, bisa dianggap penjual kurang serius. Yang datang biasanya order order kecil. Untuk order yang jumlah besar, si calon pembeli juga gk asal tunjuk calon penjual kalau sipenjual itu gk punya kredibilitas. Jadinya usaha pun akan jalan ditempat.

Menurut saya pribadi, seorang pekerja yang punya fix income lalu kemudian memutuskan membuka usaha, mungkin tujuanya untuk mendapatkan main income bukan prioritas. Main income maksud saya disini, urusan makan sehari hari in syaa allah sudah beres dari gaji tetap. Tapi terkadang ada unsur2 idealisme, mempersiapkan masa pensiun atau resign, atau memberi kontribusi untuk lingkungan sekitar. Kebayang gk si, dengan usaha kecil kita bisa memperkerjakan minimal dua orang aja dimana kerjaan samping kita ini bisa menjadi penghasilan utama buat dia.

Bukannya tidak mungkin bagi seorang pekerja tetap memulai usaha. Namun ada beberap tips, yang prinsipnya jangan sampai usaha ini menganggu pekerjaan tetap atau bahkan keluarga.

1. Profesional, jangan campur adukan usaha sampingan dengan usaha tetap. Misal pas dikantor sibuk jualan produk usaha. Harusnya kalem aja hehe, ada banyak chanel marketing, gk mesti bawa barang dagangan ke kantor. Gk enak dilihat bos, dikira nanti bikin materi presentasinya gk serius hehe. Gk mesti juga teman teman tahu kalau kita punya usaha. Tetap profesional dan tetap ngasih atensi penuh buat kerjaan kantor.

Kalau kebetulan mereka menemukan produk produk kita di toko online, ya tetap pasang wajah cool hehe. Kalau menurut saya kalau yang beli teman di kantor dengan di tawarkan langsung, mereka umumnya impusif hehe. Saya kadang kadang juga gitu. Ada yang beli satu lalu ikutan. Sehingga bisa jadi agak sungkan sungkan mereview produk kita. Padahal di awal awal lauching yang di butuhkan review pelanggan.

Review pelanggan juga bisa menggantikan market research yang se gambreng. Di era sekarang, data melimpah ruah di dunia online. Bisa jadi bahan market risearch lo. Misalnya membandingkan dengan produk sejenis. Lihat tipe tipe pembeli. Lihat range harga jual produk sejenis. Dan cari ceruk, dari produk produk eksisting kira kira model apa yang mereka belum punya. Market research bisa dilakukan di waktu waktu luang.

2. Alokasikan waktu di luar jam kerja. Kalau pagi sedikit rempong menyiapkan sarapan dan bersih rumah, bisa juga malam hari. Atau bangun lebih awal. Untuk mencari ide, evaluasi ide yang eksisting, atau cicil edit foto  yang akan di blasting di market place online atau social media chanel. Bisa juga dilakukan dua jam sebelum tidur. Dari jam 9 malam sd jam 11. Setelah makan malam selesai, dapur bersih, sudah mandi, wangi hehe. Jadi waktu nya ''me time'' sambil gurusin usaha, minum segelas teh hijau, leyeh leyeh di sofa, nemani keluarga menonton berita dll...hehe

3. Sebaiknya menjualnya di market place online saja. Karna lumayan less effort untuk jawab-jawab pertanyaan pelanggan satu satu dan tidak sibuk dengan metode pembayaran. Konsekuesinya pas kita upload produk harus lengkap dan serius, tampilkan foto sejelas jelasnya. Deskripsi sejujurnya. Kalau ada pelangan bertanya, kemungkinan besar pertanyaan akan berbobot diluar deskripsi yang dijelaskan. Tapi ada juga pelanggan yang galau milih model yang mana hahaha. Kalau ini, bertindaklah sebagai teman bagi pelanggan. Jangan bilang bagus sis..ini bagus sis.. beli dua aja..hahaha. Entahlah saya gk suka penjual yang insist, saya suka penjual yang jujur hehe. Kalau dia terlalu memaksa saya malah enggan beli hehe. Nah, bisa ditanya balik, mau di pakai sendiri atau buat kado sis? Temannya umur berapa? bla ..bla...persis kayak ngasih saran keteman yang lagi labil milih model baju di mall.

4. Untuk hunting bahan baku, bisa lakukan hari sabtu. Gunakan setengah hari saja. Sehingga masih ada waktu buat keluarga. Jaga hubungan baik dengan pemasok. Sehingga gk perlu datang ke tokonya terus buat order bahan.

5. Untuk kontrol proses produksi, tentunya setelah jam kantor atau pagi banget sebelum jam 8. Tapi ngambil waktu keluarga gk ya? jangan setiap hari juga kali wkwk biasanya untuk produksi produk baru yang perlu intensitas monitoring yang tinggi.

Kalau semisal itu urgent banget, sebagai ''manager rumah'' udah punya sense gimana mengelolanya. Misal, lauk hari ini delivery gojek dari rumah makan padang wkwkw. Atau pelajari ilmu bikin frozen food yag sehat dan praktis. Gk perlu masak tiap hari, stok makanan di freezer untuk kondisi darurat. Misal rendang, gule, dll. Nanti tinggal de frost pakai microwave atau di biarkan cair di udara terbuka atau cairin pakai rice cooker. Lalu tambah laluk lauk kecil yang praktis misal buat telur ceplok, aneka sayur dan kerupuk. Jujur aja, banyak yang bisa di syukuri hidup di zaman penuh teknologi ini. Pekerjaan rutin bisa diganti dengan mesin, sisa waktu bisa di gunakan untuk yang bermanfaat.

6. Modal? Susah juga mendefinisikan seberapa banyak modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Modal yang banyak belum tentu bagus kalau tidak bisa mengelolanya dengan tepat.  Alokasi kan modal di moment yang tepat. Misalnya, produknya masih tahap validasi tapi udah pengen nyewa tempat untuk show room aja. Modal untuk sewa atau beli showroom ini akan  tepat digunakan kalau market dan demand nya udah jelas dan stabil.

Tiap tiap orang punya beda beda prinsip tentang modal awal. Kalau saya pribadi orang nya prudent hehe. Saya berusaha uang yang saya keluarkan untuk modal dengan kemungkinan buruk tidak ada penjualan maka jumlah modal tersebut tidak lebih dari gaji atau tabungan saya. Kalau untuk rumah saya kredit kok wkwkw tapi kalau untuk usaha saya gk mau meminjam. Apalagi masih tahap awal sudah pinjam pinjam. Usahakan beli bahan baku se efektif mungkin. Usahkan membuat model baru juga seefektif mungkin. Kalau bisa pakai prinsip Just In time, stok bahan baku sekecil kecilnya. Salah satu caranya cari suplier yang bisa flexible dalam order sehingga order bahan bakunya gk perlu dalam bulk besar. Walaupun sedikit tapi ordernya continue. Kalau saya melihat konsep JIT itu: ''treat your supplier as your company division''. Mereka pihak diluar perusahaan kita, tapi bisa menyuplai bahan baku secara konsisten sesuai kebutuhan.

Intinya konsisten. Susah juga kalau dibilang usaha sampingan tapi menggarapkan kapan kapan ada waku luang hehe. Sebenarnya yang di butuhkan konsisten aja dan bikin planning yang jelas. Misalnya tahun pertama sd kedua mungkin belum bisa hire admin. Jadi semua semua dilakukan sendiri. Coba alokasi waktu 2 sd 4 jam sehari, bisa dua jam pagi hari dan dua jam setelah pulang kantor dan setelah aktivitas di rumah beres. Nah, tahun kedua misalnya penjualan udah mulai stabil, mulai deh cari admin. Mulai kenal juga dengan suplier kan sehingga bisa menghemat waktu buat datang sendiri ketempat mereka. Mungkin juga mulai ancang ancang buat ngumpulin dana untuk menyewa atau membeli tempat produksi yang dekat dari kantor atau rumah wkwkkw.

Apapun kalau di lakukan konsiten pasti sampai juga. Tinggal memilih ingin kecepatan berapa ni. Atau ingin jarak tempuhnya berapa panjang (memperluar bisnis). Kalau ingin cakupan bisnis lebih luas, bisnis tambah besar berarti tambah waktu dan tambah kecepatan dan tambah resources misal tambah mesin atau laryawan.

Berikutnya jangan terburu buru, nikmati usaha tersebut sebagai hobby. Bayangkan hasilnya 5 tahun, jangan bayangkan hasilnya satu tahun dan bikin hidup terburu buru. Setelah 5 tahun baru expand.  Sebenarnya waktu 5 tahun itu sebentar lo kalau melihatnya ke belakang. Serasa tahun 2013 baru kemaren yah, tapi coba bayangan tahun 2023 dari sekarang kayak jauh banget. Teman teman kita yang mulai usaha dari tahun 2012, kemudian konsisten, konsisten, walaupun sedikit mungkin sekarang sudah establish. Intinya mulai dari sekarang walaupun sedikit sedikit, walaupun masih amartir bikin kue, bikin baju, atau pekerjaan lainnya. Tapi lima tahun kalau konsisten akan jadi expert.

Saya teringat teman yang awalnya cuma posting kue kue bolu standard, tapi dia konsisten terus sampai dua tahun ini saya amati. Eh, alhamdulillah semakin kesini lihat fotonya ordernya semakin banyak. Jenis kuenya juga udah macam macam. Coba kalau dari dua tahun lalu dia gk mulai-mulai, gk akan dianggap expert sampai sekarang.


Groningen, 22 Feb 18

jam 10 pagi, saat suhu minus 3

[Thesis Story ] Bisnis Inkubator Indonesia vs Bisnis Inkubator Belanda Bag.1

Saya tidak tahu apakah bagi orang lain judul thesis saya menarik atau tidak, tapi bagi saya menantang (loh menarik atau menantang, menantang atau sulit? hehehe diplomatis). Permasalahannya adalah, ketika judulnya menarik tetapi bahasannya kurang tajam alias dangkal. Jadi lebih memilih topik thesis menarik atau yang bahasannya tajam? Kalau mau tajam berarti scopenya di perkecil. Kalau semua-semuanya dibahas, bisa-bisa thesis jadi 500 halaman hehehe mengalahkan disertasi. Tapi kalau topiknya terlalu sempit? mmh..bisa jadi bosan menulisnya karna keterhubungannya yang dibahas itu itu saja , itu lagi, itu lagi (menurut analisa abal-abal saya hehe).

Ok, mulai serius!

Bagi saya segala sesuatu yang bersehubungan dengan SME, start-up terkhusus digital start-up itu menarik. Hal yang langsung otomatis melintas di kepala saya ketika mendengar Start-Up adalah "anak muda'' dan hal yang melintas ketika mendengar Small and Medium Enteprise adalah pinggir jalan hehehe. Karna memang kalau seseorang menyebut usaha kecil, identik dengan yang menjual tarbak di pinggir jalan, pecel lele, gorengan, martabak. Di zaman now, istilah usaha kecil itu lebih luas lagi dan lebih inovatif. 

Tapi hasil penelitian  menunjukan bahwa pelaku usaha kecil ini banyak gagal di tahap pendirian. Pada umumnya 1 sd 2 tahun adalah masa-masa kritis. Banyak usaha kecil tersebut bangun, jatuh,satgnan istilah masa depannya masih abu-abu. Dengar kondisi yang demikian saja, usaha kecil tersebut sudah memberi kontribusi 65% terhadapa GDP indonesia. Sehingga pilihan karir membuka usaha kecil tersebut menakutkan dari pada dari pada menjadi pegawai tetap. Maka untuk mendukung usaha kecil tersebut bisa bertahan dimasa masa awal pendirian dan bertumbuh, sebuah inkubator bisnis. Selama proses inkubasi, mereka diberikan mendapat co-working space, menthoring, coanching and networking.

Walaupun konsep inkubator bisnis tersebut sudah ada sejak tahun 1980-an, namun aplikasinya berbeda beda tiap negara. Definisi inkubator sendiri masih berbeda di terjemahkan oleh setiap institusi. Ada yang meng klaim sebagai inkubator, tapi sebenarnya lebih ke Center of Enteprenuership yang meberikan materi-materi pre-inkubasi. Ada juga satu instusi yang melaksanakan program inkubator dan akselerasi sekaligus, walaupun tetap dinamai inkubator. Ini baru penggunaan istilah dan definisi inkubator sendiri. Terbayangkan seberapa beragamnya ''isi'' dalam setiap bisnis inkubator.

Sebenarnya, seberapa penting si inkubator untuk SME? Banyak kok SME SME yang tidak di supervisi oleh sebuah bisnis inkubator tapi tetap melejit. Iya benar, tapi percaya deh lebih banyak SME yang gagal ketika memasuki pasar di tahun tahun awal. Hanya saja kisah mereka tidak terekespos. Di bisnis inkubator, start-up start-up tersebut akan dibantu untuk menvalidasi ide mereka mulai dari validasi produk, customer, business model, membuat prototype, sampai memperkenal produk tersebut ke pasar, funding dan membangun networking. Wah enak dong. Tapi apakah semua start-up bisa bergabung di program inkubasi? Nah start-up yang terpilih untuk bergabung dalam sebuah inkubator bisnis  telah melalui seleksi yang ketat. Karna seleksinya ketat, sehingga ketika mereka di bawah supervisi sebuah inkubator mereka akan membangun kepercayaan Misalnya saja dalam funding. Lembaga keuangan menjadi lebih trust kepada mereka untuk memberikan dana karna si start-up tersebut di bawah supervisi sebuah inkubator. Apalagi kalau inkubator tersebut sudah memiliki nama. Ini si salah satu manfaat diantara banyak manfaat lainnya.

Lalu bagaimana dengan usaha usaha kecil yang jumlahnya jutaan, yang ide ide mereka lurus lurus saja misalnya berdagang tanpa di embel-embeli high tech produk. Nah, untuk mereka ada namanya program pre-inkubasi. Program pre-inkubasi tersebut bisa di selenggarakan oleh bebuah inkubator bisnis, center of enteprenuership, science park, non profit organization, dll. Tapi sebenarnya, kalau usaha kecil yang masuk inkubator itu yang penting ide nya dulu apa. Teknologi itu adalah support. Misalnya, saya ingin punya percetakan yang orang bisa enjoy dengan proses design, pelanggan bisa melakukan sendiri dari rumah. Nah, untuk mewujudkannya di support dengan App yang cocok. Atau misalnya efisiensi proses tilang kendaraan, ada idenya, ada bisnis prosesnya lalu teknologi apa yang cocok.

Nah kalau disalah satu inkubator yang saya teliti di Belanda, ide iya teknologi juga iya. Ide mereka mungkin simple, misalnya gimana caranya proses pengecatan kapal lebih efisien. Tujuannya untuk menjadi efisien dan idenya adalah ''Teknolgi'' yang akan di create untuk itu. Terasakan bedanya, hehe,kalau di bisnis inkubator yang sedang saya teliti di Belanda, ide itu adalah teknologi yang mereka ciptakan.


Segini dulu ya pembukaannya, saya lanjut nesis dulu :D

Groningen, 18 Feb 2018

[Usaha Mungil ] Marketplace Online Belanda vs Indonesia Vs Inggris

Pernah berbelanja online selain di indonesia, sepertinya menarik juga untuk di tuliskan. Kali ini saya akan ceritakan pengalaman saya selama berbelaja online di Belanda dan Inggris dan tentunya akan di bandingkan dengan Indonesia. Awalnya si tulisan ini saya rencanakan singkat-singkat saja hehe. Tapi setelah di tulis, lumayan banyaaaak yang ingin di tuliskan. Supaya lebih ringkas, saya coba tulisakan dalam 3 aspek: Siapa aja pemain di online market tersebut, kurir dan kualitas produk dan layanan.

Belanja Online di Indonesia

Sepertinya sebagian besar generasi ke kinian di indonesia, pasti kenal dengan Tokopedia, Bukalapak dan Lazada dong. Yes, ini memang tiga toko online ke sayangan saya hehe. Di Indonesia pertumbuhan market place online cukup fantastis. Awalnya di dominasi oleh Lazada tapi di waktu yang hampir bersamaan dan dalam waktu yang relatif singkat marketplace online baru bermunculan . Sebut saja, bukalapak, tokopedia, blibli, blanja, elevenia, mataharimall, shopee, zalora, bhineka. Ini baru market place yang menjual segala jenis barang lo..belum yang spesifik ke item tertentu sebut saja Hijub, Sociollo (untuk skincare dan cosmetic), Qlapa untuk barang-barang UKM.

Pertumbuhan transaksi e-commerce juga di dukung dengan semakin tingginya akses pemakai internet dan semakin bagusnya layanan jasa expedisi. Sebut saja JNE yang cabangnya ada dimana-mana. Bahkan sebagian cabang ada yang buka dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam termasuk sabtu dan minggu. Tidak mau kalah, Pos Indonesia sebagai incumbent dalam jasa expedisipun mulai bertransformasi. Dulu, you knowlah..cabangnya dikit banget. Sekarang sepertinya post indonesia sudah di wara labakan seperti JNE. Selain itu, pertumbuhan jasa kurir barupun luar biasa cepatnya seperti Wahana,  dan si-Cepat yang dengar-dengar menawarkan harga yang lebih murah dan menguntungkan bagi pengiriman paket-paket berjumlah besar.

Di Indonesia, tidak semua toko fisik punya toko onlinenya. Menurut saya ini di picu karna  sebagian besar kita masih lebih nyaman jika berbelanja dengan melihat barangnya langsung. Apalagi kebijakan pengembalian barang yang tidak semudah seperti toko toko online yang ada di dua negara yang nanti akan saya ceritakan. Sehingga sebagai konsumen, saya  sendiripun akan sedikit hati hati untuk membeli barang di toko online karna tidak ada pihak perantara yang bisa mengamankan sistem pembayaran kalau terjadi apa apa dengan barang yang di pesan. Di Indonesia saya lebih prefer belanja online hanya di market place online seperti Buka Lapak, Tokped dan Lazada. Pertama, pengirimana barang bisa di tracking, ada perantara dalam pembayaran dan yang tidak kalah penting kalau tokonya "macam-macam'' saya bisa kasih review jelek dan pastinya jalur pengaduan ke admin pun sangat terbuka.

Sejauh ini, saya belum ada keluhan sebagai pembeli di toko online tersebut. Hanya saja masalah ke aslian barang dimana kita sebagai pembeli "picky" banget. Tapi karna ada review online, penjual pada umumnya tidak akan berani menjual barang tidak sesuai kriteria karna sekali dapat review tidak bagus maka tidak akan bisa di hapus. Kalau sebuah barang branded di jual dengan harga murah, sebagai pembeli kita sangat mudah menilai apakah produk yang asli atau KW. 

Tetapi ini gampang-gampang susah hehehe. Kenapa begitu? kadang sebagian pembeli memang sengaja cari produk KW. Sebagian mungkin karna ingin terlihat wow, sebagian karna desainnya lucu dan sesuai budget, sebagian malah beli gk ngerti dengan merek merek hehehe yang penting lucu. What everlah..apakah mereknya, Prada, Burberry, Guess, Fossil. Apapun mereknya, kalau tas KW bisa dibanderol dengan harga yang sama-sama hehe. Tapi kadang memang tas-tas KW itu bagus (sesuai harga) dan modenya lucu lucu, malah lebih lucu dari seri aslinya lebih tepatnya di seri tas aslinya malah gk ada model tersebut hahaha tapi lucu. Saya sendiri jujur, belum pernah beli barang KW di ol shop. Bagi saya produk-produk keluaran matahari department store sudah diatas rata-rata . Apalagi dulu saya gk ngerti merek dan barang mahal tersebut gk bisa ditemukan di kota saya..haha. Dan pastinya, saya lebih bangga pakai produk lokal yang menggunakan merek sendiri. 


 Nah pas di Belanda atau di Inggris, barang-barang yang biasanya di KW-in di Indonesia, produk aslinya sangat mudah ditemui disini dan tidak semua kategori barang mewah. Sebut sajalah Zara. Contoh lainnya Sneaker :D.  Sebelum ke Belanda, saya pernah beli Sktecher dengan harga 1,5 juta haha. Sumpah, saya belum pernah beli sepatu semahal itu karna memang saya buka penggila sneaker.  Ternyata setelah sampai di Belana, toko sneaker dimana-mana. Gk masalah harga aja, gk murah murah banget sih tapi sering sale, trusss yang bikin kita gila modelnya lucu lucu dan pilihan warnanya banyaaaak.

Belanja Online di Belanda

Kalau di Belanda, pasti pada tahu bol.com dong hehe. Apalagi buat mahasiswa, bisa beli buku baru dan pre-love dengan harga cukup murah. Bol itu sebenarnya marketplace online seperti Bukalapak, Tokped dan Lazada. Bedanya, Bol sendiri juga ikut menjual barang selain toko toko lain yang juga terdaftar sebagai tenant di bol.com. Lebih kurang mirip Amazon. Amazon kan jual barang-barang produksi sendiri tapi juga banyak toko toko lain yang juga berpastisipasi sebagai seller.

Aturan after sales servicenya mengikuti ketentuan Bol.com. Kalau BL dan Tokped beberapa aturan pengembalian barang misalnya, di atur oleh seller.  Ada seller yang menerima retour barang ada yang tidak. Standar untuk upload foto produk juga  mengunakan latar putih seperti di Amazon atau Lazada. Kalau BL dan Tokped, tampilan foto produk di serahkan ke seller masing-masing tanpa proses kurasi.

Hampir semua toko fisik di Belanda punya toko onlinennya. Bahkan toko asia yang cukup populer disini, Amazing Oriental juga ada versi onlineya. Hal yang menarik di Belanda, semua toko baik versi toko fisik ataupun toko online menerapkan kebijakan after sales service yang sama. Rata-rata jangka waktu pengembalian barang 28 hari setelah pembelian, malah ada yang lebih.  Misalnya, akhir November yang lalu saya beli winter coat dan bisa di retour s.d tanggal 21 Januari 2018...hehehe. Buat saya pribadi, sebagai pelanggan merasa aman dan terlindungi kalau berbelanja di sini. Bahkan beberapa kali saya beli barang yang saya masih ragu cocok atau tidak buat saya, tapi saya senang warnanya. Saya beli karna stoknya tinggal satu, ketika sampai di rumah..beberapa hari, saya pandang-pandang, saya coba apakah benar-benar nyaman di pakai atau tidak, kemudian saya berubah pikiran karna bahannya mudah kerut akhirnya saya balikin..hehe dengan syarat label jangan sampai copot. Saat pengembalian pun, kita tidak akan ditanya sedikitpun kenapa dikembalik kan. dan senyum  kasirnya tetap seramah saat kita membeli.

Untuk expedisi, di Belanda cukup bagus menurut saya di Banding Inggris sekalipun. Karna jasa pengiriman barang sudah di handle beberapa toko yang kerjasama dengan Post.nl. Seperti supermarket  JUMBO dan AH yang cabangnya ada dimanana-mana. Atau di toko toko buku dan alat tulis seperti Primera dan Cigo. Jadi kita bisa kirim barang kapan dan dimanapun selama toko-toko tersebut buka. 

Selain itu, kita juga bisa pick up paket kita di beberapa toko tersebut. Biasanya saat melakukan order online kita yang akan pilih expedisinya tentang berapa hari barang tersebut ingin terima dan jam berapa akan di delivery ke rumah. Kalau kita seharian tidak di rumah, bisa di ambil di beberapa supermarket dan pertokoan yang sudah kerjasam dengan Post.nl tersebut. Saya pernah beli laptop online, karna seharian tidak dirumah. Lalu saya pilih opsi di delivery ke supermarket JUMBO yang paling dekat dengan rumah. Setelah sampai rumah jam 9 malam, karna toko masih buka, paket laptop pun saya ambil.

Oh ya satu lagi, web jual beli online yang terkenal di Belanda adalah Markplaats. Markplaast ini lebih mirip OLX sebenarnya.  Ada yang ingin jual barang yang udah gk di pakai, trus tawar-tawaran trus serah terima barang dan uang. Biasanya si penjual dan pembeli janjian di stasiun atau di tempat umum lainnya  untuk penyerahan barang. Markplaat ini paling sering di gunakan untuk jual beli sepeda 2nd hand dengan harg yang jauh lebih murah dari pada beli di toko. Kalau belanja di Markplaat ini, tidak bisa terburu-buru dan bukan untuk barang kebutuhan mendesak. Karna kita ada proses balas-balasan pesan dengan si pembeli.

Oh ya, saya pernah beli mesin jahit Singer hihihi..padahal belum saya pakai sampai sekarang dan saya memang belum lancar menjahit. Tapi karna harganya murah, di banding harga di Indonesia akhirnya saya beli.  Nanti aja kalau thesis udah lewat masa-masa kritis baru mesinnya di otak atik.


Belanja Online di Inggris.


Sama dengan di Belanda, rata-rata toko fisik di Inggris juga ada toko onlinenya. Yang berbeda sedikit adalah, disini pengguna Ebay aktif sekali. Selama di Belanda saya jarang mendengar orang Belanja di Ebay hehe. Iseng-iseng saya coba bandingkan, ternyata Ebay di UK barang yang di jual banyak sekali.  E bay memang terkenal dengan sistem Bid nya terutama untuk barang-barang yang pre-love. Biasanya pada ngincer, Brand New With Tag.  Barangnya baru, masih ada labelnya. Biasanya yang di sasar barang-barang midle up class.

Oh ya, di Inggris khususnya di tempat saya pernah tinggal di kota Cambridge akan banyak ditemui toko toko charity shop yang menjual barang-barang 2nd hand. Biasanya sering di gunakan mahasiswa untuk perlengkapan kost an- hehe. Kayak beli lemari, meja strikaan. Tidak hanya menjual perkakas rumah, tapi juga menjual barang-barang fashion, buku buku, barang-barang vintage. Banyak saya lihat yang berburu tas dan sepatu boot dengan harga sangat miring dan kualitas masih bagus.  Toko-toko charity ini di kelola oleh beberapa saya besar di Inggris seperti: Cancer Research, British Heart Foundation, Scope-kalau gk salah scope ini untuk anak anak penyandang cacat, ada juga di kelola oleh yayasan penderita buta dan tuli. Kalau ingin iseng-iseng lihat, bisa jalan di sepanjang Burleigh Street. Toko-tokonya di kelola sangat profesional. Saya tahu awal nya karna salah masuk toko hehe karna saya pikir butik..hehe.  Sungguh, toko toko charity di sepanjang jalan Burleigh Street tersebut tidak terlihat seperti toko lusuh malah kayak factoty outlet dan rame pengunjung. Barang yang di jualpun beraneka ragam, yang paling banyak itu hiasan rumah, buku buku yang bisa dibanderol 1 ponds dapat 3, sepatu boot kulit dan mainan anak-anak.

Kalau masalah jasa pengiriman, Belanda tetap lebih nyaman (menurut saya loh yaa). Apa mungkin karna saya tinggal di pinggir kota Cambridge ya. Jadi gk begitu banyak titik pengiriman barang seperti di Belanda yang sudah kerjasama dengan beberapa jaringan supermarket. Kalau kita tidak dirumah, biasanya paket dititip di tetangga. Kalau tetangga kiri kanan rumahnya juga kosong, maka kita ambil sendiri ke kantor post pusat di kota (nahh, bagian ini yang malas, jauh hehe) atau minta di re-delivery sesuai hari dan jam kita di rumah (berarti kita nunggu lagi). Lalu saya tidak memilih, jam berapa barang tersebut akan disampai dirumah, pagi siang, malam.

Kalau di Belanda, yang teknis2 begini lebih effektif.  Pertama, diawal kita bisa pilih kelompok waktu delivery nya dan di informasikan max paket tersebut akan di terima jam berapa. Kalau tidak ada pilihan jam spesifik dan kita tidak di rumah biasanya akan dititip di tetangga. Menariknya, kalau rumah dekat oko toko yang kerjasama dengan Post.nl, kita bisa pilih opsi di pick up di toko. Dan beberapa toko online, memberikan jasa kirim gratis jika  alamat pengiriman ke alamat toko toko yang ber kerja sama dengan post tersebut. Dulu pernah di bahas di kelas  saya mata kuliah Supply Chain, karna memang cost terbesar dari biaya expedisi itu ketika diantar dari rumah ke rumah satu persatu. Tapi kalau di pool di satu tempat, si toko bisa me -reduce biaya kirim dan malah dikasih cuma cuma  ke pelanggan alias gratis.

Kalau kualitas barang, Belanda dan Inggris sama. Tabu menjual barang-barang KW. Mereka sangat tegas dalam pencatutan merek dagang yang sudah dipatentkan atau terdaftar. Contoh saja, install Ms. Office di window. Kalau di indonesia, katanya bisa ditemukan bajakannya. Disini, minta tolong sama teman yang mahir IT, sangat mudah bagi mereka. Tapi dengar-dengar (sy belum megalaminya), kalau laptop kita rusak dan ketika di perbaiki ketahuan kalau kita memakai software bajakan maka toko reparasinya tidak akan bersedia memperbaiki, malah bisa di laporkan. Coba saya crosscek lagi infonya ya..wkwkw..kalau tidak salah ingat informasi ini saya dapat saat pre-departure.

Rata-rata batas waktu pengembalian (retour) barang, Inggris dan Belanda sama. Di Inggris itu, saya senang melihat supermarket Tesco nya sih wkwkw. Kalau yang dekat kost saya dulu, kompleknya luas banget. Bisa order online dan sangat flexible, langsung barang sampai kerumah esok paginya. Karna mereka langsung yang mengirimkan bukan dikirim melalui pos. Kalau di Belanda, saya belum pernah dengar orang beli produk produk segar secara online dan minta di delivery.

Demikian ya, hasil perbandingan random saya tentang pengalaman Belanja di Indonesia, Inggris dan Belanda. Kalau ada yang lupa saya tulisakan maka akan saya tulis di part two. hehe

[ Usaha Mungil ] Merasakan Perasaan Pembeli Saat Menjadi Penjual.

Secara pribadi, saya sendiri baru mulai mencoba usaha kecil sejak 3 tahun yang lalu. Itupun motivasinya untuk mengisi waktu, saya menjalani tanpa beban, dan menyeimbangkan aktivitas. Tapi mengalami  dan melihat langsung bagaimana jatuh bangunnya menjalankan usaha kecil sudah saya rasakan sejak saya SD, bisa di bilang lebih dari 20 tahun. Saya lihat ayah ibu saya, kakak saya, menjalankan usaha tapi benar benar belum mengerti risiko, manajemen, pecatatan keuangan. Yang penting dagangan habis dan bisa hidup sehari hari. Sehingga saat itu, menjadi enteprenuer bukan pilihan karir saya dan sangat risky dimata saya.

Di era sekarang, kesempatan membuka usaha kecil lebih terbuka. Bahkan sudah menjadi trend anak muda dan bukan lagi pilihan hidup yang di pandang sebelah mata. Cara mereka menjalankan usahapun lebih kreatif, baik dari segi produk ataupun jaringan pemasaran. Anak anak muda jaman dulu, kalau mulai menjalankan usaha kecil kecilan menjadi pilihan karir yang mengkwatirkan bagi orang tua. Saat ini, tidak jarang dari mereka menjalankan usaha dan juga memiliki pekerjaan tetap. Kalau ada yang memilih full-time sebagai enteprenuer, banyak diantara mereka yang motivasinya bukan 100% profit tapi ingin menjadi anak muda yang punya '' social impact''.

Sebelum  berangkat ke Belanda, saya pernah membuka usaha kecil yang motivasinya saat itu hanya ingin mengisi waktu, membuat hidup lebih bervariasi dan berkenalan dengan orang baru yang selama ini hanya seputar kantor dan kantor saja. Hidup yang terlalu kaku, jalan ditempat sering membuat kita menjadi orang yang negatif. Padahal sewaktu saya kuliah, saya bukan tipe orang yang demikian. Ide dalam kepala dan semangat saya itu gk padam-padam, energinya positif anti baper haha.


Singkat cerita, saya mulai melirik tumpukan kain tenun ikat dan batik tulis yang bikin lemari saya penuh. Kain-kain ini harus jadi sesuatu dari pada sekedar pajangan atau bikin lemari tidak rapi. Saya lalu mengambil kursus singkat pembuatan tas berbahan kulit.  Dari kursus ini kemudian saya kombinasikan tas tas tersebut dengan batik tulis dan tenun ikat yang saya punya.

Saya ingat pertama kali mencoba, saya bikin 20 buah dompet.  Saya bagian memotong kain, membuat sketas dompet dan bagian jahit saya serahkan ke home industry milik salah satu pengajar saya. Setelah selesai, dompet dompet tersbut tidak urung saya jual.  Karna saya merasa tidak punya kemampuan dalam hal marketing. Hanya saya tumpuk dan baru saya jual hampir satu tahun kemudian..haha. Karna saya tidak mau kegiatan tambahan ini menganggu aktivitas utama saya (ngantor), akhirnya saya pasarkan online, cukup upload foto di beberapa marketplace online lalu biarkan prosesnya diatur oleh admin. Tidak pernah sekalipun saya kenalkan ke teman-teman kator.


Sebelumnya, saya hanya pelaku aktif dalam pembelian online. Apa-apa sepertinya saya beli online. Kalau ada yang jual sayur dan ikan online, mungkin saya juga akan beli online. Dari pada harus mampir-mapir ketoko ini ke toko itu sehabis pulang kerja.

Kebiasaan saya pembeli online itu kemudian menjadi acuan ketika saya menjadi penjual. Sebagai pembeli online yang membuat saya puas dan percaya terhadap satu toko online adalah: Responnya cepat, berani menerima retour, mendeskripsikan barang sejujurnya, dan terkadang saya semakin loyal terhadap sebuah toko online ketika mereka memberi bonus yang tidak saya kira-kira..hehe.

Pertama fast reponse: Saya pernah niat sekali membeli barang di sebuah toko online, tapi pesan saya baru di balas beberapa jam kemudian atau bahkan ada yang lewat hari. Sebagai pembeli pikiran saya mudah aja si, ini yang jual pasti gk serius atau jangan-jangan barang yang di jual barang barang semu.

Kedua, berani menerima retour. Beberapa toko kadang membuat aturan tidak menerima order retur barang. Ahh, kalau ini saya pasti mundur menjadi calon pembeli. Simple aja sih, toko ini takut banget dengan kualitas barang yang mereka jual atau gk mau ribet.

Ketiga, mendeskripsikan barang sejujurnya. Aspek ini penting banget buat saya. Jujur adalah segala-galanya. Kenapa? karna saya menilai pelanggan saya orang pintar. Dia bisa bandingkan harga, model, motif, bahan dengan produk produk lain. Pelanggan saat ini sudah tidak bisa di brainwash.

Saya ingat salah seorang pelanggan saya, bingung membeli dua motif dompet. Dompet itu di beli untuk hadiah seorang temannya yang berumur 50 tahunan. Dia minta pendapat saya hehe. Karna saya yang lihat langsung dompet tersebut tidak melalui foto, maka saya sarankan dompet yang X. Alhamdulillah si mbanya  puas dan malah repurchase. Atau ketiga ada calon pembeli yang beli direct lewat instagram.  Ceritanya pelanggan tersebut sudah transfer, tapi sebelum transfer saya bilang kalau saya baru bisa mengirimnya pagi besok, karna barangnya di rumah dan saya nyambi kerja. Si mba nya bilang ok. Hal begitu bagi saya wajib di bicarakan karna tidak mau ada salah sangka, kenapa barang belum dikirim dan biasanya kalau sudah transfer apalagi pembelian langsung begini (maksudnya tidak lewat BL, Tokped, telat sedikit gampang membuat pelanggan sesitif. Intinya saya bikin komunikasi saya natural, jujur dan reachable wkwkw. Jangan kemudian setelah uangnya di transfer, si penjual malah lambat respon. Ini pernah kejadian waktu saya membeli  sebuah CD senam dan strap kulit kamera miroless..padahal yang jual lokasinya di Solo dan di Jogja (Gk jauh dari tempat tinggal saya di Jogja). Eh, penjual dengan santainya bilang, ini yang beli bukan mba aja, ada yang lain. Kalau yang jual strap kamera masih profesional si jawabnya (walaupun saya nunggu sampai 3 minggu), alasannya pengerjaannya handmade.

Saya juga pernah meangguhkan pembeli hingga saya kirim 1 minggu karna alasan yang teknis banget. Barangnya tersedia, tapi saya sedang tidak bisa ke expedisi (maklumlah saya kan belum bisa gaji admin, jadi handle end to end hehe), padahal si marketplace online tersebut hanya memberi waktu 3 hari max setelah transfer. Tapi Alhamdulillah si pembelinya paham dan malah bilang semoga cepeat sembuh ya mba, hehe..oh iya waktu itu saya lagi bed rest. Kalau saya sebagai pembeli, saya hanya butuh kepastian gimanapun kondisi penjua;, keep contact dengan pelanggan dan jangan takut kalau pelanggan retour hanya karna waktu pengiriman tidak cocok. Kan lebih ngenes lagi, pelanggan ternyata butuhnya 2 hari kemudia tapi  penjual kurang gercep mengirimkannya bahkan minus kabar.

Ke empat, bonus mungkin hal kecil tapi berharga sekali buat pelanggan. Saya rasa itu juga kenapa beberapa merek terkenal dari beberapa skincare memiliki pelanggan loyal karna biasanya setiap pembelian di kasih tester produk lain. Dan beberapa testernya itu bukan sebesar ukuran shampo sachet lo. Bahkan ukuran travel size yang bisa di pakai seminggu hingga 30 hari. Nah saya pernah memberi bonus dompet untuk pembelian tas dan pernah juga free box cantik untuk birtday gift. Alhamdulilah mba yang beli senang banget. Saya ingat, si pelanggan minta dikirimkan paket post express karna mau buat kado. Sekalian saja, saya bungkusi dengan kotak kado cantik sebelum saya post.

Saat saya melakukan hal ini, saya hanya memposisikan diri saya sebagai pelanggan. Itu saja..hehe
Walaupun penjualannya belum fantastis karna saya garap di sela-sela waktu luang, alhamdulillah saya belum mendapat response negatif. Seminggu itu paling gk saya shipping 1 sd 3 kali dompet atau tas. Channel distribusinya hanya menafaat kan yang gratis gratis saja,bukalapak, tokopedia, qlapa.


Oh ya, pernah saya sekali mendapat komplain karna aroma kulit terlalu kuat dan waktu pengiriman saya gk ngecek silica gel. Lalu saya bilang ke pelanggannya (melalui admin Qlapa). Saya minta maaf dan bersedia mengembalikan uang pelanggan. Eh, pelanggannya malah gk mau balikin barang hehe. Karna saya memang gk memproduksi satu motif tas secara massal, jadi beliau tidak bersedia saya ganti motifnya.

Admin Qlapa sempat bilang :'' Kalau barangnya dikembalikan, maka review yang terlanjur di beri pelanggan tidak akan bisa di ubah kakak''. Lalu saya jawab, wah gk apa-apa, yang penting pelanggan saya gk kecewa. Biar lah review itu pelajaran buat saya, tetapi kalau  pelanggan membeli barang dan merasa tidak sesuai dengan deskripsi dan kualitasnya misal  kulitnya jelek, batiknya ternyata printing padahal saya informasikan tulis, jahitannya gk rapi, bla..bla, ini malah jadi beban buat saya. Saya tidak mau pelanggan saya merasa membeli barang yang mubazir, over rated, merasa kemahalan padahal kualitasnya biasa-biasa saja.

Sudah 1 tahun saya tidak menggarap toko online saya lagi, sejak memutuskan sekolah di Belanda. Selama disini saya juga mendapat pengalaman menarik jual beli online di negara ini. In syaa allah, setelah tamat saya akan kembali lagi. Pernah ada yang bertanya ke saya, kenapa kamu memutuskan membuat usaha kecil padahal kamu sudah mempunya pekerjaan tetap. Lalu saya jawab, saya dulu juga orang yang skeptis terhadap orang orang yang memutuskan karir membuka usaha. Karna punya ketakutan penghasilan yang tidak pasti ketika melihat perjuangan orang tua saya. Tetapi ketika saya terjun, saya merasakan ketika saya menjadi pegawai kantor saya memahami sebagian kecil bisnis proses. Tapi ketika saya memulai usaha, saya jadi tahu semua proses bisnis end to end.

Kalau ada yang bertanya, apakah suatu saat saya mau melepaskan pekerjaan saya? Saya jawab tidak, karna untuk kebutuhan sehari hari saya ingin dari gaji saya. Dan saya tidak mau mencampur adukan urusan kantor dan usaha sampingan saya. Kegiatan ini saya anggap sebagai bentuk saya mengaktualiasasikan diri ke lingkungan yang lebih luas dan ingin lebih punya sosial value. Alhamdulillah kantor saya sekarang, kebijakan untuk pengembangan karyawanya snagat bagus dan sebenarnya tidak punya alasan untuk resign. Hanya saja waktu itu saya agak sedikit jenuh, sehingga pada titik itu saya butuh melakukan aktivitas yang istilanhnya "breaking the ice block"'. Dan saya memilih mendalami hobby menjahit yang pernah amat saya tekuni waktu masih sangat SD. Waktu itu kelas 1 dan kelas 2 SD, saya sudah mulai berjualan ikat rambut dari kain perca dan jahitan tangan saya sendiri.  Berarti waktu itu saya masih umur 6 dan 7 tahun hehe..masih cupu cupu sudah berjualan. Dan ketika saya menjalaninya kembali saat ini, rasanya Fun sekali, :D

Selamat menemukan hobby mu yang bisa di monetize :D



20 November, 2017

Groningen, NL

Real Feel Minus-1 Derajat