Beradaptasi dengan Perbedaan

Dua hari yang lalu saya menonton tayangan TED tentang kenapa kita perlu mendengar seseorang yang berbeda pendapat dengan kita? Tayangan lengkapnya dapat di cek di youtube berikut TED-Why it's worth listening to people you disagree with | Zachary R. Wood

Cerita bermula ketika Zachary mengalami masa anak-anak yang kurang menyenangkan. Mulai dari hubungan dengan ibunya yang menderita schizophrenia dan stereotip teman-temannya bahwa sebagai orang kulit hitam dia lebih cocok sebagai pemain  basket padahal kecintaannya adalah membaca, menulis dan berbicara. Namun kejadian masa kecil hingga remaja tersebut merupakan titik kali pertama beliau belajar untuk mendengar seseorang yang berbeda pendapat dengannya sekalipun dari seorang ibu yang menderita mental illness atau orang yang punya stereotip terhadap dirinya.

Berbicara tentang perbedaan ini, saya jadi teringat salah satu mata kuliah yang paling berkesan saat kuliah S2 yaitu Intercultural Competence. Mata kuliah ini secara umum mengajarkan bagaimana kita tidak iritasi dengan perbedaan. Selama mata kuliah ini, kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 warganegara. Kelompok tersebut diberi case tentang skandal Volks Wagen dan masing-masing anggota kelompok memiliki peran masing-masing. Ada yang sebagai CEO, CFO, PR dan lain-lain. Kelompok tersebut tidak hanya terdiri dari satu jurusan. Namun ada jurusan International Komunikasi, International Busines, MBA dan masing-masing mengajukan diri untuk posisi yang diinginkan sesuai background pendidikan atau keahlian masing-masing.

Saat itu saya memilih sebagai CFO. Saya kemudian membuat analasis laporan keuangan VW dan beberapa skenario untuk merecovery perfomansi keuangan setelah skandal tersebut.  Setelah diskusi kelompok tuntas, beberapa hari kemudian tim kita di challange oleh 2 orang profesor tentang pendekatan yang kita gunakan untuk menyelesaikan masalah VW. Diskusi tersebut adalah salah satu diskusi kelompok ter ''alot'' yang pernah  saya hadapi. Dikelompok saya ada orang Arab, Libia, Mexico, Canada, Belanda, Bangladesh, Vietnam, Sudan, China dan saya sendiri Indonesia.

Awalnya, saya berencana untuk memilih posisi aman saja. Namun ide teman saya yang Mexico dan Belanda, membuat saya memutuskan untuk bicara. Saya gk mau kelompok ini fail, karena mengumpulkan 10 orang susah sekali untuk repair. Namun dibalik itu, saya bersyukur satu kelompok dengan teman saya yang berasal dari Mexico tersebut karena ke vokal-anya semua anggota jadi bicara haha. Saya gk kebayang kalau ada teman yang dari Amerika yang sekelompok dengan kami, which is dunia mengenal dua negara ini jarang akur. Mungkin diskusinya bisa heboh lagi :D.

Btw, kelompok diskusi yang beragam ini adalah kondisi sehari-hari yang saya hadapi selama masa perkuliahan. Bahkan dikampus saya komposisi penilaian tugas adalah 80% dari tugas kelompok, 20% dari tugas Individu. Untuk beberapa kelompok, I was very lucky'' seperti kelompok saat membahas kasus VW dan kelompok saat membahas kasus Shell pada mata kuliah Board Invitation. Namun untuk beberapa kelompok, our group was very damn..hihihi. Bahkan ada satu mata kuliah yang kita baru lulus setelah repair yang ke-3 kali. Padahal maximal repair itu hanya 2 kali, untuk yang ketiga kali kamipun harus mengajukan permohonan ke exam board.

Lalu apa yang membuat kita sulit beradaptasi dan mendengar pendapat orang yang berbeda dengan kita? Sebuah jurnal yang di tulis oleh LaRay M Barna (1994) Stumbling Block in Intercutural Competence, disebutkan beberapa hal yang menghambat seorang berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda:
  1. Mengasumsikan bahwa semua orang itu sama (Assumtion of similarity). Sederhananya, karena menganggap seseorang itu sama dengan kita membuat kita cendrung memperlakukan seseorang sesuai style kita. Sedangkan orang yang bersangkutan belum tentu bisa menerima.
  2. Perbedaan bahasa (Languange differences). Ini pastinya dong yaa. Orang yang bahasa ibunya bahasa inggris, dengan kita yang belajar bahasa inggris setelah dewasa tidak akan mendapatkan '''feel'' seperti orang yang bahasa ibunya bahasa inggris tersebut walaupun saat itu kita sama-sama ngomong pakai bahasa inggris. Apalagi ketika bahasanya benar-benar beda. Kita aja kadang sulit nyambung dan mengerti bahasa melayu walaupun satu rumpun. Beberapa pilihan kata yang seolah sedikit kasar untuk kita, sama orang Malaysia biasa aja dan sebaliknya. Itulah kenapa ketika menulis thesis/jurnal/tugas yang berbahasa inggris, kita membutuhkan native sebagai proof reader.
  3. Salah inteprestasi bahasa non verbal (Nonverbal Misintepretation). Saya ingat ketika teman saya yang Iran bercerita tentang pengalamannya saat berada di kuala lumpur. Dia salah menggunakan bahasa non verbal yang bagi orang melayu itu  maknanya genit dan kurang sopan hahaha.
  4. Stereotype. Nah ini salah satu hal-hal yang harus hati-hati menempatkannya. Jika salah dapat menyebakan perpecahan antar kelompok/suku/negara. Misal kita melabeli orang dari negara X, cendrung kasar. Lalu saat bertemu dengan orang dari negara tersebut, langsung ilfeel. Atau bisa jadi saat komunikasi awal biasa saja, namun ketika yang bersangkutan melakukan kesalah kita langsung menyangkut pautkan dengan stereotip yang melekat kepada kelompok/negaranya.
  5. Tedency to evaluate. Bahasa lainnya suka nge Judge sebelum melihat segala sesuatunya secara menyeluruh.
  6. High Axienty. Kecemasan secara berlebihan dapat menghambat seseorang bias dalam mengkomunikasikan pendapatnya ataupun memahami orang lain.
Hal diatas dapat menyebabkan kita berbeda pandangan dengan orang lain. Lalu bagaimana caranya bersedia mendengar pendapat orang berbeda dengan kita? Salah satunya, hindari ke-6 hal diatas, buang ego dan  yakini bahwa bisa jadi penyebab kita berbeda dengan mereka bukan karena mereka tidak suka namun karena ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Ada ucapan yang sangat menarik disampaikan Zachary dalam video tersebut:" We get stronger, not weaker by enganging the ideas and people we diasgree with''

Saya akui saat sekolah S2 di Belanda cukup babak belur. Namun selama kuliah saya belajar menerima perbedaan dan mendengar perbedaan. Menekan ego untuk tidak merasa pendapat saya paling benar atau saya paling penting. Juga belajar untuk tidak melabeli diri sendiri sebagai orang asia yang cendrung menerima dan malas berdebat. Kalau memang pendapat tersebut harus disampaikan, silahkan sampaikan.

Oh ya salah satu penyebab kenapa saya pernah punya kelompok parah banget sampai repair hingga 3 kali, menurut saya karena anggota kelompok saya itu homogen secara karakter. Kami semua tipikal ngomongnya irit dan takut menyinggung perasaan orang lain. Saya pikir, untuk menggerakan kelompok ini butuh teman saya yang orang India, senang ngomong tapi malas nulis hahaha atau teman saya yang Jerman/Belanda yang ngomong celometan tanpa tendeng aling-aling.  Perbedaan itu justru yang akan membuat kelompok hidup.

Btw,  saya akan buat judul khusus tentang pengalaman saya menghadapi teman-teman kelompok saat kuliah. Ada yang menyenangkan ada juga anggota kelompok yang nyebalin sampai adu mulut..haha. Memang kultur belajar kita yang cenderung adem ayem dan sungkan mengungkapkan pendapat beda banget dengan kultur belajar di negara Eropa yang orang-orangnya berani mengeluarkan pendapat sekalipun apa yang ditanyakan terdengar konyol :D

Jakarta, 18 Juli 2019