Anyway, disadari atau tidak makanan adalah satu alasan kita kembali kesebuah tempat. Bahkan salah satu tempat yang cukup anti mainstream yang saya kunjungi bagi kebanyakan orang yaitu Timor Leste punya kenangan tersendiri. Jika kembali kesana saya sudah tahu salah satunya yang akan saya tuju yaitu Nasi Biryani di Timor Plaza yang dimasak oleh chef Pakistan dan Sup ikan Bayuwangi. Percaya atau tidak, saya justru menemukan nasi Biryani yang enak itu bukan di negara arab 😁 yaitu di Dili, Timor Leste dan di Nagoya, Jepang. Pernah juga mencoba nasi biryani dari salah satu restoran pakistan di Jalan Jabal Omar dekat Masjidil Haram, namun tetap lebih enak nasi Biryani di Dili dan di Nagoya.
Lucunya lagi, jika Turki identik dengan kebab, saya justru lebih menyukai Kebab Hasret di Groningen😁. Mungkin karna waktu itu jangkauan jelajah saya hanya sekitar Istanbul dan seputar daerah destinasi turis jadi tidak menemukan warung kebab yang sesuai ekspektasi saya. Bisa saja kebab di warung-warung kecil lebih enak, lebih original. Namanya baru sekali datang kesana, tentu saja andalan nya cuma googling :D.
Lalu kenapa saya suka Kebab di Groningen? karena dagingnya royal haha. Kebab wrap atau yang biasa disebut Durum di Groningen itu terlihat ginuk-ginuk saking padatnya isi sayuran dan dagingnya. Soal rasa, persis kayak Kebab Turki. Hasil baca-baca, ternyata daging kebab yang ada di Belanda kebanyakan import dari Jerman which is di Jerman banyak banget diaspora Turki. Gk hanya di Groningen, di banyak tempat di Belanda kebabnya enak-enak. Saya juga punya tempat langganan beli kebab waktu di Leiden.
Lalu kenapa saya suka Kebab di Groningen? karena dagingnya royal haha. Kebab wrap atau yang biasa disebut Durum di Groningen itu terlihat ginuk-ginuk saking padatnya isi sayuran dan dagingnya. Soal rasa, persis kayak Kebab Turki. Hasil baca-baca, ternyata daging kebab yang ada di Belanda kebanyakan import dari Jerman which is di Jerman banyak banget diaspora Turki. Gk hanya di Groningen, di banyak tempat di Belanda kebabnya enak-enak. Saya juga punya tempat langganan beli kebab waktu di Leiden.
Berikut ini makanan apa saja yang pengen bangeeet saya beli jika kembali ketempat tersebut:
1. Belanda:
Makanan favorit saya adalah Kebab, Milsani Greek Yoghurt, Speculaas, Frozen Croissant mini yang di ALDI, steak Babilonia (Halal), ketang goreng Smuller, frozen salmonnya Aldi lalu Alpukat di wingkle centrum Kajuit. Penting banget ya alpukat :D? ya iyalah karena harganya cuma 1 Euro perkilo dan isinya jarang gagal, mirip alpukat menetega😁. Saya gk tahu import dari mana secara kan gk ada pohon alpukat di Belanda :D.
2. Cambridge
Makanan Favorit saya di Cambride adalah Pepe. Waktu balik ke Belanda sempat-sempatnya saya mikir gimana bawa Pepe ini sampai Groningen padahal koper saya hanya sisa 0,1 Kg :D. Pepe itu sebenarnya sejenis nasi biryani di box tapi enaaaak banget. Perpaduan kari dan daun jeruknya gk ada tandingan. Saya paling senang pesan Pepe yang nasinya agak wet (agak basah), karena rasa karinya makin nendang. Rasa karinya gk yang eneg tapi fresh dan bikin nagih. Ada pedasnya dikit, ada asemnya, ada daun kari/daun jeruk. Nah berhubung ini harganya mahal untuk kantong mahasiwa, saya beli Pepe hanya setelah ujian atau habis tugas-tugas selesai. Hitung-hitung sebagai reward hihi.
3. Mekah
Favorit saya di Mekah adalah Chay Tea yang di jual di tower hotel milenium lantai bawah. Bisa masuk dari pintu yang dekat KFC. Kalau gk salah nama tokonya Sultan. Chay Tea ini favorit karna harganya murah banget dan rasanya enak banget. Kalau gk salah hanya 3 Riyal. Jauh lebih murah dan lebih enak dari pada Chai Tea di Zamzam Tower yang rata2 harganya 6 sd 8 Riyal.
Beberapa kali terserang Gejala Flu dan radang tenggorokan, alhamdulillah sembuh setelah minum Chay Tea ini. Karena teh ini kaya rempah. Waktu Umroh akhir ramadhan 2019, lepas taraweh dan sambil menunggu qiyamullail adalah waktu favorit saya mimum Chai Tea bersama suami sambil melihat jamaah yang lalu lalang di plataran masjidil haram. What a beautiful view !!
4. Bergen, Norwegia
Anw, selama di Norwey saya gk banyak explore kuliner. Karna udah terpesona dulu sama alamnya. Tapi saya menukan cinammon buns yang enak dekat Bryggen. Usut punya usut ternyata Cinnamon Buns itu makanan khas kota Bergen atau istilahnya disebut Skillingbolle. Wish list awal waktu sampai di Bergen adalah pengen makan Salmon banyak-banyak. Namun selama disana cukup sering hujan sehingga kurang nyaman untuk mengunjungi Fish Marketnya.
5. Munich
Perjalanan Munich-Austria adalah perjalanan dengan pemandangan yang ter wow menurut saya. Melihat pemandangan di buku cerita anak-anak seperti nyata di depan mata. Landscape yang hilly, rumput hijau sepanjang mata memandang dan deretan rumah yang damai banget dengan pekarangan terbuka. Sempat berkata dalam hati, jika dapat rejeki balik ke Munich lagi mungkin akan prefer pakai mobil menyusuri pemandangan yang sangat indah tersebut.
Tentang kuliner, di stasiun Munich ada tempat jual aneka kue yang pilihannya banyak banget. Sejenis kue-kue fresh oven. Namun beli ini agak tricky karena inikan makanan fresh, tidak ada kemasan yang ada tulisan ingredientnya. Biasanya kalau makanan kemasan kita bisa cek kehalalan melalui kode Emulgator (E) nya. Nah kalau mau beli kue ini, jangan malu malu bertanya sebelum beli.
Semakin lama tinggal disebuah tempat pasti juga akan banyak menemukan makanan yang enak. Gk mesti warung-warung besar. Kadang makanan yang rasanya masih original justru di warung-warung kecil. Di antara tempat tersebut, waktu yang paling banyak saya habiskan memang di Belanda. Yang saya sebut diatas baru sebagian aja. Apalagi kalau bicara grocery nya, gk akan cukup waktu menulisnya. Kadang lucu aja si, pas awal nyampai di Belanda segala macam makanan Indonesia saya bawa. Namun ketika udah for good di Indonesia, saya rasanya pengen Jastip makanan Belanda :D. Selera bisa beruba.
Semakin lama tinggal disebuah tempat pasti juga akan banyak menemukan makanan yang enak. Gk mesti warung-warung besar. Kadang makanan yang rasanya masih original justru di warung-warung kecil. Di antara tempat tersebut, waktu yang paling banyak saya habiskan memang di Belanda. Yang saya sebut diatas baru sebagian aja. Apalagi kalau bicara grocery nya, gk akan cukup waktu menulisnya. Kadang lucu aja si, pas awal nyampai di Belanda segala macam makanan Indonesia saya bawa. Namun ketika udah for good di Indonesia, saya rasanya pengen Jastip makanan Belanda :D. Selera bisa beruba.
Jakarta, 24 Nov 19
Mèngisi 2WW
Mèngisi 2WW