Dulu awal awal memutuskan sekolah, manusiawi banget jika kadang hati kecil saya berperang. Pengen meng upgrade ilmu karena udah cukup lama terbenam rutinitas namun tersandung dengan pertanyaan yang sering banget mengusik ''apa sih yang mau dikejar?''. Belanda lo? Pesawat kalau direct aja16 jam. Dari keraguan yang tarik ulur itu kemudian saya pahami, jika segala sesuatu terlihat abu-abu maka evaluasi lagi niat. In syaa allah kalau niatnya baik pasti Allah tuntun. Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa esensi dari sebuah aktivitas itu adalah niat.
Si A dan si B bisa aja sama-sama pergi mancing, di hari yang sama, di jam yang sama dan lokasi sungai yang sama namun siapa diantara keduanya yang lebih diberkahi. Tentu saja yang niat paling baik diantara yang baik. Bisa jadi jadi si A niat nya melakukan hobi, referesing sambil ngobrol ngalor ngidul sama teman. Bisa jadi si B, niatnya mancing agar keluarga bisa dapat makanan yang bergizi dan halal meski dengan uang belanja yang pas pas an. Tentu beda dong yang niatnya mancing sekedar hobi dengan yang niatnya mancing memberi nafkah keluarga. Ilustrasi yang sederhana kan?
Seiring berjalannya waktu, berganti hari dan musim saya meyakini mengambil sekolah keluar negeri adalah keputusan yang tepat. Terkadang kita dibatasi oleh pikiran dan pandangan sebagian orang. Padahal selama disana banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Ada pengalaman indah ketika berpuasa 19 jam, pengalaman bertemu komunitas Indonesia yang sangat semangat untuk belajar agama dengan Uztaz yang terbatas bahkan berjarak 3 jam pun kita kunjungi, pengalaman lebih-hati hati dengan apa yang kita makan, pengalaman sembunyi-sembunyi untuk sholat bahkan gelisah kalau waktu nya udah mepet banget karena cari tempat sholat susah :D.
Percaya atau enggak, ketika melihat orang-orang yang berbeda kulit, rambut dan bahasa, hatipun semakin yakin bahwa Allah memang menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Atau ketika melihat salju turun dari langit. Saya yang gk pernah lihat salju jadi terpukau melihat kebesaran-NYA, turun begitu cantik seperti kapas putih dari balik jendela kamar.
Jujur Saya lebih banyak waktu bertafakur justru saat di Belanda. Banyak berserahnya justru saat di Belanda. Kalau ada apa-apa bergantungnya ya cuma sama Allah. Istilahnya saya hanya orang asing yang datang dari tempat beribu ribu km jauhnya dari sini. Padahal selama di Indonesia, karna tahu kampung sendiri jadi banyak ngeyelnya.
Bahkan salah satu pengalaman yang manis sekali buat saya adalah ketika bisa haji dari Belanda. Sebelumnya saya sudah daftar haji reguler dan dapat kuota untuk tahu 2031. Namun ketika saya tahu pelajar bisa berangkat haji (dengan beberapa ketentuan administrasi), saya jadi semangat menabung Euro demi Euro beasiswa saya. Berhematnya lebih ada tujuan. Alhamdulillah, bisa berangkat haji 14 tahun lebih cepat justru saat di Belanda.
Bahkan salah satu pengalaman yang manis sekali buat saya adalah ketika bisa haji dari Belanda. Sebelumnya saya sudah daftar haji reguler dan dapat kuota untuk tahu 2031. Namun ketika saya tahu pelajar bisa berangkat haji (dengan beberapa ketentuan administrasi), saya jadi semangat menabung Euro demi Euro beasiswa saya. Berhematnya lebih ada tujuan. Alhamdulillah, bisa berangkat haji 14 tahun lebih cepat justru saat di Belanda.
Jadi jangan semudah itu hanyut dengan alasan-alasan yang dibuat-buat diri sendiri atau dibuat-buat orang lain. Selama dapat ijin orang tua, keluarga, go a head! Saya sedih jika ada yang menggunakan alasan negeri kafir. You know why?karena sahabat yang saya kenal baik yang dulu hidupnya HIP-HOP justru dapat hidayah saat di Belanda. Mohon maaf ya, ilmu saya ini sangat cetek kalau di ajak untuk berdebat. Saya juga tidak mau menghakimi pendapat tersebut salah. Kalau ada yang niatnya itu tidak mau menuntut ilmu karena bukan negeri muslim dan niatnya lillahitaála, tidak ada yang salah. Karena hanya kita dan Allah yang tahu isi dalam hati. Apakah kita takut karena Allah atau takut karena anggapan manusia atau suatu kelompok. Namun yang saya sadari, semakin saya jauh berjalan, semakin saya merasa kecil. I am nothing!
Jakarta, 25 November 2019
Mengisi 2WW
Mengisi 2WW