Secara pribadi, saya sendiri baru mulai mencoba usaha kecil sejak 3 tahun yang lalu. Itupun motivasinya untuk mengisi waktu, saya menjalani tanpa beban, dan menyeimbangkan aktivitas. Tapi mengalami dan melihat langsung bagaimana jatuh bangunnya menjalankan usaha kecil sudah saya rasakan sejak saya SD, bisa di bilang lebih dari 20 tahun. Saya lihat ayah ibu saya, kakak saya, menjalankan usaha tapi benar benar belum mengerti risiko, manajemen, pecatatan keuangan. Yang penting dagangan habis dan bisa hidup sehari hari. Sehingga saat itu, menjadi enteprenuer bukan pilihan karir saya dan sangat risky dimata saya.
Di era sekarang, kesempatan membuka usaha kecil lebih terbuka. Bahkan sudah menjadi trend anak muda dan bukan lagi pilihan hidup yang di pandang sebelah mata. Cara mereka menjalankan usahapun lebih kreatif, baik dari segi produk ataupun jaringan pemasaran. Anak anak muda jaman dulu, kalau mulai menjalankan usaha kecil kecilan menjadi pilihan karir yang mengkwatirkan bagi orang tua. Saat ini, tidak jarang dari mereka menjalankan usaha dan juga memiliki pekerjaan tetap. Kalau ada yang memilih full-time sebagai enteprenuer, banyak diantara mereka yang motivasinya bukan 100% profit tapi ingin menjadi anak muda yang punya '' social impact''.
Sebelum berangkat ke Belanda, saya pernah membuka usaha kecil yang motivasinya saat itu hanya ingin mengisi waktu, membuat hidup lebih bervariasi dan berkenalan dengan orang baru yang selama ini hanya seputar kantor dan kantor saja. Hidup yang terlalu kaku, jalan ditempat sering membuat kita menjadi orang yang negatif. Padahal sewaktu saya kuliah, saya bukan tipe orang yang demikian. Ide dalam kepala dan semangat saya itu gk padam-padam, energinya positif anti baper haha.
Singkat cerita, saya mulai melirik tumpukan kain tenun ikat dan batik tulis yang bikin lemari saya penuh. Kain-kain ini harus jadi sesuatu dari pada sekedar pajangan atau bikin lemari tidak rapi. Saya lalu mengambil kursus singkat pembuatan tas berbahan kulit. Dari kursus ini kemudian saya kombinasikan tas tas tersebut dengan batik tulis dan tenun ikat yang saya punya.
Saya ingat pertama kali mencoba, saya bikin 20 buah dompet. Saya bagian memotong kain, membuat sketas dompet dan bagian jahit saya serahkan ke home industry milik salah satu pengajar saya. Setelah selesai, dompet dompet tersbut tidak urung saya jual. Karna saya merasa tidak punya kemampuan dalam hal marketing. Hanya saya tumpuk dan baru saya jual hampir satu tahun kemudian..haha. Karna saya tidak mau kegiatan tambahan ini menganggu aktivitas utama saya (ngantor), akhirnya saya pasarkan online, cukup upload foto di beberapa marketplace online lalu biarkan prosesnya diatur oleh admin. Tidak pernah sekalipun saya kenalkan ke teman-teman kator.
Sebelumnya, saya hanya pelaku aktif dalam pembelian online. Apa-apa sepertinya saya beli online. Kalau ada yang jual sayur dan ikan online, mungkin saya juga akan beli online. Dari pada harus mampir-mapir ketoko ini ke toko itu sehabis pulang kerja.
Kebiasaan saya pembeli online itu kemudian menjadi acuan ketika saya menjadi penjual. Sebagai pembeli online yang membuat saya puas dan percaya terhadap satu toko online adalah: Responnya cepat, berani menerima retour, mendeskripsikan barang sejujurnya, dan terkadang saya semakin loyal terhadap sebuah toko online ketika mereka memberi bonus yang tidak saya kira-kira..hehe.
Pertama fast reponse: Saya pernah niat sekali membeli barang di sebuah toko online, tapi pesan saya baru di balas beberapa jam kemudian atau bahkan ada yang lewat hari. Sebagai pembeli pikiran saya mudah aja si, ini yang jual pasti gk serius atau jangan-jangan barang yang di jual barang barang semu.
Kedua, berani menerima retour. Beberapa toko kadang membuat aturan tidak menerima order retur barang. Ahh, kalau ini saya pasti mundur menjadi calon pembeli. Simple aja sih, toko ini takut banget dengan kualitas barang yang mereka jual atau gk mau ribet.
Ketiga, mendeskripsikan barang sejujurnya. Aspek ini penting banget buat saya. Jujur adalah segala-galanya. Kenapa? karna saya menilai pelanggan saya orang pintar. Dia bisa bandingkan harga, model, motif, bahan dengan produk produk lain. Pelanggan saat ini sudah tidak bisa di brainwash.
Saya ingat salah seorang pelanggan saya, bingung membeli dua motif dompet. Dompet itu di beli untuk hadiah seorang temannya yang berumur 50 tahunan. Dia minta pendapat saya hehe. Karna saya yang lihat langsung dompet tersebut tidak melalui foto, maka saya sarankan dompet yang X. Alhamdulillah si mbanya puas dan malah repurchase. Atau ketiga ada calon pembeli yang beli direct lewat instagram. Ceritanya pelanggan tersebut sudah transfer, tapi sebelum transfer saya bilang kalau saya baru bisa mengirimnya pagi besok, karna barangnya di rumah dan saya nyambi kerja. Si mba nya bilang ok. Hal begitu bagi saya wajib di bicarakan karna tidak mau ada salah sangka, kenapa barang belum dikirim dan biasanya kalau sudah transfer apalagi pembelian langsung begini (maksudnya tidak lewat BL, Tokped, telat sedikit gampang membuat pelanggan sesitif. Intinya saya bikin komunikasi saya natural, jujur dan reachable wkwkw. Jangan kemudian setelah uangnya di transfer, si penjual malah lambat respon. Ini pernah kejadian waktu saya membeli sebuah CD senam dan strap kulit kamera miroless..padahal yang jual lokasinya di Solo dan di Jogja (Gk jauh dari tempat tinggal saya di Jogja). Eh, penjual dengan santainya bilang, ini yang beli bukan mba aja, ada yang lain. Kalau yang jual strap kamera masih profesional si jawabnya (walaupun saya nunggu sampai 3 minggu), alasannya pengerjaannya handmade.
Saya juga pernah meangguhkan pembeli hingga saya kirim 1 minggu karna alasan yang teknis banget. Barangnya tersedia, tapi saya sedang tidak bisa ke expedisi (maklumlah saya kan belum bisa gaji admin, jadi handle end to end hehe), padahal si marketplace online tersebut hanya memberi waktu 3 hari max setelah transfer. Tapi Alhamdulillah si pembelinya paham dan malah bilang semoga cepeat sembuh ya mba, hehe..oh iya waktu itu saya lagi bed rest. Kalau saya sebagai pembeli, saya hanya butuh kepastian gimanapun kondisi penjua;, keep contact dengan pelanggan dan jangan takut kalau pelanggan retour hanya karna waktu pengiriman tidak cocok. Kan lebih ngenes lagi, pelanggan ternyata butuhnya 2 hari kemudia tapi penjual kurang gercep mengirimkannya bahkan minus kabar.
Ke empat, bonus mungkin hal kecil tapi berharga sekali buat pelanggan. Saya rasa itu juga kenapa beberapa merek terkenal dari beberapa skincare memiliki pelanggan loyal karna biasanya setiap pembelian di kasih tester produk lain. Dan beberapa testernya itu bukan sebesar ukuran shampo sachet lo. Bahkan ukuran travel size yang bisa di pakai seminggu hingga 30 hari. Nah saya pernah memberi bonus dompet untuk pembelian tas dan pernah juga free box cantik untuk birtday gift. Alhamdulilah mba yang beli senang banget. Saya ingat, si pelanggan minta dikirimkan paket post express karna mau buat kado. Sekalian saja, saya bungkusi dengan kotak kado cantik sebelum saya post.
Saat saya melakukan hal ini, saya hanya memposisikan diri saya sebagai pelanggan. Itu saja..hehe
Walaupun penjualannya belum fantastis karna saya garap di sela-sela waktu luang, alhamdulillah saya belum mendapat response negatif. Seminggu itu paling gk saya shipping 1 sd 3 kali dompet atau tas. Channel distribusinya hanya menafaat kan yang gratis gratis saja,bukalapak, tokopedia, qlapa.
Oh ya, pernah saya sekali mendapat komplain karna aroma kulit terlalu kuat dan waktu pengiriman saya gk ngecek silica gel. Lalu saya bilang ke pelanggannya (melalui admin Qlapa). Saya minta maaf dan bersedia mengembalikan uang pelanggan. Eh, pelanggannya malah gk mau balikin barang hehe. Karna saya memang gk memproduksi satu motif tas secara massal, jadi beliau tidak bersedia saya ganti motifnya.
Admin Qlapa sempat bilang :'' Kalau barangnya dikembalikan, maka review yang terlanjur di beri pelanggan tidak akan bisa di ubah kakak''. Lalu saya jawab, wah gk apa-apa, yang penting pelanggan saya gk kecewa. Biar lah review itu pelajaran buat saya, tetapi kalau pelanggan membeli barang dan merasa tidak sesuai dengan deskripsi dan kualitasnya misal kulitnya jelek, batiknya ternyata printing padahal saya informasikan tulis, jahitannya gk rapi, bla..bla, ini malah jadi beban buat saya. Saya tidak mau pelanggan saya merasa membeli barang yang mubazir, over rated, merasa kemahalan padahal kualitasnya biasa-biasa saja.
Sudah 1 tahun saya tidak menggarap toko online saya lagi, sejak memutuskan sekolah di Belanda. Selama disini saya juga mendapat pengalaman menarik jual beli online di negara ini. In syaa allah, setelah tamat saya akan kembali lagi. Pernah ada yang bertanya ke saya, kenapa kamu memutuskan membuat usaha kecil padahal kamu sudah mempunya pekerjaan tetap. Lalu saya jawab, saya dulu juga orang yang skeptis terhadap orang orang yang memutuskan karir membuka usaha. Karna punya ketakutan penghasilan yang tidak pasti ketika melihat perjuangan orang tua saya. Tetapi ketika saya terjun, saya merasakan ketika saya menjadi pegawai kantor saya memahami sebagian kecil bisnis proses. Tapi ketika saya memulai usaha, saya jadi tahu semua proses bisnis end to end.
Kalau ada yang bertanya, apakah suatu saat saya mau melepaskan pekerjaan saya? Saya jawab tidak, karna untuk kebutuhan sehari hari saya ingin dari gaji saya. Dan saya tidak mau mencampur adukan urusan kantor dan usaha sampingan saya. Kegiatan ini saya anggap sebagai bentuk saya mengaktualiasasikan diri ke lingkungan yang lebih luas dan ingin lebih punya sosial value. Alhamdulillah kantor saya sekarang, kebijakan untuk pengembangan karyawanya snagat bagus dan sebenarnya tidak punya alasan untuk resign. Hanya saja waktu itu saya agak sedikit jenuh, sehingga pada titik itu saya butuh melakukan aktivitas yang istilanhnya "breaking the ice block"'. Dan saya memilih mendalami hobby menjahit yang pernah amat saya tekuni waktu masih sangat SD. Waktu itu kelas 1 dan kelas 2 SD, saya sudah mulai berjualan ikat rambut dari kain perca dan jahitan tangan saya sendiri. Berarti waktu itu saya masih umur 6 dan 7 tahun hehe..masih cupu cupu sudah berjualan. Dan ketika saya menjalaninya kembali saat ini, rasanya Fun sekali, :D
Selamat menemukan hobby mu yang bisa di monetize :D
20 November, 2017
Groningen, NL
Real Feel Minus-1 Derajat
Sebelum berangkat ke Belanda, saya pernah membuka usaha kecil yang motivasinya saat itu hanya ingin mengisi waktu, membuat hidup lebih bervariasi dan berkenalan dengan orang baru yang selama ini hanya seputar kantor dan kantor saja. Hidup yang terlalu kaku, jalan ditempat sering membuat kita menjadi orang yang negatif. Padahal sewaktu saya kuliah, saya bukan tipe orang yang demikian. Ide dalam kepala dan semangat saya itu gk padam-padam, energinya positif anti baper haha.
Singkat cerita, saya mulai melirik tumpukan kain tenun ikat dan batik tulis yang bikin lemari saya penuh. Kain-kain ini harus jadi sesuatu dari pada sekedar pajangan atau bikin lemari tidak rapi. Saya lalu mengambil kursus singkat pembuatan tas berbahan kulit. Dari kursus ini kemudian saya kombinasikan tas tas tersebut dengan batik tulis dan tenun ikat yang saya punya.
Saya ingat pertama kali mencoba, saya bikin 20 buah dompet. Saya bagian memotong kain, membuat sketas dompet dan bagian jahit saya serahkan ke home industry milik salah satu pengajar saya. Setelah selesai, dompet dompet tersbut tidak urung saya jual. Karna saya merasa tidak punya kemampuan dalam hal marketing. Hanya saya tumpuk dan baru saya jual hampir satu tahun kemudian..haha. Karna saya tidak mau kegiatan tambahan ini menganggu aktivitas utama saya (ngantor), akhirnya saya pasarkan online, cukup upload foto di beberapa marketplace online lalu biarkan prosesnya diatur oleh admin. Tidak pernah sekalipun saya kenalkan ke teman-teman kator.
Sebelumnya, saya hanya pelaku aktif dalam pembelian online. Apa-apa sepertinya saya beli online. Kalau ada yang jual sayur dan ikan online, mungkin saya juga akan beli online. Dari pada harus mampir-mapir ketoko ini ke toko itu sehabis pulang kerja.
Kebiasaan saya pembeli online itu kemudian menjadi acuan ketika saya menjadi penjual. Sebagai pembeli online yang membuat saya puas dan percaya terhadap satu toko online adalah: Responnya cepat, berani menerima retour, mendeskripsikan barang sejujurnya, dan terkadang saya semakin loyal terhadap sebuah toko online ketika mereka memberi bonus yang tidak saya kira-kira..hehe.
Pertama fast reponse: Saya pernah niat sekali membeli barang di sebuah toko online, tapi pesan saya baru di balas beberapa jam kemudian atau bahkan ada yang lewat hari. Sebagai pembeli pikiran saya mudah aja si, ini yang jual pasti gk serius atau jangan-jangan barang yang di jual barang barang semu.
Kedua, berani menerima retour. Beberapa toko kadang membuat aturan tidak menerima order retur barang. Ahh, kalau ini saya pasti mundur menjadi calon pembeli. Simple aja sih, toko ini takut banget dengan kualitas barang yang mereka jual atau gk mau ribet.
Ketiga, mendeskripsikan barang sejujurnya. Aspek ini penting banget buat saya. Jujur adalah segala-galanya. Kenapa? karna saya menilai pelanggan saya orang pintar. Dia bisa bandingkan harga, model, motif, bahan dengan produk produk lain. Pelanggan saat ini sudah tidak bisa di brainwash.
Saya ingat salah seorang pelanggan saya, bingung membeli dua motif dompet. Dompet itu di beli untuk hadiah seorang temannya yang berumur 50 tahunan. Dia minta pendapat saya hehe. Karna saya yang lihat langsung dompet tersebut tidak melalui foto, maka saya sarankan dompet yang X. Alhamdulillah si mbanya puas dan malah repurchase. Atau ketiga ada calon pembeli yang beli direct lewat instagram. Ceritanya pelanggan tersebut sudah transfer, tapi sebelum transfer saya bilang kalau saya baru bisa mengirimnya pagi besok, karna barangnya di rumah dan saya nyambi kerja. Si mba nya bilang ok. Hal begitu bagi saya wajib di bicarakan karna tidak mau ada salah sangka, kenapa barang belum dikirim dan biasanya kalau sudah transfer apalagi pembelian langsung begini (maksudnya tidak lewat BL, Tokped, telat sedikit gampang membuat pelanggan sesitif. Intinya saya bikin komunikasi saya natural, jujur dan reachable wkwkw. Jangan kemudian setelah uangnya di transfer, si penjual malah lambat respon. Ini pernah kejadian waktu saya membeli sebuah CD senam dan strap kulit kamera miroless..padahal yang jual lokasinya di Solo dan di Jogja (Gk jauh dari tempat tinggal saya di Jogja). Eh, penjual dengan santainya bilang, ini yang beli bukan mba aja, ada yang lain. Kalau yang jual strap kamera masih profesional si jawabnya (walaupun saya nunggu sampai 3 minggu), alasannya pengerjaannya handmade.
Saya juga pernah meangguhkan pembeli hingga saya kirim 1 minggu karna alasan yang teknis banget. Barangnya tersedia, tapi saya sedang tidak bisa ke expedisi (maklumlah saya kan belum bisa gaji admin, jadi handle end to end hehe), padahal si marketplace online tersebut hanya memberi waktu 3 hari max setelah transfer. Tapi Alhamdulillah si pembelinya paham dan malah bilang semoga cepeat sembuh ya mba, hehe..oh iya waktu itu saya lagi bed rest. Kalau saya sebagai pembeli, saya hanya butuh kepastian gimanapun kondisi penjua;, keep contact dengan pelanggan dan jangan takut kalau pelanggan retour hanya karna waktu pengiriman tidak cocok. Kan lebih ngenes lagi, pelanggan ternyata butuhnya 2 hari kemudia tapi penjual kurang gercep mengirimkannya bahkan minus kabar.
Ke empat, bonus mungkin hal kecil tapi berharga sekali buat pelanggan. Saya rasa itu juga kenapa beberapa merek terkenal dari beberapa skincare memiliki pelanggan loyal karna biasanya setiap pembelian di kasih tester produk lain. Dan beberapa testernya itu bukan sebesar ukuran shampo sachet lo. Bahkan ukuran travel size yang bisa di pakai seminggu hingga 30 hari. Nah saya pernah memberi bonus dompet untuk pembelian tas dan pernah juga free box cantik untuk birtday gift. Alhamdulilah mba yang beli senang banget. Saya ingat, si pelanggan minta dikirimkan paket post express karna mau buat kado. Sekalian saja, saya bungkusi dengan kotak kado cantik sebelum saya post.
Saat saya melakukan hal ini, saya hanya memposisikan diri saya sebagai pelanggan. Itu saja..hehe
Walaupun penjualannya belum fantastis karna saya garap di sela-sela waktu luang, alhamdulillah saya belum mendapat response negatif. Seminggu itu paling gk saya shipping 1 sd 3 kali dompet atau tas. Channel distribusinya hanya menafaat kan yang gratis gratis saja,bukalapak, tokopedia, qlapa.
Oh ya, pernah saya sekali mendapat komplain karna aroma kulit terlalu kuat dan waktu pengiriman saya gk ngecek silica gel. Lalu saya bilang ke pelanggannya (melalui admin Qlapa). Saya minta maaf dan bersedia mengembalikan uang pelanggan. Eh, pelanggannya malah gk mau balikin barang hehe. Karna saya memang gk memproduksi satu motif tas secara massal, jadi beliau tidak bersedia saya ganti motifnya.
Admin Qlapa sempat bilang :'' Kalau barangnya dikembalikan, maka review yang terlanjur di beri pelanggan tidak akan bisa di ubah kakak''. Lalu saya jawab, wah gk apa-apa, yang penting pelanggan saya gk kecewa. Biar lah review itu pelajaran buat saya, tetapi kalau pelanggan membeli barang dan merasa tidak sesuai dengan deskripsi dan kualitasnya misal kulitnya jelek, batiknya ternyata printing padahal saya informasikan tulis, jahitannya gk rapi, bla..bla, ini malah jadi beban buat saya. Saya tidak mau pelanggan saya merasa membeli barang yang mubazir, over rated, merasa kemahalan padahal kualitasnya biasa-biasa saja.
Sudah 1 tahun saya tidak menggarap toko online saya lagi, sejak memutuskan sekolah di Belanda. Selama disini saya juga mendapat pengalaman menarik jual beli online di negara ini. In syaa allah, setelah tamat saya akan kembali lagi. Pernah ada yang bertanya ke saya, kenapa kamu memutuskan membuat usaha kecil padahal kamu sudah mempunya pekerjaan tetap. Lalu saya jawab, saya dulu juga orang yang skeptis terhadap orang orang yang memutuskan karir membuka usaha. Karna punya ketakutan penghasilan yang tidak pasti ketika melihat perjuangan orang tua saya. Tetapi ketika saya terjun, saya merasakan ketika saya menjadi pegawai kantor saya memahami sebagian kecil bisnis proses. Tapi ketika saya memulai usaha, saya jadi tahu semua proses bisnis end to end.
Kalau ada yang bertanya, apakah suatu saat saya mau melepaskan pekerjaan saya? Saya jawab tidak, karna untuk kebutuhan sehari hari saya ingin dari gaji saya. Dan saya tidak mau mencampur adukan urusan kantor dan usaha sampingan saya. Kegiatan ini saya anggap sebagai bentuk saya mengaktualiasasikan diri ke lingkungan yang lebih luas dan ingin lebih punya sosial value. Alhamdulillah kantor saya sekarang, kebijakan untuk pengembangan karyawanya snagat bagus dan sebenarnya tidak punya alasan untuk resign. Hanya saja waktu itu saya agak sedikit jenuh, sehingga pada titik itu saya butuh melakukan aktivitas yang istilanhnya "breaking the ice block"'. Dan saya memilih mendalami hobby menjahit yang pernah amat saya tekuni waktu masih sangat SD. Waktu itu kelas 1 dan kelas 2 SD, saya sudah mulai berjualan ikat rambut dari kain perca dan jahitan tangan saya sendiri. Berarti waktu itu saya masih umur 6 dan 7 tahun hehe..masih cupu cupu sudah berjualan. Dan ketika saya menjalaninya kembali saat ini, rasanya Fun sekali, :D
Selamat menemukan hobby mu yang bisa di monetize :D
20 November, 2017
Groningen, NL
Real Feel Minus-1 Derajat