[ Netherland Story ] Bagaimana Mereka Memandang Kita (Sebagai Muslim)


Salah satu pengalaman hidup yang tak akan terlupakan selama saya bersekolah disini adalah dalam hal beribadah sebagai muslim contohnya ketika melaksanakan puasa atau mencari tempat tempat tersebunyi agar bisa sholat. In syaa allah akan saya tuliskan dalam judul khusus.

Tapi hari ini saya ingin sharing sedikit saat menghadiri pengajian. Apa ya nama pengajiannya..sejenis silaturahim dan pengajian yang diadakan keluarga Indonesia yang menikah dengan orang Belanda dan pasangan mereka Mualaf. Walaupun pengajian berbahasa belanda dan hanya sedikit yang saya mengerti tapi beberapa ibu ibu membantu saya menterjemahkannya. Dan Alhamdulillah, saya mengerti sedikiiit bahasa Belanda kursus saat pre-departure hehe.

Saat itu saya menghadiri pengajian ini karna ingin memberi semangat kepada teman saya. Entah kenapa melihat beliau bersuamikan mualaf dan melihat semangatnya yang luar biasa ingin memperdalam islam dan membimbing suaminya, memberi inspirasi sendiri bagi saya bahkan tak jarang melecut semangat.

Menghadiri pengajian ini seperti memeras otak wkwkw. Saya gk berlebihan lo mengatakannya. Karna selama pengajian  pembahasan sangat dalam. Para mualaf tersebut sangat kritis apalagi tipikal orang Belanda, direct dan sangat jujur ketika bilang setuju atau tidak setuju tanpa pandang bulu wkwkw. Pernyataan tentang bagaimana Alquran ini dipastikan kebenarannya, pertanyaan  hampir sama di ulang ulang setiap pengajian. Jujur saya juga pernah punya pertanyaan yang sama waktu masih ababil, tapi semakin alquran tersebut di pelajari, semakin terasa istimewa.  Saya belum bisa menceritakan secara gamblang, tapi rasakanlah experiencenya sendiri hehe. 

Waktu di Indonesia saya kayak orang super sibuk, tapi di Belanda justru menjadi kesempatan saya berdua dua dengan Alquran. Kadang membaca terjemahan Alquran, air mata saya mengalir begitu saja. Saya semakin berulang ulang membaca terjemahan alquran tersebut ketika saya merasa gelisah atau ketika ada pertanyaan-pertanyaan teman saya yang non-muslim seperti, saat saya tinggal di Inggris.

Saat itu saya tinggal dengan  pasangan suami istri yang salah satunya pendeta. Dan pertanyaan tentang why islam bla..bla sering di ajukan ke saya.  Jujur saya sama sekali tidak merasa tertekan atau tersinggung, karna as human mereka keluarga yang baik misal mereka sangat mengharagai ketika saya tidak maka pork dan hanya makan daging dari halal butcher., ketika si tante masak makanan yang ada dagingnya,  khusus buat saya akan pisahkan sebelum adonan di campur dengan daging. Hanya saja masalah keyakinan mungkin membuat mereka penasaran dengan saya. 

Nah kembali ke pengajian mualaf tadi ya. Seorang ibu sharing di forum tersebut yang kira kira artinya: Ada anak kecil di Belanda (sy tidak ingat nama lokasinya) main pistol pistolan lalu setiap mereka mengarahkan pistolnya kepada seseorang, anak itu bilang "'Allahu Akbar". Pas ditanya kenapa bilang begitu, si anak menjawah saya lihat di televisi.

Maaf ini pendapat pribadi saya ya, boleh setuju boleh tidak. Di beberapa media kita sering melihat kejadi demikian, sekelompok orang meneriakan Allahu Akbar ketika melaknat seseorang, menghukum seseorang, atau kalau di timur tengah mungkin kaitannya dengan senjata. Tapi ketika kejadian pada anak anak palestine melemparkan batu untuk mempertahankan tanah mereka dan mengucapkan Allahu Akbar setiap lemparannya, malah membuat saya sedih. Apalah arti sebuah batu di banding senjata yang super canggih yang bisa mentarget sasaran dari jarak jauh. Bagi saya ketika melempar batu dan mengucapkan Allahu akbar, adalah bentuk  mereka berserah. seolah olah berkata, saya hanya punya batu, saya punya Allah itu saja.

Saya sendiri, kadang sering lupa memaknai Allahu akbar dan berlalu artinya begitu saja. Padahal maknanya bisa bisa membuat sendi sendi kita lemas. Allah maha besar, saya bukan siap siapa dan tak berhak sombong kepada makhluk ciptaanya yang lain di Dunia, apalagi sombong kepada Allah.

Atau ketika merasa tidak percaya diri, buntu, ketakutan, gelisah, ucapan Allahu Akbar itu pun bagi saya obat. Karna saya punya Allah, nothing to be afraid of.


Yang menyedihkan adalah ketika kata yang maknanya sangat dalam ini, di identikan dengan simbol kebengisan, menghujat orang, menghakimi orang bahkan tak jarang diiringi dengan kata kata yang kasar.

Saya sependapat jika seorang tokoh di Idonesia mengatakan: Bagaimana mungkin seseorang mengucapkan Allahu Akbar, tapi kemudian  mengkerdilkan orang lain. Allahu Akbar itu kan suatu pengakuan bahwa kita sangat keciiil di mata Allah, sangat lemah, bahkan ketaatan kita kepada NYA bisa jadi tidak seberapa dibanding nikmat2 yang di berikan NYA. Jangan kemudian kita mengucapkan Allahu Akbar, tapi masih terbesit rasa sombong.

Tentu saja pemberitaan tentang muslim disini tidak se berimbang di Indonesia. Beberapa acara justru memberikan penjelasan yang tidak lengkap tentang islam. Salah satunya menurut pendapat teman saya adalah siaran "'Allah in Europe''. Sebuah dokumenter kehidupan muslim di Eropa tapi menyudutkan secara halus. Karna penasaran, saya coba lihat salah satu episodenya yang kebetulan berbahasa inggris (karna siaran ini bahasa utamanya Belanda). Ahh benar saja, ketika seorang wanita bercadar di wawancarai kenapa kamu bercadar, jawabannya hanya begini: Karna dengan begini akan membuat tuhan saya bahagia, dan itu adalah tujuan hidup saya. Padahal jilbab itu kalau dikaji akan luas banget, apalagi jawaban begini diberikan pada orang orang yang atheis atau agnostik, mereka akan bilang "woman miss handling", ketidak setaraan untuk perempuan, dll.

Disiaran tersebut, kehidupan orang orang islam di Eropa terkesan ekslusive sekali. Seolah olah seperti makluk asing. Padahal pada kenyataan, gk begitu begitu banget.  Masih bisa bergaul dengan orang-orang secara normal, masih bisa becada-becandaa dengan teman. Walaupun pertanyaan tentang itu gk bisa di cegah, tapi tidak perlu di jawab dengan sesitif. Misalnya ketika seorang teman yang cukup dekat dengan saya, tiba-tiba bertanya: "Diani, kamu balas WA saya jam 4 pagi, apa yang kamu lakukan bangun pagi pagi"

Dengan wajah santai saya jawab: Praying wkwkw...dan pertanyaan pun berlanjut.

Memangnya kamu beribadah berapa kali dalam sehari? saya jawab santai lagi, 5 kali wkwkw.

Ahh doi makin kaget lagi, lalu diskusipun berlanjut, karna kebetulan teman saya itu agnostik. Dia percaya ada Tuhan tapi tidak pernah beribadah apapun. Akhirnya pertanyaan berlanjut, doi bertanya tentang mosque, bla bla.. sampai saya tanya balik. Kamu gk memandang saya makluk aneh kan? wkwkwk..lalu dia jawab. Bukan, saya membayangkan pasti kamu sibuk sekali (lah, haha). Saya belajar saja rasanya keteteran, apalagi kalau ditambah beribadah lima kali dalam sehari. Padahal saya ibadahnya sekali itu 5 sd 15 menit wkwkw.

Lucu deh kalau ingat-ingat diskusi itu. Lalu doi bertanya kamu gk mengantuk, bangun pagi pagi banget. Saya jawab, enggak kan orang-orang di negara saya umumnya "morning person''. Pasar tradisional udah buka dari jam 5 pagi, gk sama di Belanda baru bukan jam 9 pagi :D wkwk. Jadi udah biasa.

Itulah kenapa bagi saya pribadi belajar disini lebih dari menyelesaikan sekolah. Di Indonesia, saya sering merasa apa apa terburu buru, sholat terburu buru, baca quran lihat lihat jam. Disini saya merasakan sholat jadi lebih bermakna justru di tempat yang sempit, sembunyi bunyi, di cabin yang kecil yang penting bisa muat sajadah kecil. Atau ketika tidak ada pilihan untuk sholat hanya diatas kereta, disaat jarak waktu sholat begitu pendek di musim dingin ini. Bahkan bagi yang mengejar kereta antar kota paling pagi, bisa jadi waktu subuh belum masuk ketika berangkat dan lagi lagi nikmatnya sholat akan di rasakan di kereta.

Apakah kemudian mengurangi ke khusukan sholat? Saya pribadi enggak, kadang kadang mata saya sehabis sholat berkaca kaca saja. Kenapa kadang ke khusukan dalam sholat kita dapat ditempat yang kecil, sempit, gelap. Tapi di tempat yang luas, kita malah tidak menemukan ke khusukan, malah seperti mengabaikan nikmat bisa sholat di tempat se kondusif itu, malah terburu buru.  Bumi Allah itu sangat luas, hidayah bisa jadi kita dapat di negeri yang justru  kurang subur untuk ibadah.

Pendapat saya ini tidak bisa di generalisir, hanya pendapat dan pengalaman hidup saya. Saya juga tidak menyangkal, ketika seseorang pergi keluar negeri dia justru pemikirannya bebas. Ada yang begitu? adaa. di mulai dengan membandingakan di negara yang mayoritas muslim  malah saling caci maki dan attitudenya gk bagus tapi di negara seperti ini anteng-anteng aja, tidak kenal agama tapi bisa justru saling menghargai. Kalau sudah pernyataannya begitu, tahu sendiri dong kesimpulannya bagaimana wkwkw. Yah, it is not a simple as that..hehe. jangan semata mata hanya pakai ilmu cocoklogi :D





Groningen, 20 Nov 2017