Memilih topik sebuah thesis bukanlah hal yang mudah. Bagi saya, ada perpaduan idealisme dan realistis. Saya suka topiknya, tapi tidak realistis dari segi waktu dan data atau topiknya sangat realistis tapi gk sesuai minat.
Kalau saya bandingkan dengan memilih-memilih topik saat S1, memilih topik untuk S2 ini jauh lebih menggalaukan hehe. Sudah tidak terhitung berapa kali saya ganti judul, berapa jurnal yang di baca, dan lagi lagi ketika melihat topik thesis tetangga, selalu saja kelihatan lebih hijau..hehe..
Saya bisa bilang topik dan methode penelitian yang saya gunakan saat S1, bisa dikatakan diatas rata rata tingkat kesulitan penelitian mahasiswa S1. Ahh bukan mau pamer, tapi memang dosen pembimbing saya yang "totalitas" membimbing saya. Ada seribu cerita di balik kisah menyelesaikan skripsi tersebut, tapi Alhamdulillah hasilnya sepadan. Untuk mahasiswa S1, sebuah skripsi bisa publish dan presentasi di dua National Conference di dua di International Conference, bagi saya itu sudah wow banget. Ahh ibu (Prof. Ria Nelly sari), Dank u well ! saya bisa punya pengalaman sejauh itu hanya sebagai mahasiswa S1.
Berbekal dengan skripsi S1, saya sedikit percaya diri awalnya dengan Thesis. In syaa Allah bisa..tapi kesulitan yang paling sering saya temukan adalah adalah memilih judul, merenung-renungkan sebenarnya saya mau apa. Disatu sisi saya ingin idealis dengan judul, dengan methode, dengan jumlah sample tapi saya juga ingin cepat kelar, cepat balik ke negara saya, sebelum beasiswa habis..hehe. Soalnya harga sewa satu kamar disini sama dengan harga cicilan rumah saya wkwk.
Lalu saya ajukan pertanyaan ke diri saya:
''Helloo, kamu maunya apa? Minatnya apa?"
Jawaban: Saya minat topik sekitar Usaha Kecil Menengah.
"Kenapa?''
Jawaban saya: Mereka perlu di support, sekurang-sekuarangnya saya bisa menjawab pertanyaan paling dasar kenapa sebuah usaha kecil ada yang tumbuh, ada yang stagnan bahkan ada yang bertahan dua tahun saja (jawaban begini gk akan tuntas dengan sekali dua kali penelitian). Kenyataan ini memang di dukung dari banyak hasil penelitian, bahwa banyak usaha kecil yang gagal di tahun- tahun awal (early phase of market conception).
''Methodenya bagaimana''?
Ahayy, hal berikutnya yang bikin saya galau haha. Methode sangat erat kaitannya dengan research questions. Nah kalau ini bukan standard saya tapi standard yang diterapkan kampus. Sebagai mahasiswa master diharapkan penelitiannya lebih dari meneliti pengaruh faktor X terhadap Y atau tidak ada perbedaan hasil ini dengan hasil itu. Tapi yang paling essensi adalah "bagaimana'' dan ''kenapa'' intinya jangan sebatas yes/no. Seorang teman saya awalnya hanya memakai murni kuesioner lalu supervisornya meminta di lakukan dengan mix-methode. Artinya, hasil dari kuesioner di konfirmasi dengan hasil wawancara dengan respondent
''Mau ngumpulin data di Indonesia saja atau Belanda dan Indonesia?''
Nah kegalauan berikutnya. Tentu kalau masalah tingkat kepahaman, saya akan pilih indonesia saja. Tapi ahh tapi..kalau saya megambil data di Indonesia saja, saya merasa sedikiiit sayang. Saya sudah jauh jauh sekolah disini, sekurang kurangya saya bisa mengambil best practice bagaimana UKM di sini di kelola. Tapi bagaimana dengan waktu? bagaimana dengan bahasa? Memang orang di Belanda 90 persen bisa dikatan lancar berbahasa inggris, sekalipun oma oma. Tapi bagaimana penerimaan meraka ke saya? Student asing, datang ke unit usaha mereka kemudian wawancara? Apalagi penampilan saya sedikit berbeda (baca: pakai hijab). Selama saya tinggal di Belanda, alhamdulillah saya tidak pernah menghadapi pengalaman rasis, bahkan melihat orang menatap ke saya lamaaa karna penampilan saya yang berbeda, rasanya tidak pernah. Tapi bisa kah saya dan mereka membangun chemistry selama wawancara sehingga mereka bersedia memberikan jawaban yang poll.
Belum lagi cara menggunakan software penelitian kualitatif yang harus saya pelajari dulu. Karna sebelumnya saya hanya menguasai aplikasi SPSS dan SEM. Selain itu karna thesis ini berbahasa inggris waktu yang harus saya alokasikan untuk mereview pilihan kata supaya lebih kaya, tata bahasanya, kelaziman juga harus di pertimbangkan.
Dengan mempertimbangkan hal hal tadi, akhirnya saya mengambil topik tentang bisnis ikubator untuk usaha kecil. Intinya saya ingin membadingkan yang ada di Indonesia dan yang ada di Belanda. Lalu saya buat lebih spesifik lagi, inkubator yang saya sasar adalah inkubator dibidang techno start-up. Kenapa saya memilih techno start-up? mmmmh...panjang lagi bahasannya...hehe..salah satunya memang jumlah inkubator di bidang techno start-up masih sedikit sekali di Indonesia. Selain itu karna program pemerintah yang menetapan 1000 digital start-up di tahun 2020, peranan ICT inkubator sangat dibutuhkan untuk melakukan validasi ide, produk, market, customer sampai dengan menghubungkan start-up tersbut dengan angle investor.
Apalagi saya yakin, tidak ada satupun orang yang belum sadar kalau sekarang era digital. Sekalipun UKM tersebut basic usahanya trading, ujung-ujungnya pasti akan mengarah ke penggunaan technology digital. Jangan bayangkan techno stat-up hanya seputar App, market place online,dll Tapi kalau di Belanda, arahnya sudah ke Industry solution. Bahkan di salah satu Inkubator yang sangat terkenal di Belanda di halaman depan untuk apliaksi penerimaan Tenant (enteprenuer/start-up) di bunyikan tidak menerima Pizaa Delivery App hehe maksudnya "more advance than that" !
Semoga kesulitan kesulitan penelitian ini bisa saya urai satu persatu. Saya yakin, sesuatu itu kelihatan sulit kalau tidak dikerjakan. Tetapi kalau di kerjakan, masuk ke dalamnya, diurai satau persatu, tanpa disadari akan terlihat mudah, semakin menyenangkan, semakin ketemu polanya, analisisnya akan semakin tajam. Ini yang namanya ketekunan.
Groningen, 12 November 2017
19.38
Ditulis saaat hujan lebat dan suhu 5 Derajat :D
Belum lagi cara menggunakan software penelitian kualitatif yang harus saya pelajari dulu. Karna sebelumnya saya hanya menguasai aplikasi SPSS dan SEM. Selain itu karna thesis ini berbahasa inggris waktu yang harus saya alokasikan untuk mereview pilihan kata supaya lebih kaya, tata bahasanya, kelaziman juga harus di pertimbangkan.
Dengan mempertimbangkan hal hal tadi, akhirnya saya mengambil topik tentang bisnis ikubator untuk usaha kecil. Intinya saya ingin membadingkan yang ada di Indonesia dan yang ada di Belanda. Lalu saya buat lebih spesifik lagi, inkubator yang saya sasar adalah inkubator dibidang techno start-up. Kenapa saya memilih techno start-up? mmmmh...panjang lagi bahasannya...hehe..salah satunya memang jumlah inkubator di bidang techno start-up masih sedikit sekali di Indonesia. Selain itu karna program pemerintah yang menetapan 1000 digital start-up di tahun 2020, peranan ICT inkubator sangat dibutuhkan untuk melakukan validasi ide, produk, market, customer sampai dengan menghubungkan start-up tersbut dengan angle investor.
Apalagi saya yakin, tidak ada satupun orang yang belum sadar kalau sekarang era digital. Sekalipun UKM tersebut basic usahanya trading, ujung-ujungnya pasti akan mengarah ke penggunaan technology digital. Jangan bayangkan techno stat-up hanya seputar App, market place online,dll Tapi kalau di Belanda, arahnya sudah ke Industry solution. Bahkan di salah satu Inkubator yang sangat terkenal di Belanda di halaman depan untuk apliaksi penerimaan Tenant (enteprenuer/start-up) di bunyikan tidak menerima Pizaa Delivery App hehe maksudnya "more advance than that" !
Semoga kesulitan kesulitan penelitian ini bisa saya urai satu persatu. Saya yakin, sesuatu itu kelihatan sulit kalau tidak dikerjakan. Tetapi kalau di kerjakan, masuk ke dalamnya, diurai satau persatu, tanpa disadari akan terlihat mudah, semakin menyenangkan, semakin ketemu polanya, analisisnya akan semakin tajam. Ini yang namanya ketekunan.
Groningen, 12 November 2017
19.38
Ditulis saaat hujan lebat dan suhu 5 Derajat :D