Pertanyaan ini
pernah mengusik rasa ingin tahu saya sejak pertama kali melihat negara maju,
sebut saja yang ingin saya bandingkan kali ini adalah Belanda, negara tempat
saya menetap sejak hampir satu tahun ini dalam rangka melanjutkan sekolah.
Negara ini tata kotanya rapi dan hampir tidak ditemukan pelaku usaha kreatif di
pinggir jalan.
Di Indonesia hampir disetiap jalan raya di
temukan toko toko kecil. Bahkan, garasi dan halaman kosongpun bisa di sulap
menjadi tempat usaha. Saya memang belum melakukan penelusuran secara jauh,
apakah hal ini disebabkan karna di Belanda lapangan usaha sudah cukup sehingga
orang-orang tidak berfikir untuk membuat usaha tambahan, atau karna izin usaha
yang sulit atau karna menjadi self-employee bukan pilihan karir yang prestisius
di Belanda. Tapi ketika saya tanya ke salah satu teman Dutch, dia hanya bilang ‘’
saya takut beli makanan atau apa saja di pinggir jalan, kebersihannya kurang
terjaga’’
Yang menarik
ketika belanda beku banget sekitar tanggal 3,4,5 Maret kemaren. Orang-orang
pada main ice skating. Ini memang moment langka di Belanda. Salju sih in syaa
allah ada setiap tahun. Tapi sungai sungai yang membeku dan bisa di gunakan
untuk area ice skating tidak terjadi setiap tahun. Saya membayangkan, kalau di Indonesia, di
dekat area dadakan ice skating itu mungkin sudah pada buka lapak dadakan..hahaha..indomie
rebus lah, gorengan lah, dll. Tapi ini saya gk menemukannya yang demikian.
Di Indonesia,
ada banyak factor mengapa orang-orang membuka usaha sampingan. Ada karna factor
kebutuhan hidup , melihat peluang usaha, menyalurkan kreatifitas dan trend yang
muncul belakangan di sebagian besar anak muda bahwa menjadi enteprenuer itu
keren. Hal ini bermula dari banyaknya
anak-anak muda Indonesia yang memilih terjun ke usaha kreatif atau start up dan
berhasil memberikan inspirasi.
Usaha ini
dipercepat dengan pertumbuhan pemakain social media yang semakin tinggi di
Indoensia. Sehingga bagi anak muda yang memiliki usaha. Media social ini menekan
biaya untuk mempromosikan produk atau jasa menjadi lebih murah dan mudah.
Bahkan bekerja sama dengan beberapa Selebgram menjadi pilihan yang menarik.
Kalau pertanyaannya,
negara mana yang anak mudanya punya jiwa enteprenuership yang tinggi? Ini
memang sulit di jawab. Karna indikatornya bukan hanya berani buka ‘’lapak’’.
Tapi setidaknya, untuk kebebasan membuka usaha kecil, saya merasa bersyukur di
Indonesia. Kita maklum di Belanda jika jarang ditemukan usaha mikro, usaha belum
mulai tapi harus pertimbangkan Tax, regulasi lainnya. Di Indonesia, bisa mulai dulu
aja, dari kecil kecilan, dari garasi, medsos, dll. Kalau sudah establish baru
di fikirkan untuk membetuk badan usaha agar mudahan mendapat akses yang lain.
Segini dulu ya, akan
ada lanjutannya.
Groningen, 15
Maret 2018