Ada beberapa alasan kenapa orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap, masih ingin mendirikan usaha. Kemungkinan kemungkinan alasan tersebut adalah:
1. Mendapat penghasil tambahan
2. Persiapan masa pensiun atau ketika kontrak habis
3. Hobby
4. Memperluas networking
5. Refreshing dan kekakuan dan kejenuhan dikantor
6. Membuka pekerjaan untuk orang lain.
Diantara poin 1 sd 6, no 2 sd 6 itu saya banget..hehe. No1? Ehm...siapa yang tidak mau dapat side income. Tapi kalau saya pribadi, belum berpikir untuk penghasilan tambahan.Eh maksudnya kepikiran si...hahaha ( iya enggak iya enggak labil).
Menurut saya orang orang yang mengatakan profesi sebagai wirausaha itu bisa mengatur waktu semau gue, itu SALAH BESAR. Waktu yang dicurahkan seorang enteprenuer bisa jadi lebih banyak dari pegawai tetap. Kalau menjadi pekerja tetap, kita hanya mengambil secuil bagian dari seluruh bisnis proses yang ada di kantor atau diperusahaan kita misal hanya bagian keuangan saja, bagian HR saja, bagian sale saja. Tetapi kalau enteprenuer, dia menjalan proses bisnis dari ujung ke ujung-end to end. Apalagi kalau periode awal, masa masa riset, masa masa cari produk yang pas, masa masa mencari pasar. Kalau semisalnya usahanya kuliner online, bisa jadi mulai dari beli bahan di pasar pagi, masaknya, jawab-jawab pertanyaan calon pelanggan di medsos, sampai delivery nya ke pelanggan di lakuin sendiri. Kabayangkan capeknya.
Ketika bisnis udah jalan, udah dapat polanya, udah bisa cari asisten baru terasa enteng. Gk perlu lagi kepasar pagi, cukup telpon si penjual buat delivery bahan bakunya langsung ketempat produksi. Gk perlu juga ikutan masak, cukup ngasih komando yang jelas kepada tim dan menetapkan takaran bumbu. Gk perlu perlu juga jawab jawab pertanyaan pelanggan yang lagi labil lehe (ganti ganti order mulu), cukup serahkan ke si Mimin (atau mba Admin) dan training si mimin melayani pelanggan dengan hati. Tentunya juga gk perlu delivery sendiri untuk order rutin, bisa bisa win win dengan pelanggan, bisa manfaat ojek online atau bisa jadi pelanggan yang bakal datang. Usahapun bisa berjalan sendiri ketika tim sudah solid dan bisa meneterjemahkan keinginan kita. Ini kalau di contohkan usahanya kuliner.
Bagi seorang pekerja, menjadi seorang pengusaha itu artinya bekerja minimal 1,5 kali lipat. Gk bisa dong, misalnya jualan sepatu tapi stok nya gk stabil. Baru hunting produk lagi kalau ada waktu luang. Waktu luangnya kapan? ''kapan -kapan'' hehe. Kalau buka tokonya gk konsisten, bisa dianggap penjual kurang serius. Yang datang biasanya order order kecil. Untuk order yang jumlah besar, si calon pembeli juga gk asal tunjuk calon penjual kalau sipenjual itu gk punya kredibilitas. Jadinya usaha pun akan jalan ditempat.
Menurut saya pribadi, seorang pekerja yang punya fix income lalu kemudian memutuskan membuka usaha, mungkin tujuanya untuk mendapatkan main income bukan prioritas. Main income maksud saya disini, urusan makan sehari hari in syaa allah sudah beres dari gaji tetap. Tapi terkadang ada unsur2 idealisme, mempersiapkan masa pensiun atau resign, atau memberi kontribusi untuk lingkungan sekitar. Kebayang gk si, dengan usaha kecil kita bisa memperkerjakan minimal dua orang aja dimana kerjaan samping kita ini bisa menjadi penghasilan utama buat dia.
Bukannya tidak mungkin bagi seorang pekerja tetap memulai usaha. Namun ada beberap tips, yang prinsipnya jangan sampai usaha ini menganggu pekerjaan tetap atau bahkan keluarga.
1. Profesional, jangan campur adukan usaha sampingan dengan usaha tetap. Misal pas dikantor sibuk jualan produk usaha. Harusnya kalem aja hehe, ada banyak chanel marketing, gk mesti bawa barang dagangan ke kantor. Gk enak dilihat bos, dikira nanti bikin materi presentasinya gk serius hehe. Gk mesti juga teman teman tahu kalau kita punya usaha. Tetap profesional dan tetap ngasih atensi penuh buat kerjaan kantor.
Kalau kebetulan mereka menemukan produk produk kita di toko online, ya tetap pasang wajah cool hehe. Kalau menurut saya kalau yang beli teman di kantor dengan di tawarkan langsung, mereka umumnya impusif hehe. Saya kadang kadang juga gitu. Ada yang beli satu lalu ikutan. Sehingga bisa jadi agak sungkan sungkan mereview produk kita. Padahal di awal awal lauching yang di butuhkan review pelanggan.
Review pelanggan juga bisa menggantikan market research yang se gambreng. Di era sekarang, data melimpah ruah di dunia online. Bisa jadi bahan market risearch lo. Misalnya membandingkan dengan produk sejenis. Lihat tipe tipe pembeli. Lihat range harga jual produk sejenis. Dan cari ceruk, dari produk produk eksisting kira kira model apa yang mereka belum punya. Market research bisa dilakukan di waktu waktu luang.
2. Alokasikan waktu di luar jam kerja. Kalau pagi sedikit rempong menyiapkan sarapan dan bersih rumah, bisa juga malam hari. Atau bangun lebih awal. Untuk mencari ide, evaluasi ide yang eksisting, atau cicil edit foto yang akan di blasting di market place online atau social media chanel. Bisa juga dilakukan dua jam sebelum tidur. Dari jam 9 malam sd jam 11. Setelah makan malam selesai, dapur bersih, sudah mandi, wangi hehe. Jadi waktu nya ''me time'' sambil gurusin usaha, minum segelas teh hijau, leyeh leyeh di sofa, nemani keluarga menonton berita dll...hehe
3. Sebaiknya menjualnya di market place online saja. Karna lumayan less effort untuk jawab-jawab pertanyaan pelanggan satu satu dan tidak sibuk dengan metode pembayaran. Konsekuesinya pas kita upload produk harus lengkap dan serius, tampilkan foto sejelas jelasnya. Deskripsi sejujurnya. Kalau ada pelangan bertanya, kemungkinan besar pertanyaan akan berbobot diluar deskripsi yang dijelaskan. Tapi ada juga pelanggan yang galau milih model yang mana hahaha. Kalau ini, bertindaklah sebagai teman bagi pelanggan. Jangan bilang bagus sis..ini bagus sis.. beli dua aja..hahaha. Entahlah saya gk suka penjual yang insist, saya suka penjual yang jujur hehe. Kalau dia terlalu memaksa saya malah enggan beli hehe. Nah, bisa ditanya balik, mau di pakai sendiri atau buat kado sis? Temannya umur berapa? bla ..bla...persis kayak ngasih saran keteman yang lagi labil milih model baju di mall.
4. Untuk hunting bahan baku, bisa lakukan hari sabtu. Gunakan setengah hari saja. Sehingga masih ada waktu buat keluarga. Jaga hubungan baik dengan pemasok. Sehingga gk perlu datang ke tokonya terus buat order bahan.
5. Untuk kontrol proses produksi, tentunya setelah jam kantor atau pagi banget sebelum jam 8. Tapi ngambil waktu keluarga gk ya? jangan setiap hari juga kali wkwk biasanya untuk produksi produk baru yang perlu intensitas monitoring yang tinggi.
Kalau semisal itu urgent banget, sebagai ''manager rumah'' udah punya sense gimana mengelolanya. Misal, lauk hari ini delivery gojek dari rumah makan padang wkwkw. Atau pelajari ilmu bikin frozen food yag sehat dan praktis. Gk perlu masak tiap hari, stok makanan di freezer untuk kondisi darurat. Misal rendang, gule, dll. Nanti tinggal de frost pakai microwave atau di biarkan cair di udara terbuka atau cairin pakai rice cooker. Lalu tambah laluk lauk kecil yang praktis misal buat telur ceplok, aneka sayur dan kerupuk. Jujur aja, banyak yang bisa di syukuri hidup di zaman penuh teknologi ini. Pekerjaan rutin bisa diganti dengan mesin, sisa waktu bisa di gunakan untuk yang bermanfaat.
6. Modal? Susah juga mendefinisikan seberapa banyak modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Modal yang banyak belum tentu bagus kalau tidak bisa mengelolanya dengan tepat. Alokasi kan modal di moment yang tepat. Misalnya, produknya masih tahap validasi tapi udah pengen nyewa tempat untuk show room aja. Modal untuk sewa atau beli showroom ini akan tepat digunakan kalau market dan demand nya udah jelas dan stabil.
Tiap tiap orang punya beda beda prinsip tentang modal awal. Kalau saya pribadi orang nya prudent hehe. Saya berusaha uang yang saya keluarkan untuk modal dengan kemungkinan buruk tidak ada penjualan maka jumlah modal tersebut tidak lebih dari gaji atau tabungan saya. Kalau untuk rumah saya kredit kok wkwkw tapi kalau untuk usaha saya gk mau meminjam. Apalagi masih tahap awal sudah pinjam pinjam. Usahakan beli bahan baku se efektif mungkin. Usahkan membuat model baru juga seefektif mungkin. Kalau bisa pakai prinsip Just In time, stok bahan baku sekecil kecilnya. Salah satu caranya cari suplier yang bisa flexible dalam order sehingga order bahan bakunya gk perlu dalam bulk besar. Walaupun sedikit tapi ordernya continue. Kalau saya melihat konsep JIT itu: ''treat your supplier as your company division''. Mereka pihak diluar perusahaan kita, tapi bisa menyuplai bahan baku secara konsisten sesuai kebutuhan.
Intinya konsisten. Susah juga kalau dibilang usaha sampingan tapi menggarapkan kapan kapan ada waku luang hehe. Sebenarnya yang di butuhkan konsisten aja dan bikin planning yang jelas. Misalnya tahun pertama sd kedua mungkin belum bisa hire admin. Jadi semua semua dilakukan sendiri. Coba alokasi waktu 2 sd 4 jam sehari, bisa dua jam pagi hari dan dua jam setelah pulang kantor dan setelah aktivitas di rumah beres. Nah, tahun kedua misalnya penjualan udah mulai stabil, mulai deh cari admin. Mulai kenal juga dengan suplier kan sehingga bisa menghemat waktu buat datang sendiri ketempat mereka. Mungkin juga mulai ancang ancang buat ngumpulin dana untuk menyewa atau membeli tempat produksi yang dekat dari kantor atau rumah wkwkkw.
Apapun kalau di lakukan konsiten pasti sampai juga. Tinggal memilih ingin kecepatan berapa ni. Atau ingin jarak tempuhnya berapa panjang (memperluar bisnis). Kalau ingin cakupan bisnis lebih luas, bisnis tambah besar berarti tambah waktu dan tambah kecepatan dan tambah resources misal tambah mesin atau laryawan.
Berikutnya jangan terburu buru, nikmati usaha tersebut sebagai hobby. Bayangkan hasilnya 5 tahun, jangan bayangkan hasilnya satu tahun dan bikin hidup terburu buru. Setelah 5 tahun baru expand. Sebenarnya waktu 5 tahun itu sebentar lo kalau melihatnya ke belakang. Serasa tahun 2013 baru kemaren yah, tapi coba bayangan tahun 2023 dari sekarang kayak jauh banget. Teman teman kita yang mulai usaha dari tahun 2012, kemudian konsisten, konsisten, walaupun sedikit mungkin sekarang sudah establish. Intinya mulai dari sekarang walaupun sedikit sedikit, walaupun masih amartir bikin kue, bikin baju, atau pekerjaan lainnya. Tapi lima tahun kalau konsisten akan jadi expert.
Saya teringat teman yang awalnya cuma posting kue kue bolu standard, tapi dia konsisten terus sampai dua tahun ini saya amati. Eh, alhamdulillah semakin kesini lihat fotonya ordernya semakin banyak. Jenis kuenya juga udah macam macam. Coba kalau dari dua tahun lalu dia gk mulai-mulai, gk akan dianggap expert sampai sekarang.
Groningen, 22 Feb 18
jam 10 pagi, saat suhu minus 3
Menurut saya pribadi, seorang pekerja yang punya fix income lalu kemudian memutuskan membuka usaha, mungkin tujuanya untuk mendapatkan main income bukan prioritas. Main income maksud saya disini, urusan makan sehari hari in syaa allah sudah beres dari gaji tetap. Tapi terkadang ada unsur2 idealisme, mempersiapkan masa pensiun atau resign, atau memberi kontribusi untuk lingkungan sekitar. Kebayang gk si, dengan usaha kecil kita bisa memperkerjakan minimal dua orang aja dimana kerjaan samping kita ini bisa menjadi penghasilan utama buat dia.
Bukannya tidak mungkin bagi seorang pekerja tetap memulai usaha. Namun ada beberap tips, yang prinsipnya jangan sampai usaha ini menganggu pekerjaan tetap atau bahkan keluarga.
1. Profesional, jangan campur adukan usaha sampingan dengan usaha tetap. Misal pas dikantor sibuk jualan produk usaha. Harusnya kalem aja hehe, ada banyak chanel marketing, gk mesti bawa barang dagangan ke kantor. Gk enak dilihat bos, dikira nanti bikin materi presentasinya gk serius hehe. Gk mesti juga teman teman tahu kalau kita punya usaha. Tetap profesional dan tetap ngasih atensi penuh buat kerjaan kantor.
Kalau kebetulan mereka menemukan produk produk kita di toko online, ya tetap pasang wajah cool hehe. Kalau menurut saya kalau yang beli teman di kantor dengan di tawarkan langsung, mereka umumnya impusif hehe. Saya kadang kadang juga gitu. Ada yang beli satu lalu ikutan. Sehingga bisa jadi agak sungkan sungkan mereview produk kita. Padahal di awal awal lauching yang di butuhkan review pelanggan.
Review pelanggan juga bisa menggantikan market research yang se gambreng. Di era sekarang, data melimpah ruah di dunia online. Bisa jadi bahan market risearch lo. Misalnya membandingkan dengan produk sejenis. Lihat tipe tipe pembeli. Lihat range harga jual produk sejenis. Dan cari ceruk, dari produk produk eksisting kira kira model apa yang mereka belum punya. Market research bisa dilakukan di waktu waktu luang.
2. Alokasikan waktu di luar jam kerja. Kalau pagi sedikit rempong menyiapkan sarapan dan bersih rumah, bisa juga malam hari. Atau bangun lebih awal. Untuk mencari ide, evaluasi ide yang eksisting, atau cicil edit foto yang akan di blasting di market place online atau social media chanel. Bisa juga dilakukan dua jam sebelum tidur. Dari jam 9 malam sd jam 11. Setelah makan malam selesai, dapur bersih, sudah mandi, wangi hehe. Jadi waktu nya ''me time'' sambil gurusin usaha, minum segelas teh hijau, leyeh leyeh di sofa, nemani keluarga menonton berita dll...hehe
3. Sebaiknya menjualnya di market place online saja. Karna lumayan less effort untuk jawab-jawab pertanyaan pelanggan satu satu dan tidak sibuk dengan metode pembayaran. Konsekuesinya pas kita upload produk harus lengkap dan serius, tampilkan foto sejelas jelasnya. Deskripsi sejujurnya. Kalau ada pelangan bertanya, kemungkinan besar pertanyaan akan berbobot diluar deskripsi yang dijelaskan. Tapi ada juga pelanggan yang galau milih model yang mana hahaha. Kalau ini, bertindaklah sebagai teman bagi pelanggan. Jangan bilang bagus sis..ini bagus sis.. beli dua aja..hahaha. Entahlah saya gk suka penjual yang insist, saya suka penjual yang jujur hehe. Kalau dia terlalu memaksa saya malah enggan beli hehe. Nah, bisa ditanya balik, mau di pakai sendiri atau buat kado sis? Temannya umur berapa? bla ..bla...persis kayak ngasih saran keteman yang lagi labil milih model baju di mall.
4. Untuk hunting bahan baku, bisa lakukan hari sabtu. Gunakan setengah hari saja. Sehingga masih ada waktu buat keluarga. Jaga hubungan baik dengan pemasok. Sehingga gk perlu datang ke tokonya terus buat order bahan.
5. Untuk kontrol proses produksi, tentunya setelah jam kantor atau pagi banget sebelum jam 8. Tapi ngambil waktu keluarga gk ya? jangan setiap hari juga kali wkwk biasanya untuk produksi produk baru yang perlu intensitas monitoring yang tinggi.
Kalau semisal itu urgent banget, sebagai ''manager rumah'' udah punya sense gimana mengelolanya. Misal, lauk hari ini delivery gojek dari rumah makan padang wkwkw. Atau pelajari ilmu bikin frozen food yag sehat dan praktis. Gk perlu masak tiap hari, stok makanan di freezer untuk kondisi darurat. Misal rendang, gule, dll. Nanti tinggal de frost pakai microwave atau di biarkan cair di udara terbuka atau cairin pakai rice cooker. Lalu tambah laluk lauk kecil yang praktis misal buat telur ceplok, aneka sayur dan kerupuk. Jujur aja, banyak yang bisa di syukuri hidup di zaman penuh teknologi ini. Pekerjaan rutin bisa diganti dengan mesin, sisa waktu bisa di gunakan untuk yang bermanfaat.
6. Modal? Susah juga mendefinisikan seberapa banyak modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Modal yang banyak belum tentu bagus kalau tidak bisa mengelolanya dengan tepat. Alokasi kan modal di moment yang tepat. Misalnya, produknya masih tahap validasi tapi udah pengen nyewa tempat untuk show room aja. Modal untuk sewa atau beli showroom ini akan tepat digunakan kalau market dan demand nya udah jelas dan stabil.
Tiap tiap orang punya beda beda prinsip tentang modal awal. Kalau saya pribadi orang nya prudent hehe. Saya berusaha uang yang saya keluarkan untuk modal dengan kemungkinan buruk tidak ada penjualan maka jumlah modal tersebut tidak lebih dari gaji atau tabungan saya. Kalau untuk rumah saya kredit kok wkwkw tapi kalau untuk usaha saya gk mau meminjam. Apalagi masih tahap awal sudah pinjam pinjam. Usahakan beli bahan baku se efektif mungkin. Usahkan membuat model baru juga seefektif mungkin. Kalau bisa pakai prinsip Just In time, stok bahan baku sekecil kecilnya. Salah satu caranya cari suplier yang bisa flexible dalam order sehingga order bahan bakunya gk perlu dalam bulk besar. Walaupun sedikit tapi ordernya continue. Kalau saya melihat konsep JIT itu: ''treat your supplier as your company division''. Mereka pihak diluar perusahaan kita, tapi bisa menyuplai bahan baku secara konsisten sesuai kebutuhan.
Intinya konsisten. Susah juga kalau dibilang usaha sampingan tapi menggarapkan kapan kapan ada waku luang hehe. Sebenarnya yang di butuhkan konsisten aja dan bikin planning yang jelas. Misalnya tahun pertama sd kedua mungkin belum bisa hire admin. Jadi semua semua dilakukan sendiri. Coba alokasi waktu 2 sd 4 jam sehari, bisa dua jam pagi hari dan dua jam setelah pulang kantor dan setelah aktivitas di rumah beres. Nah, tahun kedua misalnya penjualan udah mulai stabil, mulai deh cari admin. Mulai kenal juga dengan suplier kan sehingga bisa menghemat waktu buat datang sendiri ketempat mereka. Mungkin juga mulai ancang ancang buat ngumpulin dana untuk menyewa atau membeli tempat produksi yang dekat dari kantor atau rumah wkwkkw.
Apapun kalau di lakukan konsiten pasti sampai juga. Tinggal memilih ingin kecepatan berapa ni. Atau ingin jarak tempuhnya berapa panjang (memperluar bisnis). Kalau ingin cakupan bisnis lebih luas, bisnis tambah besar berarti tambah waktu dan tambah kecepatan dan tambah resources misal tambah mesin atau laryawan.
Berikutnya jangan terburu buru, nikmati usaha tersebut sebagai hobby. Bayangkan hasilnya 5 tahun, jangan bayangkan hasilnya satu tahun dan bikin hidup terburu buru. Setelah 5 tahun baru expand. Sebenarnya waktu 5 tahun itu sebentar lo kalau melihatnya ke belakang. Serasa tahun 2013 baru kemaren yah, tapi coba bayangan tahun 2023 dari sekarang kayak jauh banget. Teman teman kita yang mulai usaha dari tahun 2012, kemudian konsisten, konsisten, walaupun sedikit mungkin sekarang sudah establish. Intinya mulai dari sekarang walaupun sedikit sedikit, walaupun masih amartir bikin kue, bikin baju, atau pekerjaan lainnya. Tapi lima tahun kalau konsisten akan jadi expert.
Saya teringat teman yang awalnya cuma posting kue kue bolu standard, tapi dia konsisten terus sampai dua tahun ini saya amati. Eh, alhamdulillah semakin kesini lihat fotonya ordernya semakin banyak. Jenis kuenya juga udah macam macam. Coba kalau dari dua tahun lalu dia gk mulai-mulai, gk akan dianggap expert sampai sekarang.
Groningen, 22 Feb 18
jam 10 pagi, saat suhu minus 3