Talk with my Pakistan-British Friend: Jiwa Kewirausahaan Anak Muda di Negara Berkembang vs di Negara Maju

Flasback lagi, waktu kuliah di Inggris.
Sewaktu double degree di UK, saya punya seorang teman British keturunan pakistan. Wajahnya pakistan, tapi ngomongnya British banget. Berhijab dan lagi mencari jati diri hihi. Pertemuan kami tidak sengaja terjadi disebuah supermarket dekat rumah. Saya senyum..eh ternyata ada kasir yang berhijab. Dia juga senyum ke saya, karena memang kawasan tempat tinggal saya di Barhill, Cambridge jarang pendatang.

Secara tidak sadar, ternyata kita sering satu bus. Karena setiap ketemu dandanya formal, saya kira beliau sudah dewasa. Ternyata suatu waktu saya ketemu dia di kampus dan kita saling lihat-lihatan..saya mikir pernah ketemu dimana yaa. Kemudian kita sama-sama ingat..ya Ampun ternyata kita sering satu bus, tinggal tetanggaan dan pernah ketemu di Tesco. Selanjutnya kita sering ketemu  di tempat sholat kampus. Kemudian saya baru tahu kalau dia masih muda banget, belum lulus S1 hihi. Jauh banget usianya dari saya.

Suatu hari setelah sholat zuhur beliau bertanya ke saya, kamu mau gk kerja part time? Supermarket tempat saya bekerja lagi butuh orang. Wow, selama jadi student saya belum kebayang part time. Pertama karna susah banget cari part time di Belanda karna alasan bahasa dan buadaya Kedua, saya dikampus juga masih ngos ngosan, masih butuh banyak waktu ngejar ketertinggalan.

Namun tawaran tersebut menjadi menarik buat saya, ketika beasiswa saya yang berbentuk Euro harus di konversi ke Ponds untuk biaya hidup selama satu semester di Inggris hihi. Beliau mau bantuin saya mengantarkan berkas. Kemudian saya baru ingat, ternyata visa saya shorterm student karna hanya satu semester sehinggan tidak diperbolehkan mencari pekerjaan sampingan.

Sejak itu kami jadi sering ketemu. Pulang bareng naik bus jika pulang larut malam. Ibunya juga baik, adik yang baru umur 9 tahun pernah ngajarin saya bikin kue :D. Sejak itu saya behasil bikin bolu dan jadi hobi setelahnya.

Suatu hari saya sempat tanya-tanya ke teman saya itu, kamu bekerja sejak umur berapa? Dia bilang dia pertama kali kerja di sebuah toko baju dekat rumah saat umur 16 tahun, ngambil shift malam karena siang sekolah full. Wow batin saya. Beliau kerja part time bukan karena tuntutan ekonomi keluarga lo, karna tergolong keluarga mampu. Cuma dia ingin bekerja supaya bisa beli semua kebutuhannya. Lalu teman saya menunjukan kasur ini, iphone, macbook hasil jerih payah saya, katanya dengan bangga.

Lalu saya bertanya, kalau kelak lulus kamu ingin bekerja di mana? Dia jawab belum tahu..saya mengerti si. Karena di sini orang bisa cukup penghasilannya hanya dengan punya 2 atau 3 partime, tidak perlu bekerja di perusahaan bonafide. Berkerja di perusahaan besar tersebut sebagian karna faktor idealisme dan prestise.

Iseng-iseng saya nanya lagi, kamu kan tinggal di negara yang saya bilang ''serba cukup'', kamu kepikiran gk si buka usaha kecil kecilan? Membuka usaha yang bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain.

Lalu dia menjawab : '' Tidak'', kalau pun saya ingin memberikan impact sosial saya memilih menjadi volunteer dinegara berkembang seperti Africa, membantu orang-orang disana dalam sebuah kegiatan sosial.

Memang definisi enteprenuership itu luas banget. Pedangan kaki lima yang berani buka usaha belum tentu punya jiwa kewirausahaan kuat. Saya pernah dengar celetukan seseorang, di Indonesia ini banyak enteprenuer by kepepet, the power of kepepet. hihihi. Udah gk dapat pekerjaan tetap, baru keipikiran buka usaha.

Namun sadar gk si, kesini-kesininya pilihan profesi anak muda ketika mau buka usaha baru atau istilah kerennya start-up menjadi pilihan yang keren banget. Berjualan atau berbisnis bukan lagi identik dengan butuh uang tapi lebih ke ''passion''. Kalau di bandingkan dengan kondisi saat ini, tentu saya akan bilang..anak anak muda di negara saya jiwa enteprenuershipnya lebih kuat dibanding Inggris. Usaha apa saja bisa kita temukan, fashion, kuliner, IT, logistis yang di rintis anak-anak muda.
Namun kemudian saya berfikir kembali, jangan-jangan Inggris sebelum jadi negara semaju ini puluhan tahun yang lalu anak mudanya juga semangat dan gregetnya seperti anak Indonesia zaman sekarang.

Secara individu mungkin saat ini, anak mudanya udah gk termotivasi membuka usaha. Namun secara agregat sebagai sebuah negara, sebenarnya mereka sudah melewati fase tersebut. Usaha-usaha kecil tersebut udah di rintis dari dulu-dulu. Nah sekaranglah baru perusahaan tersebut membesar, sehingga seolah tidak ada lagi usaha-usaha kecil.

Jakarta, 17 June 2019
*Rehat kantor habis Asyar