Berkunjung ke YES DELFT Business Incubator, Netherland

Dalam rangka mengumpulkan data untuk thesis, saya mengunjungi YES DELFT incubator untuk ikut dalam kegiatan Info Session. YES DELFT adalah inkubator terbaik di Belanda. Kegiatan info session ini di tujukan untuk umum, namun yang hadir waktu itu umumnya orang-orang yang sudah memiliki ide dan berencana untuk mendaftar di Yes Delft Incubator. Jangan kwatir bahasa pengantar yang digunakan adalah Inggris. Sekalipun nanti yang akan nanya-nanya orang sesama orang Belanda, komunikasinya tetap bahasa inggris. Karna inkubator ini berorientasi global. Talent yang diterima tidak hanya dari Belanda. Bahkan untuk start-up di bidang robotic, jika talent berasal luar negeri maka biaya perjalanan dari negaranya ke Belanda akan di biayai. Karena Robotic salah satu bidang yang lagi gencar2nya dilakukan pemerintahan Belanda saat itu.

Kegiatan info session ini di lead oleh Manager Talent. Kita diajak berkeliling ruangan Incubator yang konsepnya kayak cafe dan nyaman banget ala ala kantor google, lalu melihat prototype product, melihat kantor-kantor start-up dan terakhir akan ada sesi tanya jawab. Anw, sebuah start-up bisa lulus seleksi untuk bergabung di YES DELFT adalah satu hal yang prestisius. Dan proses seleksinya pun sangat ketat. Jika lulus, start-up tersebut akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan dukungan bisnis, pendanaan, networking.

Saya catat beberapa pendapat saya tentang Ikubator ini secara random yaa:
  1. Talent yang bisa bergabung dalam proses inkubasi tidak dibatasi dari negara manapun. Saat info session, saya mendapat info ada talent yang berasal dari China yang tergabung di YES DELFT. Dan ada juga seorang peserta yang berwarga negara India yang berminat bergabung di YES DELFT.
  2. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Bahasa Inggris
  3.  YES DELFT tidak memberikan pendanaan kepada Talent, namun menghubungkan talent dengan calon investor. Siapa saja investor yang sudah bekerja sama dapat di cek pada website https://www.yesdelft.com. Justru inilah kekutan YES DELFT, jaringannya sangat luas dan kuat baik dengan pemerintah atau private sector.
  4. Fokus area talent yang bisa bergabung dalam proses inkubasi YES DELFT adalah bidang-bidang yang Hitect. Saat info session, Manager talentnya mengatakan tidak menerima Pizza Delivery App kecuali App yang bisa memiliki dampak sosial seperti app untuk menolong pengungsi.  Untuk saat ini YES DELFT fokus mengembangkan start-up di bidang: Artificial Inteligent, Aviation (Bidang baru saat ini, yang saat saya wawancara 2018 belum ada), Blockchain, Cleantech, Biotech, Conplex Tech, Edutech (Bidang baru juga), Medtech dan Robotic. Saat melakukan menghandiri info session ini, kami diperkenalkan dengan beberapa start-up salah sebuah start-up yang sedang merancang alat transportasi berbentuk kapsul yang kecepatan up to 1500 km/jam. Wow, amaze banget kan. Bahasa saya, start-up yang masuk ke DELFT ini ide-idenya agak imaginer..hihi
Sekilas saya lihat, fokus area antara start-up yang di bina di Inkubator YES DELFT dan Indonesia sangat berbeda. Di Indonesia, sedang gencar-gencarnya start-up yang berbasis App. Pengembangan start-up yang berbasis technologi seperti yang saya sebut diatas masih belum mendapat perhatian atau  memang sangat sedikit pelaku start-up yang bergerak dibidang tersebut. Untuk pertimbangan percepatan alih technologi, memungkinkan gk ya di inkubator di Indonesia menerima start-up asing untuk di kembangkan? Mungkin akan menjadi pro dan kontra. Namun tidak memungkinkan lo, dibuatkan skema yang bisa menguntungkan Inkubator di Indonesia atau start-up asing tersebut.

Mudah-mudahan Inkubator di Indonesia, dapat memperluas sebaran pusat-pusat riset yang ada di Indonesia. Selama ini hal-hal yang berbau technologi tinggi mungkin hanya dikembangkan di beberapa institusi pemerintah dan perguruan tinggi. Pelaku start-up dapat menemukan inkubator yang dapat mesupport usaha mereka di fase awal lebih mudah, baik inkubator yang di support oleh pemerintah, perguruan ataupun di support oleh perusahaan swasta dan BUMN.
Jakarta, 20 Juni 2019