Passport pertama Na.Ra:)


Ramadhan kali ini, kita tidak mendapat tiket seperti biasanya. Padahal jadwal kita pesan tiket selalu sama yaitu awal Ramadhan. Biasanya masih cukup banyak tiket tersedia, dengan harga standar hari raya. Namun baru di awal ramadhan, yang tersedia hanya kelas bisnis. Wahh, kita tunggu beberapa hari berharap ada tambahan penerbangan.

Namun ketika di cek penerbangan ke Padang hanya tinggal penerbangan connecting via KL atau Singapore. Mulai dag dig dug. Ayah dan Ibu coba ganti arah lewat Pekanbaru. Alhamdulillah masih banyak pilihannya dan harganya masih wajar. Tapi masih menimbang nimbang terkait transport PKU-PYK. Baru di tinggal sekejap :D, Tiket pesawat yang di target habis. Satu satunya pilihan adalah via KL atau SG.

Keputusan pun diambil cepat. Sayang sekali jika melewatii momentum mudik. 

Dari semalam Ibu sudah mengecek semua syarat yang dibutuhkan untuk percepatan passport. Hari ini Nadhira dan Rania juga ijin sekolah. Ibu ijin masuk agak siang ke kantor. Fotokopi semua persyaratan, Beli Pena, materai, ambil beberapa berkas di SDB lalu ke imigrasi kelas 1. Untung saja teman ibu mengingatkan kalau kantor imigrasi kelas I per 1 Januari sudah pindah ke daerah Ngaliyan. Perjalanan ke Ngaliyan luar biasa, di kelilingi truk. Saat pulang pergi ada saja truk yang mongok.

Singkat cerita, sampai di imigrasi jam 10.15 which is telat 15 menit dari batas waktu untuk pengajuan percepatan passport. Alhamdulillah petugasnya masih bisa menerima aplikasi. Imigrasipun layanannya sudah sangat cepat, ramah dan helpful. Sedari datang satpam langsung diantar ke petugas. Ada yang kurang fotokopi, ada layanan fotokopi gratis. Lupa materai, tinggal beli di konter yang jual materai. Sat set, di panggil wawancara, berfoto, bayar. Selesai..tunggu jam 13.30 Alhamdulillah passport jadi. Tidak sedikitpun mendapat kesulitan dari petugas imigrasi. Mulai dari satpam sampai petugas di pengambilan passport. Bahkan isi form pun di bantuin hehehe. Mungkin karena percepatan. Jam 11 sudah closed untuk pembayarannya.

Alhamdulillah alhamdulillah...passport jadi. Passport pertama karna mudik dan ingin bertemu keluarga besar. Semoga passport berikutnya mengantar Nadhira dan Rania menuntut ilmu keluar negeri nak. Melihat ciptaan Allah swt di bumi lain. Menjadi lebih paham ilmu dan menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Karena di negeri yang jauh dari kerabat kolega untuk minta bantuan menjadikan AllahSwt  satu satunya tempat bergantung. Nak, di luar negeri juga ayah ibu bisa Haji, diluar negeri juga ibu bertemu bayak majelis ilmu Kajuit, diluar negeri juga ibu merasa sholat begitu khusuk, alquran khatam berikut terjemahannya, puasa walaupun 19 jam begitu khusuk, diluar Negri bisa hidup sehat, berjalan kaki, bersepeda. Menjadi journey yang membahagiakan dalam hidup ibu. Ibu selalu berdoa, kelak, Nadhira dan Rania juga punya journey belajar di LN yang jauh lebih baik dari ibu.



Semarang, 9 Maret 2026
19 Ramadhan



Sedang menunggu waktu berbuka, di resto Payakumbuh bersama Rania dan Nadhira. Setelah seharian kita bergulat dengan passport