Tanggal 6 Oktober 2018 kemaren, saya ikut menghadiri international conference suami di Paris. Konferens ini memang sedikit mendadak, lebih kurang tiga minggu setelah pulang haji. Singkat cerita, selesai perjalanan haji tanggal 16 September, dua hari setelahnya pada tanggal 18 September suami langsung pulang ke Indonesia.
Berhubung dana untuk international
conference masih bisa di gunakan sampai akhir bulan Oktober, timbul lah ide
untuk ikut international conference di Eropa. Apalagi suami sudah punya
Verblijf (Resident permit) yang memungkinkan beliau untuk masuk Uni Eropa tanpa
visa Schengen. Sehingga sangat memungkinkan sekali untuk menghadiri conference
ini dengan persiapan yang singkat. Apalagi panitia penyelanggara cukup
flexible, abstrak masih bisa diterima dua minggu sebelum hari konferens.
Tanggal 4 Oktober 2107, suami menuju paris
dengan menggunakan Thai Air ways. Sampai jam 7 pagi di Bandara Charles De
Gaulle, pukul 7 pagi ke esokan hari nya. Saya yang waktu itu masih menunggu revisi
thesis dari dosen, akhirnya memutuskan untuk menyusul ke Paris. Padahal waktu saya sedang tidak enak badan,
apalagi di Belanda lagi thunderstorm yang bikin malas sekali beraktifitas. Tapi
sungguh, saya tidak begitu tertarik ke Paris kalau bukan karna acara konferens
suami. Walaupun kata orang Eiffel itu
Icon Eropa sama halnya dengan Big Ben London, tapi bagi saya pemanadangan
peternakan Belanda yang hijau tetap lebih menarik hehe.
Karna waktu, kemudahan transportasi, akhirnya
saya putuskan nail Thalys. Thalys merupakan kereta cepat Belanda-Paris dengan
hanya menempuh waktu 3 jam. Prosedurnya pun seperti naik kereta biasa. Hanya
saja pemesanan tiket hanya bisa dilakukan online atau melalui penjualan tiket
di Schipol. Tapi tenang, pemesanan tiket Thalys ini sangat gampang sekali, saya
saja baru pesan tiket di atas kereta perjalanan dar Groningen Ke Schipol. Tiket
juga tidak perlu di print, cukup di bukan dengan menggunakan App Ns
International. Sama halnya ketika beli group tiket yang seharga 7 Euro, tidak
perlu di print lagi, cukup di tunjukan ke petugas pemerikasaan tiket melalui
App Reisplanner.
Harga tiket Thalys yang saya dapat saat itu
adalah 135 Euro. Harga tiket Thalys termurah jika pemesanan sebulan sebelumya
bisa sekitar 70 euro, kalau saya pesan bulan ini untuk keberangkatan Desember
malah ada yang 35 Euro. Tapi untuk keberagkatan dadakan, tiket normal seharga
135 Euro untuk kelas dua dan 204 euro untuk kelas satu. Harga tiket Thays dan
peswat hampir sama loo, hehe. Tapi kalau di suruh memilih naik peswat atau
kereta, saya akan pilih kereta. Berangkat denga peswat itu bagi saya menengakan
haha. Di udaranya si Cuma 1 jam, tapi persiapannya bisa tiga jam sebelum.
Apalagi bandara Schipol yang sebesar besar itu, beuhh..saya mending naik
kereta. Jadi keingat waktu saya ke Turkey, nyaris telat..haha..karna saya dapat
gate 50-an. Saya pikir gatenya itu dekat banget, ternyata..mungkin ada 30 menit
saya lari lo..lari.,kebayangkan kalau jalan santai.
Thalys dari Belanda berhenti di stasiun Paris
Nord atau Gare du Nord sekita jam 10.30 malam. Sampai di sana, Uda ternyata
sudah stanby di stasiun, kita langsung menuju hotel pertama beliau nginap yang
lokasinya lebih dekat dengan Cite Universitaire de Paris tempat konferens
berlangsung.
Hotel di Paris memang mahal mahal hehe. Tapi
kalau masalah makan sama dengan Belanda. Saya tidak tahu si si Uda dapat hotel
harga berapa, tapi waktu saya cek di booking.com untuk mencari hotel berikutnya
agar kebih dekar city center, paling tidak harganya 100 euro-an. Dan itu kamarnya
kecilll banget.
Hotel Pertama yang kita tempati, alhamdulillah
masih ada cerek listrik, ada microwave, ada kompor, Toiletris juga cukup
lengkap. Hotel malam ke dua dan ketiga, lebih dekat dengan lokasi wisata, kira
kira 1,7 km ke Menara Eiffel dan 650 ke Ach de Triompt. Toiletris
secukupnya..hehe. Gk ada cerek listrik, kopi, dst. Hotelnya minimalis tapi
bersih. Kalau ingin air panas bisa di minta ke resepsionis.
Menara
Eiffel
Setelah conference selesai tanggal 6 Sore, kita sempat foto foto dulu di complex Cite universitaire de Paris. Setelah itu kita pindah ke hotel berikutnya. Rencananya malam itu berencana langsung jalan, tapi capeknya luar biasa. Esoknya setelah sholat subuh dari pada bingung, kita putuskan jalan jalan saja ke Eiffel dari pada tiduran lagi. Tapi sepertinya keputusan meihat Eiffel di subuh hari adalah keputusan yang tepat, hehehe..karna sepi..puass sekali ambil foto. Foto Menara Eiffel yang di ambil subuh haripun terkesan dramatis di kombinasikan dengan sunrise dan langit yang kemerah merahan. Sayangnya kalau foto ada objeknya terlihat siluet, tapi keren looo.
Kalau di bandingkan dengan malam hari,
sekalipun ada Eiffel light show, tetapi tetap foto subuh hari foto yang bagusss.
Malam hari fotonya di dominasi dengan kepala-kepala orang hahaha. Untungnya
sih, wajah kita yang di foto lebih jelas.
Di area Menara Eiffel, akan banyak sekali
dijumpai penjaja oleh oleh yang berkulit hitam. Mereka pada umumnya muslim dari
Afrika. Kebetulan yang saya beli subuh itu oleh oleh di jual muslim Sinegal.
Saya beli awalnya karna iba, tepatnya
salut sama usaha dia. Orang ini pasti menghadang dingin subuh subuh subuh untuk
berjualan ini. Entah dari paris bagian mana dia datang, yang jelas total
belanja saya saat iru 20 Euro dengan rincian apan magnetig dapat 4 untuk 10 Euro,
mainan kuci 5 dan figura menara effel ukuran besar seharga 5 Euro. Ternyata,
harga yang saya beli murah banget di banding di jual di toko-toko oleh oleh. Di salah satu toko oleh oleh saya bandingkan,
satu buah magnetic kulkas di hargai 4 Euro, tapi ini 10 euro dapat 4.
Ach the Triomp
Puas berfoto didepan Menara Eiffel, tujuan
berikutnya adalah Ach the Triomp. Monumen ini lebih dekat dari hotel kami, Kita
kira 650. Sepanjang jalan Charless de Gaulle, akan kita temui pusat
perbelanjaan. Salah satu yang saya temui Lois Vuitton, Dior, dan beberapa merek
terkenal lainnya. Kami hanya jalan jalan
santai sambil mencari Grand Palais. Tidak masuk, hanya berfoto di
depannya. Dalam perjalanan kami sempat
singgah ke showroom Renault. Konsep nya
lucu deh, yaitu showroom plus restaurant. Showroom nya juga bukan show room
seperti kebanyakan showroom di Indo tapi
juga menjual beberapa merchandise dan ada beberapa spot di desain bagus sekali
untuk photoshoot.
Setelah dari Showroom Renault, kami tetap lurus
jalan mencari bangunan historical berikutnya. Entah apa namanya gedungnya, yang
penting ada monument seperti monuen garuda. Tidak jauh dari munumen ini akan
ditemukan jembatan dengan nama Alexandre Porto, dari sini kita bisa melihat
Menara Eiffel.
Sebenarnya tempat iconic di Paris, gampang banget ditemui dan pasti orang tahu. Seperti museum de louvre. Saya kesini juga si tapi gk masuk hahaha..numpang foto doang di depannya.
Namun dari semua itu, yang paling berkesan di Paris adalah rotinya :D. Mungkin karena kedai kopinya udah buka pagi2 sekali, jadi buat kami berkesan aja ngopi saat langit masih gelap dan udara dingin (karena di bulan oktober). Beda banget sama belanda, dimana toko-toko umumnnya bukan jam 9. Entah kenapa kl ingat paris, si pak su ingatnya ya ngopi subuh2 itu :D.
Rasanya 2 hari mengunjungi ibu kota prancis cukup. Namun kalau mau berkesan, buat saya berkunujungnya ke pedesaan paris :D seperti Colmar, Strasbourgh, dll yang bentuk desanya mirip negeri dongeng. Selama di Belanda, desa-desa kecil itu yang belum saya tamatkan. Semoga ada kesempata untuk kembali
Groningen
Oktober 2018