Thesis Defence!

Pada tanggal 29 Mei 2018, saya mendapat email invitation untuk thesis defence yang akan diadakan pada tanggal 31 Mei 2018. Dua minggu ini memang menjadi hari-hari yang menegangkan buat saya. Karena tiket pulang sudah di issued oleh bagian international Desk pada tanggal 1 juni. Bukan berarti ini tanggal saklek, bisa di undur namun saya harus melapor ke Stuned dan ke Mrs. Petra yang orangnya sangat saklek dan "Belanda" banget kalau bicara alias direct hehe. Jangan sampai bicara bertele tele sama beliau hihi.

Jadilah seketika mendapat email tersebut saya menyiapkan bahan presentasi, baju formal yang akan di pakai besok, mental baja untuk menjawab pertanyaan dan segala obat jaga-jaga buat kaki saya. Kenapa kaki? Jadi ceritanya seminggu sebelumnya saya terpleset dari tangga. Kedua pergelangan kaki saya cedera. Sakitnya saat jatuh luarrr biasa. Sampai gk bisa berdiri beberapa menit dan kaki hilang rasa. Belum pernah merasakan sakit sehebat itu rasanya. Saya terduduk tidak bisa angkat kaki, kemudian manggil teman.

"Sofa..sofa, boleh minta tolong?
" ya Allah mba Diiiiiiii"

Pastinya Sofa kaget banget melihat kondisi saya yang menahan sakit saat itu
Lalu kemudian Sofa membantu berdiri. Suami Sofa, Yudhi langsung gerak cepat ngirim info di grup untuk pinjam segala jenis balsem dan apa itu namanya...pengikat kaki buat keseleo..hehehe. Masyaallah sekali kekeluargaannya dan pedulinya. Kajuit dan teman-teman yang tergabung di Rumah Tahfiz Kajuit, udah benar benar kayak keluargaaaa. Ketemuan sekali seminggu adalah jadwal yang kita tunggu-tungu.

Sampai balik ke Indonesia, kaki masih cedera. Sudah di ronsen, alhamdulillah tulang dan persedian tidak masalah namun cedera otot. Namun cedera oto tersebut penyembuhanya hampir 3 bulan lebih. Baru setelah itu saya bisa berjalan normal.

Jadi kebayangkan itu kaki kayak apa seminggu pasca jatuh? Hihi, yang jelas 3 hari pertama bengkak memar.

Saat defence saya minta ijin untuk tidak berdiri lama. Saat sesi menjawab pertanyaan saya minta ijin duduk. Kedua penguji saya itupun menyampaikan rasa simpati, apalagi pas melihat saya jalan dan turun tangga. Duh, salah dikit tekukan kakinya rasanya nyesss.

Defence berlangsung 1 jam. Pertanyaan yang saya dapatkan lebih banyak sekitar metodologi. Metode memang hal yang sangat penting. Salah memilih metode, bisa membuat kesimpulan tidak relevan. Pastinyalah saya di dadar habis habisan dengan metode. Apalagi saya pakai triangulation. Metode pengumpulan datanya 3 jenis: Wawancara, kuesioner dan arsip perusahaan.

Satu lagi ya bagian yang di dadar yaitu rekomendasi. Jangan main main lo sama part ini. Saya kira thesis cukup all out sampai kesimpulan aja. Untuk rekomendasi, tinggal menghias kata. Padahal rekomendasi adalah hasil nyata dari penelitian yang dilakukan sampai babak belur. Buat apa melakukan penelitian jika peneliti tidak bisa memberikan rekomendasi yang tegas agar ada improviasi dari bisnis proses yang belum efektif. Saya pernah nanya iseng ke assessor dan pembimbing saya..kalau saya memberi rekomendasi begitu...saya sebagai peneliti kok rasa kayak sok tahu..(kira kira begitulah bahasanya)

Lalu dosen saya menjawab, penelitian ini kamu yang buat dan terjun langsung kan diani?Kamu harus lebih percaya diri dengan apa yang kamu rekomendasikan. Karna yang lebih tahu penelitian ini adalah kamu. Kamu yang terjun langsung. Kamu yang tahu detail situasinya. Kenapa kamu malu malu mengungkapkan ide kamu?

Pokoknya mah kalau jadi student, pertama harus banyak baca buku buat menangkis pertanyaan dosen. Kedua, jangan malu malu atau jaga perasaan ketika mengeluarkan pendapat. Ketiga, sampaikan inti kalimat dahulu, jangan berputat putar dulu..hihihi.

Saya pernah menyodorkan rekomendasi hasil penelitian yang masih mentah ke dosen. Rata-rata komentarnya...ini fake diani..ini fake. Maksud fake disini adalah basa basi. Biasa la ya.. kita kalau ingin menyampaikan sesuatu kalimat opening nya panjang banget. At the end, rekomendasinya hanya seputar kata kata "sebaiknya.." , "Mendukung..." tanpa tahapan yang nyata.Sampaikanlah dengan tegas, rinci, lagsung..

Alhamdulillah setelah sejam Assessor minta ijin untuk diskusi. Pasca break saya dinyatakan lulus. Congratulation!! kalimat yang membuat lega sekali.  Masih tebayang perjuangan mengumpulkan datanya: di reject berkali kali, ban sepeda bocor, HP hilang saat sudah bikin janji  dengan responden hingga keluar rumah jam 5 pagi di musim dingin- naik sepeda saat suhu minus karena bus belum beroperasi untuk mengejar kereta paling pagi ke Enschede dan Delft. Perpaduan lega, sedih meninggalkan akan Belanda dan rindu dengan keluarga jadi campur aduk.
Jakarta, 16 June 2019