Makanan awal yang saya bisa identifikasi "halal" sewaktu awal awal di Belanda adalah Kebab. Tentu saja modal memastikan halalnya hanya dengan nanya keteman dan nanya ke penjual langsung. Memang rata rata yang menjual orang orang Turki muslim. Penikmatnya banyak orang Belanda juga. Karna kebab itu termasuk jajanan terjangkau untuk orang Belanda dengan ukuran yang besar, dagingnya dan sayurnya gk pelit.
Namun untuk pelajar kayak saya, makan kebab tiap hari bisa bokek hihihi dan saya meyakini bawa bekal sendiri dari rumah jauh lebih sehat dan bisa menghemat waktu buat mikir "makan siang di mana yaa"hihi..tapi kalau udah bawa bekal, apa yang ada aja di makan.
Biasanya makanan kebab, steak iga babilon (halal juga) adalah makanan reward yang kasih kalau mencapai target tertentu. Misal habis exam, pusing habis baca jurnal.
Dulu saya tidak pernah benar benar tahu kebab itu apa soalnya di Indonesia banyak versinya😁. Suatu hari saya dan suami punya kesempatan untuk pesiar ke Istanbul Turki (Waktu saya masih sekolah). Tentu saja makanan yang paling incar adalah kebab. Tebakan saya di negara asal, pastinya lebih enak dan lebih murah.
Selama di Turki, saya hanya mengeksplore satu kota saja yaitu Istanbul. Ke Blue Mosque, Hagya Sophia, Selat Bosporus dan Oldtown Sultan Ahmed. Sepanjang jalan memang banyak di temukan penjual kebab.
Tahu gk apa yang saya notice pertama? Kenapa harganya mahal ya..haha (jiwa emak emak, senang komparasi harga). Saya kurs kan harganya sekitar 75 rb rupiah itupun daging ayam, kalau sapi pasti lebih mahal. Padahal harga kebab di Belanda saja mulai dari 5 sd 6 euro, bahkan ada yang 4 Euro saya temukan yaitu di stasiun Lelystad hihi. Artinya secara harga tidak jauh berbeda. Saya kira bakal murah 50 persen. Seperti harga tempe di Belanda yang sepotongnya 30-an ribu, di Indonesia paling 5000 hihi.
Hal kedua yang saya notice adalah ukurannya. Kebetulan kegemaran saya durum. Durum di Belanda ukurannya lebih besar, durumnya gendut dan menggemaskan lah pokoknya. Tapi ini ukuranya lebih kecil. Mmm..saya mikir, kali..karna ini kawasan wisata ya..harganya harga turis. Alhasil, selama 4 hari di istanbul, saya hanya satu kali makam kebab haha.
Lama tidak makan Kebab setelah balik ke Indonesia, ketika umroh akhir ramadhan kemaren sayapun memilih kebab ketika di Mekah. Ada rumah makan Turki, tapi kebab yang di jual umumnya kebab ayam dan tidak ada alat tempat daging kebab di iris-iris. Pas saya beli,..rasanya kurang sesuai harapan.
Saya pernah dengar dari penjual Kebab langganan saya di Groningen, kalau daging kebab mereka import dari Jerman. Jerman memang banyak sekali orang Turki. Ada sejarah nya ini, bisa googling. Singkatnya pasca perang dunia ke dua, Jerman kekurangan tenaga kerja. Sehingga banyak di datangkan guest worker dari negara lain salah satunya Turki. Saya salut sama diaspora Turki di Eropa, karna mereka bisa survive dan membaur namun tetap dengan identitas mereka sebagai muslim.Banyak masjid bagus di Eropa di dirikam di Eropa dari komunitas Turki. Salah satunya masjid Cami' yang ada di Utrecht, yang masjidnya wangii banget dan karpet biru khas warna Turkinya empuk banget😁.
Kembali ke cerita Kebab ya,
Beberapa hari yang lalu teman saya nawarin pesan kebab lewat go food. Pastinya saya sudah under estimate. Namun ketika tahu namanya Berlin Doner. Wow, harusnya kelezatannya seperi kebab di Jerman. Pemiliknya pasti tahu banget kalau kebab Jerman itu enak sehingga dikasih nama Belin. Kalau ndak , kan pemiliknya bisa pakai nama lain atau pakai nama khas Turki untuk mempertegas kalau resep kebabnya ori dari Turki. Singkat kata, akhirnya saya pesan Durum. Lagi lagi, pilihannya gk ada daging tapi ayam. Bisa di tebak si, kalau daging di Indonesia harga bisa ratusan ribu. Atau bisa di buat harga murah tapi ukuran mini, sebesar lepat pisang..hihi.
Lalu rasanya bagaimana? Rasanya jauh lebih baik dari kebab lain yang pernah saya coba di Indonesia. Tapi tetap di bawah rasa kebab yang pernah saya makan di Belanda..hihi. Lagi-lagi kebab Hasret yang di Groningen Juara. Mulai dari rasa daging yang udah berbumbu, kombinasi sayur dan sausnya. Saking besarnya, saya kalau makan kebab berdua. Atau kalau siang udah makan kebab, malam gk perlu makan berat lagi.
In syaa Allah nanti, kalau bisa jalan jalan ke Belanda, Durum dan Iga Bakar Babilon adalah makanan pertama kali yang saya incar atau mungkin saya bawa ke Indonesia :D. Orang Turki yang jual kebab di Belanda dan Jerman terlihat benar benar serius mengelola bisnis kebab ini. Dari segi pelayanan, peralatan yang digunakan, kualitas rasa dan ukuran.
Jakarta, 16 june 2019
Namun untuk pelajar kayak saya, makan kebab tiap hari bisa bokek hihihi dan saya meyakini bawa bekal sendiri dari rumah jauh lebih sehat dan bisa menghemat waktu buat mikir "makan siang di mana yaa"hihi..tapi kalau udah bawa bekal, apa yang ada aja di makan.
Biasanya makanan kebab, steak iga babilon (halal juga) adalah makanan reward yang kasih kalau mencapai target tertentu. Misal habis exam, pusing habis baca jurnal.
Dulu saya tidak pernah benar benar tahu kebab itu apa soalnya di Indonesia banyak versinya😁. Suatu hari saya dan suami punya kesempatan untuk pesiar ke Istanbul Turki (Waktu saya masih sekolah). Tentu saja makanan yang paling incar adalah kebab. Tebakan saya di negara asal, pastinya lebih enak dan lebih murah.
Selama di Turki, saya hanya mengeksplore satu kota saja yaitu Istanbul. Ke Blue Mosque, Hagya Sophia, Selat Bosporus dan Oldtown Sultan Ahmed. Sepanjang jalan memang banyak di temukan penjual kebab.
Tahu gk apa yang saya notice pertama? Kenapa harganya mahal ya..haha (jiwa emak emak, senang komparasi harga). Saya kurs kan harganya sekitar 75 rb rupiah itupun daging ayam, kalau sapi pasti lebih mahal. Padahal harga kebab di Belanda saja mulai dari 5 sd 6 euro, bahkan ada yang 4 Euro saya temukan yaitu di stasiun Lelystad hihi. Artinya secara harga tidak jauh berbeda. Saya kira bakal murah 50 persen. Seperti harga tempe di Belanda yang sepotongnya 30-an ribu, di Indonesia paling 5000 hihi.
Hal kedua yang saya notice adalah ukurannya. Kebetulan kegemaran saya durum. Durum di Belanda ukurannya lebih besar, durumnya gendut dan menggemaskan lah pokoknya. Tapi ini ukuranya lebih kecil. Mmm..saya mikir, kali..karna ini kawasan wisata ya..harganya harga turis. Alhasil, selama 4 hari di istanbul, saya hanya satu kali makam kebab haha.
Lama tidak makan Kebab setelah balik ke Indonesia, ketika umroh akhir ramadhan kemaren sayapun memilih kebab ketika di Mekah. Ada rumah makan Turki, tapi kebab yang di jual umumnya kebab ayam dan tidak ada alat tempat daging kebab di iris-iris. Pas saya beli,..rasanya kurang sesuai harapan.
Saya pernah dengar dari penjual Kebab langganan saya di Groningen, kalau daging kebab mereka import dari Jerman. Jerman memang banyak sekali orang Turki. Ada sejarah nya ini, bisa googling. Singkatnya pasca perang dunia ke dua, Jerman kekurangan tenaga kerja. Sehingga banyak di datangkan guest worker dari negara lain salah satunya Turki. Saya salut sama diaspora Turki di Eropa, karna mereka bisa survive dan membaur namun tetap dengan identitas mereka sebagai muslim.Banyak masjid bagus di Eropa di dirikam di Eropa dari komunitas Turki. Salah satunya masjid Cami' yang ada di Utrecht, yang masjidnya wangii banget dan karpet biru khas warna Turkinya empuk banget😁.
Kembali ke cerita Kebab ya,
Beberapa hari yang lalu teman saya nawarin pesan kebab lewat go food. Pastinya saya sudah under estimate. Namun ketika tahu namanya Berlin Doner. Wow, harusnya kelezatannya seperi kebab di Jerman. Pemiliknya pasti tahu banget kalau kebab Jerman itu enak sehingga dikasih nama Belin. Kalau ndak , kan pemiliknya bisa pakai nama lain atau pakai nama khas Turki untuk mempertegas kalau resep kebabnya ori dari Turki. Singkat kata, akhirnya saya pesan Durum. Lagi lagi, pilihannya gk ada daging tapi ayam. Bisa di tebak si, kalau daging di Indonesia harga bisa ratusan ribu. Atau bisa di buat harga murah tapi ukuran mini, sebesar lepat pisang..hihi.
Lalu rasanya bagaimana? Rasanya jauh lebih baik dari kebab lain yang pernah saya coba di Indonesia. Tapi tetap di bawah rasa kebab yang pernah saya makan di Belanda..hihi. Lagi-lagi kebab Hasret yang di Groningen Juara. Mulai dari rasa daging yang udah berbumbu, kombinasi sayur dan sausnya. Saking besarnya, saya kalau makan kebab berdua. Atau kalau siang udah makan kebab, malam gk perlu makan berat lagi.
In syaa Allah nanti, kalau bisa jalan jalan ke Belanda, Durum dan Iga Bakar Babilon adalah makanan pertama kali yang saya incar atau mungkin saya bawa ke Indonesia :D. Orang Turki yang jual kebab di Belanda dan Jerman terlihat benar benar serius mengelola bisnis kebab ini. Dari segi pelayanan, peralatan yang digunakan, kualitas rasa dan ukuran.
Jakarta, 16 june 2019