[ Netherlands Story ] Heavy Snow, Red Warning !!!






Setelah melihat salju pertama yang turun di tahun ini tanggal 8 Des kemaren, esok hari harinya ketika ke Enschede saya jadi terkaget taget..hehe..wew hujan salju lebat (Subhanallah). Padahal ketika berangkat dari Groningen, saya kepedean gk bawa persiapan apa apa seperti payung, topi dan sepatu boot karna pendapat sebagian orang bahwa kalau Groningen gk salju di Belanda bagian lain juga gk akan salju. Karna Groningen ini paling utara dan riwayat dari tahun ke tahun Groningen saljunya lebih tebal dibanding tempat lain yang lebih ke tengah atau ke selatan. 

Tanggal 9 Dec kemaren, saya menghadiri undangan Mba kamia. Silaturahim dengan beberapa teman yang berangkat haji bersama di tahun ini. Alhamdulillah, tahun ini saya di beri Allah kesempatan berangkat haji dari Belanda. Mba Kamia tinggal di Enschede, Belanda bagian tengah yang berbatas 4 km ke Jerman. Singkat cerita, sepanjang perjalanan ternyata heavy snow. Saya takjub lo takjub hehehe..segala sesuatu yang berhubungan dengan alam bagi saya menarik. Seperti musim gugur, winter, musim semi, sesuatu yang belum pernah saya lihat karna terlahir dan besar di negara tropis.

Berkesan sekali buat saya perjalanan ke Enschede kemaren sambil melihat salju yang turun dari balik jendela kereta #eaaa. Sampai stasiun hujan saljunya semakin besar. Walaupun ini tahun ke-2 saya di Belanda, tapi seingat saya salju tahun kemaren tidak sehebat tahun ini. Bahkan suatu pagi setelah subuhan tahun lalu, saya tidak ngeh kalau malam itu akan turun salju. Pas buka jendela...waahh..putih semua. Dalam hati saya, apakah ini salju? apakah ini salju? Apakah ini Salju? sambil saya pegang pegang hahaha..(saya si gk apa-apa di bilang norak untuk hal yang begini. Jaim-jaim rugi, nanti balik ke Indo salju begini akan ngangenin haha)

Saya pertama kali melihat salju waktu di Jepang, dalam perjalanan ke sky resort di Hida Kanayama (mudah-mudahan gk salah spelling). Tapi kali ini lebih wow, karna sore hari saat pulang ke rumah saya masih melihat jalanan masih normal dan taman dekat rumah yang jadi favorit saya untuk duduk sejenak dan ngasih makan itik-itik di kolam kondisinya juga normal. Jadi ketika bagun pagi, melihat semuanya putihhhh se putih putihnya..mmm..no words, Allah menurunkan es yang sangat halus dari langitNya. Siapa yang gk kaget coba. Apalagi kan saju kalo turunnya gk gladak gluduk. Tapi ada juga salju turun bercampur bongkahan es dan air hujan, sehingga kita bisa dengar..oh lagi hujan karna kedengaran ada suara dari genteng dan pasti lihat ke jendela.  Sepertinya, salju yang pertama kali saya lihat tahun itu turun murni hanya salju karna tidak terdengar air/es yang turun ke genteng karna salju tekstur nya lembut. Wajar juga kan kaget ketika buka teras ada tumpukan es kira kira se tinggi 10 cm.

Ok, kembali ke topik. Jadi dalam perjalanan ke Enschede saya telat sampai di tempat mba Kamia. Ternyata beberapa teman telat karna storing. Alhamdulillah dari Groningen lancar. Saya telat, karna hujan saljunya terlalu kencang dan angin. Sehingga jalan sedikit menerobos hujan salju saja jaket saya langsung putih putih. Saya juga tidak akan bisa jalan kencang-kencang apalagi lari karna salju kalau di injak licin. Akhirnya, saya isi waktu dengan menikmati salju yan turun dari jendela stasiun dan halte bus dan mengabadikan beberapa moment.

Enschede, 8 December 2017

Malam hari saya kembali ke Groningen, setelah kekenyangan haha. Mba kamia membuat hidangan BBQ. Tapi simple dan bisa jadi ide buat menjamu tamu. Alat BBQ nya hanya di meja makan, gk perlu di taman terbuka. Pakai alat BBQ kecil. Jadi sambil dagingnya matang, sambil ngobrol. Bisa juga ya, kalau konsep makanannya di ganti dengan shabu shabu atau steam boat ala ala jepang korea hehehe. Buat yang belum pengalaman banget menjamu tamu kayak saya, ini bisa jadi ide hehe.

Sampai jam 8 malam di Groningen pun, saya tidak melihat sisa salju sedikitpun. Sepertinya daerah bagian tengah Belanda lebih dulu bersalju di banding utara tahun ini. Tapi kemudian saya mendapat info kalau besok red warning untuk hujan salju, hampir seluruh Belanda. Ternyata benar-benar red warning. Mulai dari jam 12 siang sampai lusanya. Waktu salju jam 12 siang itu saya masih sempat naik sepeda ke stasiun. Kenapa coba? hehehe..saya lupa check in ketika turun dari kereta.  Saya pikir mungkin check in sekarang masih bisa (karna masih hari minggu) karna kartu kereta saya berlangganan gratis akhir pekan (Weekend Vrij). Alhamdulillah bisa check in, mudah-mudahan gk apa-apa. Karna kalau lupa check in kena denda dan kalau 3 kali lupa check in kartu kita akan di blok. Sampai di rumah sayapun langsung mendaftarkan paket NS Extra untuk alarm kalau lupa check in.

Pulang dari stasiun saya pulang menghadang salju naik salju, waaahh dingin sekali. Tapi feeling of fantastic. Sampai saya dalam hati gk berhenti henti berucap "Allah, Indah sekali salju yang engkau" hehe. Buat orang tropis kayak saya memang indah. Apalagi malamnya masih salju lebat. Tirai jendela kamar saya buka lebar sehingga pool melihat salju yang turun. Beautiful! dikombinasikan dengan secangkir kopi panas dan JURNAL! hehe. Kombinasi salju dan kopi nya si pas. Tapi kalau dengan Jurnal?haha, bukannya lebih cocok di padupadankan dengan buku-buku kontemporer. Bagi-bagi saya si Indah-indah saja wkwkw apalagi kalau submit thesis sudah mendekati deadline, terasa indaah banget haha.

Esok paginya adalah hari Senin dan red warning masih berlangsung. Biasanya Senin itu saya kondisikan untuk menggarap thesis dengan fokus tinggi lagi. Benar-benar jam kerjanya buat "thesis". Tapi karna kemaren salju besar, saya alokasikan waktu..pagi ini saya mau main-main..hehehe. Saya mau mulai belajar nanti siang aja. Saya mau photo session haha di dekat pohon berbaris. Jalur sepeda saya lalui kalau ke kampus. Ternyata alhamdulillah, pilihan saya gk salah. Pemandangan yang saya dapat benar-benar seperti sureal!Saya gurantee, kamera saya gk bisa mewakili keindahan yang saya lihat saat itu. Apalagi video, karna kamera yang saya pakai untuk low light hasil videonya menurut saya kurang maximal. Tapi untuk pencahayaan yang normal, hasilnya videonya sangat bagus.



Saya pikir, saya mungkin terlihat sangat nyentrik: berhijab, bawa kamera dan tripod kecil. Tripod yang saya beli ini memang lebih kecil dari pada tripod saya yang hilang dari bagasi sepeda hehe. Walaupun saya sedih tripod itu diambil orang tapi saya senang menemukan tripod yang kecil, ringan dan kalau dilipat bisa muat ransel saya. Ukurannya besar sedikit dari payung lipat lah, kalau di buka tingginya lebih kurang 1,5 meter. Tapi saya semakin cuek, karna ada yang lebih awkward dari saya. Ngapain coba? Jogging di jalan yang bersalju..wkwk. Malah ada yang jumpa, salju lagi turun-turunya tetap jogging hehehe. Selama saya mengambil foto foto terseuby ada sekitar 3 orang ngajak saya ngobrol. Ada ibu ibu yang baru ngantar anaknya ke sekolah, kemudian ngajak saya ngobrol dan ngajak saya minum kopi..hehe tapi saya tolak dengan halus. Ada juga seorang bapak yang dia sendiri orang Belanda dan sudah lama tinggal di daerah itu tapi masih terkesima melihat salju yang menutupi pohon-pohon berbaris dan cerita dulu waktu saya kecil sungai ini area main ice skating saya kalau winter. Karena mereka excited melihat saya menfoto tumpukan salju di pohon-pohon, loteng, kicir angin..ahh saya semakin cuek aja photo dengan macam-macam gaya haha.

Sore hari, saya penasaran melihat kondisi jalan terkini. Lalu saya pakai coat, jas hujan dan payung jalan kaki menelusuri jalan yang biasa saya lewati kalau ke Centrum. Niatnya si hanya sampai sebuah sekolahan. Tapi karna ramai saya jalan terus. Dan sepanjang jalan saya melihat banyak anak-anak bermain selucuran dan lemparan-leparan salju. Sampai tidak saya sadari saya berjalan lebih kurang saya berjalan 3 km. Pulang-pergi berati 6 km hihihi. Saya kira jalan-jalan akan menyeramkan karna orang-orang akan tetap di rumah dan karna jalur tersebut adalah sepeda, saya kira pasti sepiii banget. Ternyata banyak sekali yang masih bersepeda ditengah hujan salju dan gelap dan beberapa jalan kaki. Sepertinya karna bus tidak beroperasi normal sehingga jalan kaki dan bersepeda menjadi pilihan.

Mungkin tidak semua orang mau melakukan hal seperti saya. Berfoto disalju yang tebal dan dingin atau berjalan pakai payung ketika salju lagi lebat-lebatnya. Mungkin ada yang bilang, ish ngapain, cari gara-gara, sakit, tergelincir. Tapi jujur saya merasa bersyukur melakukan challenge tersebut karna buka fenomena yang ditemukan tiap hari. Tentu, keluar rumah baca doĆ” dulu. Dan sepanjang jalan niatkan berzikir. Saya memang penyuka alam. Kalau di suruh pilih jalan-jalan antara Paris dan Norwegia Saya akan pilih Norwegia sekalipun katanya paris itu ikon Eropa. Walaupun saya belum pernah ke Norwey, tapi saya suka menonton sebuah siaran di Natioanal Geographic menghadirkan scene negara-negara nordic: Lembah, sungai, perbukitan hijau dan udaranya yang adem. Mudah-mudahan sebelum pulang ada rezeki kesana.

Menyaksikan salju turun dari langit, pohon berbaris yang sering saya lewati memutiihhh kemudian melihat langit mulai gelap diganti nyala lampu di tiap rumah yang putih karna karna ditutupi salju, bagi saya  semua itu pemandangan yang cantik sekali. Saya gk mau baper-baperan melihat foto dan video yang saya ambil selama salju besar kemaren. Saya ingin ketika melihatnya beberapa tahun kemudian, yang terucap hanya rasa syukur..syukur..syukur karena diberi Allah kesempatan untuk perjalanan sejauh ini.


Groningen, 9 Dec 2017